
Rawon Tulang buatan Suria Djatmika sempat meredup karena kehilangan tempat usaha. Kini, berkat dukungan Lazismu Sidoarjo, gerobaknya kembali mengepul di jantung kota—menghidangkan rasa dan harapan yang menyentuh hati.
Tagar.co — Pagi mulai sibuk di jantung kota Sidoarjo. Di kawasan Gedung Olahraga (GOR) dan bundaran Jalan Pahlawan, kendaraan melintas silih berganti, menandai geliat aktivitas di pusat pemerintahan kabupaten.
Di sepanjang jalan, gedung-gedung bertingkat berdiri megah: McDonald’s, Hotel Luminor, dan Kantor Pajak Pratama di satu sisi; di sisi lain berjajar kantor-kantor dinas—mulai dari Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, hingga Dinas Pertanian dan Keuangan Daerah.
Namun di antara keramaian itu, ada satu sudut yang mencuri perhatian. Tepat di teras pujasera Bakso Cak To Ponti, berdiri sebuah gerobak sederhana dengan aroma rawon yang menggoda. Gerobak itu milik Suria Djatmika (63), yang pagi itu tampak sigap melayani pelanggan bersama sang istri.
Baca juga: Dampak Program MBG: Omzet Warung Pecel Bu Sumarni Merosot, Butuh Dukungan!
Di atas meja sederhana tersusun rapi peralatan masak baru—kompor gas dua tungku, termos nasi, dan wadah plastik hasil bantuan. Di belakangnya, spanduk putih bertuliskan “Rawon Tulang & Nasi Pecel by Surya Delta — UMKM Binaan Lazismu Sidoarjo” menegaskan identitas usaha kecil yang tengah bangkit.
Tampak pula dua perempuan relawan dan seorang pria paruh baya berdiri di samping gerobak, berfoto bersama sambil membentuk huruf “L” dengan jari—lambang Lazismu yang kini menjadi simbol harapan baru bagi pelaku UMKM seperti Pak Suria.
Warung Rawon Tulang ini bukan pendatang baru. Suria bercerita, antara 2003 hingga 2015, ia pernah berjaya di area GOR. “Dulu jualan cuma dua jam, sudah habis 100 sampai 200 porsi,” kenangnya. Dengan harga Rp30.000 per porsi, ia mampu mempekerjakan enam karyawan.
Namun segalanya berubah ketika peraturan melarang aktivitas jualan di lingkungan GOR. Ia terpaksa berpindah-pindah tempat, dan pelanggan pun makin menipis. Satu per satu karyawan dilepas. Hingga akhirnya, hanya ia dan sang istri yang bertahan, menjajakan rawon tulang dengan seadanya.
Meski sempat merosot, Suria tak menyerah. Ia memilih bangkit. Setahun terakhir, ia kembali membuka warungnya di lokasi strategis dekat Bakso Cak To. Setiap pagi pukul 06.00–10.00 WIB, ia menyapa pengunjung GOR, karyawan kantor, hingga warga sekitar yang mencari sarapan bergizi. Menu andalannya: rawon tulang dengan kuah hitam pekat, daging empuk, dan sambal terasi pedas. Kelezatan yang membuat pelanggan kembali.
Namun keterbatasan modal dan peralatan menghambat laju kebangkitan itu. Kompor aus, alat makan usang, dan modal bahan baku menipis. Dalam kondisi itulah, ia mengajukan bantuan ke Lazismu Sidoarjo.
Gayung bersambut. Lazismu memberikan dukungan berupa satu paket peralatan dapur, tambahan alat saji, dan banner promosi. Semua itu kini terpasang dan digunakan di lokasi barunya. “Bantuan ini sangat membantu kami jualan lebih layak dan menarik. Semoga Allah membalas kebaikan para donatur,” ucap Suria Jumat 25 Juli 2025, dengan mata berkaca-kaca.
Semangat Suria adalah potret kecil dari perjuangan besar pelaku UMKM lokal yang tak kenal lelah. Dan program pemberdayaan Lazismu membuktikan, bahwa zakat, infak, dan sedekah bisa menjadi jalan kebangkitan ekonomi rakyat.
Mari Dukung UMKM Lokal!
Lazismu Sidoarjo mengajak masyarakat untuk terus mendukung pelaku UMKM seperti Suria Djatmika. Donasi Anda bisa menjadi harapan baru bagi mereka yang ingin bangkit dari keterpurukan.
Donasi dapat disalurkan melalui: Bank Jatim Syariah, No. Rekening: 6202215327 a.n Lazismu Sidoarjo
Konfirmasi Donasi: 0821-4004-1912. Setiap donasi, adalah harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang. (#)
Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni












