Telaah

Pujian sebagai Bonus Duniawi

32
×

Pujian sebagai Bonus Duniawi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Tidak semua pujian menjerumuskan—pada hati yang ikhlas, ia justru menjadi kabar gembira yang disegerakan oleh Allah.

Oleh M. Ali Misbahul Munir, Pengasuh Ma’had Nurul Qur’an (MNQ) Alqolam Sekawan, Jalan Mleto 15, Sukolilo, Surabaya.

Tagar.co – Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang seseorang mendapatkan pujian ketika ia melakukan kebaikan. Ada yang merasa senang, ada yang khawatir riya, ada pula yang bingung apakah pujian itu boleh diterima atau perlu dihindari. Islam memberikan panduan jernih tentang hal ini.

Baca juga: Tetap Tenang di Musim Hujan dengan Tujuh Zikir Ini

Sebenarnya, tidak mengapa menerima pujian, selama hati tetap menyadari bahwa semua kebaikan adalah karunia Allah Swt. Justru pujian itu bisa menjadi bonus duniawi—sebuah kabar gembira yang Allah tampakkan kepada hamba-Nya di dunia.

Yang penting, pujian itu tidak membuat seseorang berhenti memperbaiki diri, tidak membuatnya sombong, dan tidak memadamkan semangat untuk lebih taat kepada Allah.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis mulia yang menjelaskan hal ini:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ، وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ؟
فَقَالَ ﷺ:
(تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ)

Artinya: “Abu Dzar berkata, pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw., ‘Bagaimana pendapat engkau tentang seseorang yang melakukan kebaikan lalu orang-orang memujinya?’ Beliau menjawab, ‘Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.’” (Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa pujian atas kebaikan bukanlah sesuatu yang tercela, selama ia tidak disertai kesombongan. Ia adalah bentuk penghargaan yang Allah tampakkan di dunia, sebagai peneguhan hati bagi orang yang berbuat baik.

Tetap Rendah Hati, Tetap Berbenah

Meski pujian disebut sebagai ‘ajil busyra (kabar gembira yang disegerakan), seorang mukmin tidak boleh terlena. Ia harus tetap menjaga niat, tetap rendah hati, dan terus memperbaiki diri. Sebab, nilai ibadah seorang hamba ditentukan oleh keikhlasan—bukan oleh pandangan manusia.

Karena itu, ketika pujian datang, bisikkanlah dalam hati: “Ini semua karunia Allah, bukan karena diriku.” Dengan begitu, hati tetap selamat, dan amal tetap terjaga.

Di penghujung renungan ini, mari memohon kepada Allah agar menjaga niat dan amal kita:

:Ya Rabbana, ya Hadi, ya Rasyid, ya Muhaimin, ya Salam, ya Lathif, ya Hafizh. Bimbinglah kami, jagalah kami, dan selamatkan kami selalu. Dengan rahmat-Mu, wahai Zat yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.” Wallahualam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni