Telaah

Tetap Tenang di Musim Hujan dengan Tujuh Zikir Ini

55
×

Tetap Tenang di Musim Hujan dengan Tujuh Zikir Ini

Sebarkan artikel ini
Foto freepik.com premium

Petir boleh menggelegar dan angin bertiup kencang, tapi hati seorang mukmin tetap teduh. Rasulullah Saw. mengajarkan tujuh doa agar hujan menjadi rahmat, bukan ketakutan.

Oleh M. Ali Misbahul Munir, Pengasuh Ma’had Nurul Qur’an (MNQ) Alqolam Sekawan, Jalan Mleto 15, Sukolilo, Surabaya.

Tagar.co – Musim hujan datang membawa bunyi yang khas: derai air yang jatuh dari langit, petir yang menggelegar, dan angin yang berembus kencang. Namun, bagi seorang mukmin, semua itu bukan alasan untuk panik atau takut.

Ia tetap tenang karena hatinya basah oleh zikir kepada Allah, lisannya sibuk menyebut nama Allah, dan keyakinannya kokoh bahwa setiap peristiwa terjadi atas izin Dzat Yang Maha Baik.

Baca juga: Puncak Dosa: Bersaksi Palsu di Pengadilan

Apa pun yang datang dari Allah pasti mengandung kebaikan. Petir, angin, hujan, bahkan mendung pekat di langit—semuanya adalah tanda kasih sayang dan kebesaran-Nya.

Di saat banyak orang resah menghadapi cuaca ekstrem, seorang mukmin justru melihatnya sebagai momentum untuk memperbanyak doa dan zikir perlindungan.

Tujuh Zikir di Musim Hujan

Berikut tujuh zikir dan doa yang diajarkan Rasulullah Saw. agar kita selalu berada dalam penjagaan Allah sejak keluar rumah hingga tiba di tempat tujuan.

1. Doa ketika Keluar Rumah

Bismillah, tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah. “Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.”

Nabi Saw. bersabda, siapa yang membaca doa ini ketika keluar rumah akan memperoleh tiga perlindungan: petunjuk (al-hidayah), kecukupan (al-kifayah), dan penjagaan (al-wiqayah). Bahkan, setan menjauh darinya (Tirmizi dan Abu Dawud).

2. Doa saat Melihat Gumpalan Awan

Allahumma inni a‘udzu bika min syarriha. “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan awan ini.”

Rasulullah Saw. senantiasa berhenti dari aktivitasnya ketika melihat awan, lalu memanjatkan doa ini (Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

3. Doa saat Melihat Hujan Turun

Allahumma shayyiban nafi‘an. “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang membawa manfaat.”

Dalam riwayat lain, beliau membaca: Allahumma shayyiban hani‘an. “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang menyegarkan.” (Bukhari; Abu Dawud; An-Nasa’i; Ibnu Majah)

4. Doa ketika Mendengar Suara Petir

Subhanalladzi yusabbihur ra‘du bihamdihi wal-malaikatu min khifatih. “Mahasuci Allah, yang petir bertasbih memuji-Nya, dan para malaikat pun bertasbih karena takut kepada-Nya.” (Al-Muwaththa’, Imam Malik)

Petir bukan sekadar suara menakutkan, melainkan tanda makhluk yang sedang bertasbih kepada Penciptanya.

5. Doa ketika Angin Bertiup Kencang

Allahumma inna nas’aluka min khairi hadzihir rih, wa khairi ma fiha, wa khairi ma umirat bih. Wa na‘udzu bika min syarri hadzihir rih, wa syarri ma fiha, wa syarri ma umirat bih.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan dari angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, dan kebaikan yang diperintahkan dengannya. Kami berlindung kepada-Mu dari keburukannya, dari apa yang dibawanya, dan dari apa yang diperintahkan dengannya.” (Tirmizi)

6. Doa ketika Volume Hujan Terlalu Tinggi

Allahumma hawalaina wa la ‘alaina. “Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, jangan di atas kami.”

Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, MA menjelaskan bahwa doa ini bersifat kontekstual. Esensinya bukan sekadar meniru redaksi Nabi, tetapi memohon agar hujan tidak menimbulkan bahaya di wilayah kita. Dalam konteks daerah pesisir atau dataran rendah, boleh dibaca:

Allahumma ‘alal bahri la ‘alaina wa la hawalaina. “Ya Allah, turunkanlah hujan di atas laut, jangan di atas kami, dan jangan pula di sekitar kami.”

7. Doa Ketika Tiba di Satu Lokasi

A‘udzu bikalimatillahit-tammati min syarri ma khalaq. “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan semua makhluk-Nya.”

Rasulullah Saw. bersabda, siapa yang membaca doa ini ketika memasuki suatu tempat, tidak akan diganggu oleh makhluk apa pun hingga ia meninggalkannya (Muslim).

Hujan Adalah Kasih Sayang

Hujan bukan hanya fenomena alam, melainkan rahmat yang menetes dari langit. Kadang disertai petir dan angin, namun di balik itu terdapat tanda kebesaran Allah dan ajakan untuk merenung: betapa kecilnya manusia di hadapan kekuasaan-Nya.

Maka ketika langit mendung, biarlah hati tetap terang dengan zikir. Ketika petir menggelegar, biarlah lidah tetap basah dengan doa. Dan ketika bumi basah oleh hujan, biarlah jiwa kita pun basah oleh rasa syukur.

Penutup Doa

Ya Rabbana, Ya Hadi, ya Rasyid, ya Muhaimin, ya Salam, ya Lathif, Ya Hafizh. Bimbinglah, jagalah, dan selamatkanlah kami semua dengan kasih sayang-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang. Wallahualam.

Surabaya, 15 Jumadilakhir 1447/Kamis, 6 November 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni