Feature

Layanan Kecil, Makna Besar: Teh Kopi Lazismu Sidoarjo di Pengajian Ahad Pagi

46
×

Layanan Kecil, Makna Besar: Teh Kopi Lazismu Sidoarjo di Pengajian Ahad Pagi

Sebarkan artikel ini
Suasana Pagi Tim Lazismu Sidoarjo menyambut jamaah dengan Teh Kopi. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Di tengah udara dingin Ahad pagi, Lazismu Sidoarjo menyuguhkan lebih dari sekadar teh dan kopi. Ia menyapa jemaah dengan kehangatan, mengalirkan dakwah lewat perhatian kecil yang tulus.

Tagar.co – Hari masih gelap. Udara pagi menyusup dingin, menggigit kulit. Ahad, 20 Juli 2025. Namun langkah kaki satu per satu mulai berdatangan di halaman Masjid An-Nur, Jalan Mojopahit 666 B, Sidoarjo—tempat berlangsungnya Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo.

Dari bapak-bapak bersarung, ibu-ibu berkerudung, hingga para anak muda berjaket hangat, mereka datang dengan semangat yang tak surut meski suhu menusuk. Dalam suasana yang beku itu, hadir kehangatan yang begitu akrab: aroma teh dan kopi panas yang mengepul dari deretan termos besar.

Di salah satu sudut masjid, sepuluh termos logam berjajar rapi, berisi teh manis, kopi hitam, dan air mineral. Semuanya disiapkan oleh tim Lazismu Sidoarjo—sebuah layanan kecil yang menyapa hangat di tengah dinginnya pagi.

Baca juga: Dari Reruntuhan Bisnis ke Harapan Baru: Perjalanan Hidup Pak Mustahid

Baca Juga:  Orientasi Amal: Cukup Rida Allah, Bukan Validasi Manusia

“Wah, enak banget pagi-pagi dingin begini langsung ada teh hangat,” ujar Hasan, salah seorang jemaah muda, sambil tersenyum memegang cangkir teh. Di sekitarnya, antrean jemaah mulai terbentuk, wajah-wajah hangat menyambut uap yang naik dari cangkir-cangkir kertas.

Di balik sajian sederhana itu, ada sosok yang bekerja dalam diam: Adi Sunaryoko, seorang amil Lazismu Sidoarjo. Ia memulai harinya sebelum subuh, di dapur kecil kantor Lazismu. Di sanalah ia meracik air panas, menakar gula dan kopi, mengisi termos satu per satu, lalu mengangkutnya ke lokasi kajian.

“Rasanya ikut senang bisa menyiapkan ini untuk jemaah,” ucap Adi sambil mengelap salah satu termos yang mulai berembun. “Kadang capek, tapi melihat jemaah tersenyum sambil menyeruput teh, itu cukup membayar semua lelah.”

Kehadiran teh dan kopi di pengajian itu bukan sekadar pelengkap acara. Ia menjelma simbol kehangatan dan perhatian. Di pagi yang dingin, secangkir teh bisa mencairkan jarak, menumbuhkan keakraban, dan mempererat ikatan kebersamaan dalam suasana dakwah.

Baca Juga:  Meniti Keberanian di Atas Jurang: Sensasi Jembatan Kaca Seruni Point Bromo

Tradisi ini mungkin tampak sepele. Namun, di tengah dunia yang serba cepat dan dingin, perhatian kecil seperti ini justru menjadi pengingat: bahwa dakwah tidak selalu harus lewat mimbar. Kadang, ia hadir lewat secangkir teh hangat yang tulus disuguhkan. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni