Feature

Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan Ajak Sebarkan Gerakan Kebaikan

30
×

Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan Ajak Sebarkan Gerakan Kebaikan

Sebarkan artikel ini
Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan angkat isu CSR bersama TBIG karena mempunyai irisan yang sama yaitu menyebar gerakan kebaikan. Pers juga punya fungsi menginformasikan dan mengedukasi
Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Nurcholis MA Basyari (kanan) dan Chief of Business Support Officer TBIG Lie Si An saat Kick off Journalism Fellowship on Corporate Social Responsibility (CSR) 2025 Batch 2 (Tagar.co/Sugiran)

Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan angkat isu CSR bersama TBIG karena mempunyai irisan yang sama yaitu menyebar gerakan kebaikan. Pers juga punya fungsi menginformasikan dan mengedukasi

Tagar.co – Rumah Belajar TBIG (Tower Bersama Infrastructure Tbk) di Jalan Boulevard Kawasan Sudirman Kecamatan Cibodas Kota Tangerang Provinsi Banten yang luas dan sejuk menjadi tempat bertemunya 13 wartawan dari berbagai daerah di Indonesia, Jumat (29/08/2025).

Para wartawan media situs berita (siber) ini hadir di Rumah Belajar TBIG untuk mengikuti Kick off Journalism Fellowship on Corporate Social Responsibility (CSR) 2025 atau JFC 2025 Batch 2. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) dengan Tower Bersama Group (TBIG), perusahaan penyediaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia.

Baca juga: Kick off Journalism Fellowship on CSR 2025 Digelar, Media Itu Stakeholder TBG Menuju GCG

Dalam sambutannya, Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Nurcholis MA Basyari menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Chief of Business Support Officer TBIG Lie Si An.

Baca Juga:  Sukadiono Ajak PDM Kerja Keras di Sisa Periode Kepemimpinan

“Terima kasih kepada Pak Lie Si An yang punya komitmen luar biasa perhatiannya terhadap pers. Beliau menyatakan bagaimana pun pers adalah mitra strategis untuk mempublikasikan kebaikan. Di situlah kita punya irisan yang sama,” ujarnya dengan senyum mengembang.

“Terima kasih juga teman-teman yang antusias menyambut undangan kami untuk bisa menjadi peserta. Sekaligus kami ucapkan selamat kepada 13 peserta JFC 2025 Batch 2 yang telah kami pilih,” tambah Nurcholis – sapaan akrabnya.

Rekor Peserta Difabel 

Dia menjelaskan, JFC 2025 Batch 1 memecahkan rekor dengan jumlah peserta terbanyak 16 orang. Sebelumnya 4 kali pelaksanaan maksimal 15 peserta. Rekor lainnya melibatkan konten kreator dari mahasiswa, dan ada peserta dari Papua

“Sekarang kita juga mencatatkan rekor melibatkan wartawan difabel. Tepuk tangan untuk Mbak Dwi Lindawati dari Tugu Jatim ID Malang,” applaus pun bergemuruh memenuhi Rumah Belajar TBIG.

“Ini kader saya, anak didik saya, sekaligus adik asuh saya. Luar biasa semangatnya, Linda dari Malang, sampai Hotel Olive jam 03.00 WIB. Sudah sekian lama tidak ke Jakarta dan tidak yakin bisa atau tidak,” ungkapnya sambil mengajak hadirin untuk kembali memberikan tepuk tangan.

Baca Juga:  Idulfitri di Bali, Ini 11 Lokasi Salat Id Muhammadiyah Bali 20 Maret 2026

Disiplin dan Komitmen 

Dia memaparkan, GWPP mengangkat isu CSR bersama TBIG menjadi bagian pelatihan karena memiliki irisan yang sama, yaitu menyebar gerakan kebaikan. Sesuai tagline TBIG yang disampaikan Lie Si An yaitu Bersama untuk Indonesia.

“Ini harus kita gaungkan. UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers menggariskan salah satu fungsi pers adalah menginformasikan mengedukasi. Ini mengedukasi publik luas, baik masyarakat, corporate-corporate, maupun yang lainnya,” jelasnya.

“Yang menarik adalah konsepnya. TBIG dalam menjalankan empat pilar bukanlah pencitraan. Hanya untuk kepentingan publik atau masyarakat banyak. Berkaitan dengan hajat hidup orang banyak,” sambung pria berkacamata ini.

Nurcholis menegaskan, salah satu hal yang harus dipegang wartawan adalah komitmen dan disiplin. Apalagi media yang punya deadline. Deadline itu mengikat kita untuk para pembaca, pengakses, penonton, dan pendengar.

“Semoga JFC Batch 2 ini bukan yang terakhir. Mungkin formatnya juga menggarap daerah 3T. Ini karena di daerah 3T belum banyak yang mendapatkan akses pendidikan profesi yang memadai. Wartawan profesional itu paling tidak ada tiga aspek, yaitu skill, knowledge dan awareness,” harapnya. (#)

Baca Juga:  Gempa Guncang Pacitan, Magnitudo 6,4

Jurnalis Sugiran.