
Desa Kebontunggal naik kelas dengan revitalisasi wisata edukasi Toga berupa smart greenhouse dan promosi digital. Hadirkan inovasi, manajemen modern, serta antusiasme masyarakat.
Tagar.co — Program pengabdian masyarakat UM Surabaya pada Bumdes Gajahmada di Desa Kebontunggul, Mojokerto, membuat desa tersebut menjadi pusat perhatian. Mereka mengusung tema Revitalisasi Wisata Edukasi Toga dengan Smart Greenhouse, Manajemen Promosi dan Optimasi Tata Letak Fasilitas.
Dalam sosialisasi program pada Sabtu, 30 Agustus 2025, tim pengusul Andhika Cahyono Putra, S.T., M.T., Dr. Dina Novita, S.E., M.M., dan Reynanda Bagus W. A., S.T., M.T., menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, dan manfaat program ini. Andhika menjelaskan, program ini bagian dari Hibah Pengabdian Masyarakat Dikti 2025.
Tujuannya, kata Andhika, memperkuat peran Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) melalui inovasi teknologi, pengelolaan modern, dan strategi promosi berbasis digital. Dengan konsep ini, pihaknya optimis, Bumdes Gajahmada membangun diri sebagai ikon desa yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing tinggi
“Penerapan teknologi Smart Greenhouse akan mempermudah proses budidaya tanaman toga. Teknologi ini memungkinkan pengelola untuk memantau kondisi lingkungan secara digital, mulai dari suhu, kelembapan, hingga kebutuhan nutrisi tanaman,” ujar Andhika.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Dr. Dina menekankan pentingnya partisipasi warga sebagai kunci keberhasilan. “Keberhasilan program ini terletak pada partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan Bumdes. program ini bukan hanya tentang membangun fasilitas, tetapi juga tentang membangun kesadaran bersama untuk mengembangkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi desa,” terangnya.
Sesi diskusi berjalan hangat. Warga terlihat aktif bertanya dan memberi masukan. Antusiasme itu menunjukkan satu hal, masyarakat ingin terlibat, bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai penggerak utama.
Baca Juga: Prof. Zainuddin Maliki: Koperasi Desa Cegah Konsentrasi Modal di Tangan Segelintir Elite
Manajerial Bumdes
Setelah sosialisasi, giliran Pelatihan Manajemen Bumdes terlaksana pada Selasa, 2 September 2025. Sesi ini menjadi inti dalam membekali peserta dengan kemampuan mengelola Bumdes secara profesional. Salah satu ciri pengelolaan secara profesional yakni ada struktur organisasinya.
“Dalam pengelolaan struktur organisasi yang jelas itu bersifat penting agar pengelolaan berjalan efektif. Selain itu, prinsip dasar manajemen juga harus dipahami. Seperti perencanaan usaha, pengelolaan keuangan, hingga pengaturan tata letak fasilitas agar lebih menarik dan fungsional,“ Ujar Reynanda.
Pelatihan ini tidak berhenti pada teori. Peserta langsung berlatih melalui simulasi dan studi kasus. Suasana menjadi lebih hidup saat Dr. Dina menyampaikan strategi pengembangan bisnis berbasis wisata edukasi.
Ia mengajak peserta memikirkan cara membuat paket wisata yang mampu menarik pengunjung, sekaligus memasarkan produk olahan toga dengan cara kreatif. “Kita harus mampu menjual bukan hanya produk, tapi juga pengalaman,” ujarnya.
Antusiasme warga pun semakin tampak. Beberapa peserta mengajukan ide untuk mengemas produk toga dalam bentuk yang lebih inovatif. Ide-ide tersebut seolah menjadi bukti, pelatihan ini benar-benar menggerakkan warga untuk melihat potensi desa mereka dari sudut pandang baru.
Baca Juga: Pertemuan Bumdes Se-Kanigoro: Fokus Ketahanan Pangan dan Tata Kelola Keuangan
Optimalisasi Medsos
Menjelang sore, giliran sesi Digitalisasi Sosial Media. Di era digital saat ini, promosi online menjadi kunci untuk memperkenalkan potensi desa ke masyarakat luas. Sesi ini dengan panduan mahasiswa, Muhammad Fabian Alfarizi dan Naufal Atha Hafizha. Mereka membimbing peserta membuat akun media sosial untuk Bumdes, seperti Instagram dan Facebook.
Materi pelatihan mencakup cara membuat konten foto dan video yang menarik, menyusun caption yang persuasif, hingga memanfaatkan fitur-fitur media sosial seperti Instagram Stories dan Reels untuk memperluas jangkauan audiens. Peserta juga belajar teknik dasar pengambilan gambar agar konten terlihat profesional meskipun hanya menggunakan ponsel.
“Kalau promosi digital dikelola dengan baik, wisata edukasi toga ini bisa dikenal luas, bahkan sampai keluar daerah,” ujar Fabian sambil mendampingi peserta mencoba membuat unggahan pertama mereka. Suasana sesi ini sangat interaktif, penuh tawa, dan antusiasme karena peserta langsung mempraktikkan apa yang mereka pelajari.
Rangkaian kegiatan berakhir dengan sesi refleksi dan diskusi ringan. Para peserta menyampaikan kesan mereka terhadap pelatihan ini. Sebagian besar merasa mendapatkan wawasan baru. Terutama terkait pemanfaatan teknologi dan digitalisasi dalam pengembangan usaha desa. Harapannya, setelah kegiatan ini, Bumdes Gajahmada mampu melakukan transformasi menjadi pusat wisata edukasi berbasis teknologi yang menarik wisatawan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi antara tim pengusul, mahasiswa, dan masyarakat menjadi bukti nyata, sinergi adalah kunci dalam membangun desa yang mandiri dan berdaya saing. Dengan bekal manajemen yang kuat, strategi promosi digital, dan teknologi Smart Greenhouse, Desa Kebontunggul siap melangkah menuju masa depan yang lebih cerah. (#)
Jurnalis Andre Ridho Saputro Penyunting Sayyidah Nuriyah/MS












