
Seorang mukmin mungkin memiliki banyak kelemahan manusiawi, tetapi ada satu sifat yang tak boleh menyertainya: dusta. Dari sabda Rasulullah, kita belajar bahwa kejujuran adalah fondasi iman.
Oleh M. Ali Misbahul Munir, Pengasuh Ma’had Nurul Qur’an (MNQ) Alqolam Sekawan, Jalan Mleto 15, Sukolilo, Surabaya.
Tagar.co – Dalam kehidupan ini, ada dua sifat yang secara hakiki mustahil bersatu: mukmin dan dusta. Keduanya berdiri di dua kutub yang saling meniadakan.
Seorang mukmin mungkin memiliki banyak kelemahan manusiawi. Ia bisa saja penakut. Ia bisa saja kikir. Namun ada satu sifat yang tidak mungkin melekat pada dirinya: dusta.
Baca juga: Pujian sebagai Bonus Duniawi
Mengapa demikian? Karena dusta tidak hanya merusak pelakunya, tetapi juga berpotensi menzalimi banyak orang. Dusta mengoyak kepercayaan, merusak tatanan sosial, dan menjerumuskan pelakunya ke dalam kehinaan moral. Na‘udzubillah.
Kebenaran ini ditegaskan langsung oleh Rasulullah Saw. dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan Imam Malik dalam Al-Muwaththa’, riwayat Yahya al-Laitsi, 2/990
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَانًا؟ قَالَ: نَعَمْ
قِيلَ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ بَخِيلًا؟ قَالَ: نَعَمْ
قِيلَ: أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ كَذَّابًا؟ قَالَ: لَا
“Pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw., “Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut?”
Beliau menjawab, “Ya.”
Lalu ditanyakan lagi, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi kikir?”
Beliau menjawab, “Ya.”
Kemudian ditanyakan lagi, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi pendusta?”Beliau menjawab, “Tidak.”
Jawaban singkat Nabi Saw. itu memuat pesan akhlak yang sangat dalam. Keimanan seseorang boleh saja belum sempurna dalam keberanian atau kedermawanan, tetapi kejujuran adalah fondasi yang tidak boleh runtuh. Jika fondasi ini roboh, maka seluruh bangunan keimanan ikut terancam runtuh.
Dusta bukan sekadar kesalahan etika; ia adalah penyakit iman. Ia menumbuhkan kemunafikan, menutup cahaya hati, dan menghilangkan keberkahan hidup. Sebaliknya, kejujuran—meski berat—selalu melahirkan ketenangan, kepercayaan, dan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Karena itu, menjaga lisan dari dusta bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga bentuk penjagaan iman.
Ya Rabbana, Ya Rabbana, Ya Rabbana. Ya Hadi, Ya Rasyid, Ya Muhaimin, Ya Salam, Ya Latif, Ya Hafiz. Senantiasa bimbing, jaga, dan selamatkan kami semua dengan rahmat-Mu, ya Arhamarrahimin. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni









