Feature

Dari Reruntuhan Bisnis ke Harapan Baru: Perjalanan Hidup Pak Mustahid

34
×

Dari Reruntuhan Bisnis ke Harapan Baru: Perjalanan Hidup Pak Mustahid

Sebarkan artikel ini
Mustahid (54) Dulu Pengusaha sekarang Petugas Pembuang Sampah. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Pernah berjaya sebagai pengusaha, Pak Mustahid kini bekerja sebagai petugas sampah dan tinggal di pinggir tempat pembuangan. Namun, kepedulian warga dan Lazismu Tanggulangin mengubah segalanya: rumah baru, harapan baru.

Tagar.co – Hidup Pak Mustahid (54) pernah berada di puncak: menjadi pengusaha sukses di luar Pulau Jawa. Namun, roda kehidupan tak selalu berputar ke atas. Usaha yang dirintisnya terpaksa gulung tikar, memaksanya pulang kampung ke Tanggulangin, Sidoarjo.

Kondisi ekonominya pun berubah drastis. Rumah dan tanah keluarga habis untuk menutup utang. Ia pun memulai segalanya dari nol—dengan menjadi petugas pembuang sampah.

Baca juga: Pak Munir Pulang Haji: Kisah Kepala Dinas dan Rendangmu di Tanah Suci

Karena tak lagi mampu membayar uang kontrakan, Pak Mustahid tinggal bersama keluarganya di sebuah ruangan sempit di lokasi penampungan sampah. Udara lembap, aroma menyengat, serta tumpukan sampah menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Tempat itu jauh dari kata layak huni. Namun, semangat Pak Mustahid tak runtuh oleh keterbatasan. Ia tetap bekerja, mengais rezeki demi keluarganya.

Baca Juga:  Aisyiyah Ajak Lansia Tetap Bergerak di Usia Senja

Harapan baru datang ketika Kepala Desa Penatarsewu memberinya izin membangun rumah sederhana di atas tanah milik desa, tak jauh dari tempat pembuangan sampah. Meski dibangun dari material seadanya—berlantai tanah, tanpa sekat ruangan, dan tembok belum diplester—rumah itu menjadi harapan baru yang lebih manusiawi.

Melihat kondisi tersebut, Kantor Layanan Lazismu (KLL) PCM Tanggulangin bersama Lazismu Sidoarjo bergerak melalui program bedah rumah untuk dhuafa dan yatim. Dana dikumpulkan dari para donatur lewat flyer digital dan kupon sedekah yang disebarkan kepada jamaah di wilayah Tanggulangin.

“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat luar biasa. Program ini bukti bahwa kepedulian sosial bisa tumbuh dari gotong royong dan rasa kemanusiaan,” ujar Dra. Yanik Erlina, Kepala KLL Tanggulangin.

Hasilnya, rumah Pak Mustahid kini jauh lebih layak untuk dihuni: ada keramik yang menggantikan tanah, sekat ruangan untuk privasi, dan suasana yang jauh lebih nyaman bagi keluarganya.

Saat ditemui di rumahnya pada Jumat, 18 Juli 2025, Pak Mustahid tak kuasa menahan haru. “Terima kasih sebesar-besarnya kepada Lazismu dan semua donatur. Saya benar-benar terharu. Semoga Allah membalas semua kebaikan panjenengan semua,” ujarnya dengan suara bergetar.

Baca Juga:  Penguatan Cabang dan Ranting Jadi Kunci Kokohnya Muhammadiyah

Meski kini ia bukan lagi pengusaha, Pak Mustahid merasa lebih kaya—karena telah merasakan hangatnya solidaritas sosial di saat paling sulit. Sebuah babak baru kehidupan telah ia buka, dengan harapan, syukur, dan semangat yang tak padam. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Mohammad Nurfatoni