Feature

Yasmin Syadza: Hafizah Cilik yang Mengukir Sejarah di Sekolah dan TPA

74
×

Yasmin Syadza: Hafizah Cilik yang Mengukir Sejarah di Sekolah dan TPA

Sebarkan artikel ini
Yasmin Syadza El Islamy (membawa buket) didampingi ibunya (kedua dari kanan) dan diapit oleh Ustazah Nur Azizah (kanan) dan Ustazah Nadliroh (kiri), dalam acara Wisuda Santri dan Penerimaan Rapor Tahun Ajaran 2024/2025. (Tagar.co/istimewa)

Di balik senyum pendiam Yasmin Syadza, tersimpan tekad baja. Gadis kelas VI MIM 13 Sendangagung ini menuntaskan enam tahun dengan piala dan hafalan dua juz. Langkahnya baru permulaan menuju mimpi besar: menjadi hafidzah.

Tagar.co — Langit siang itu cerah memayungi halaman Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) 13 Sendangagung, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Sengatan matahari pukul 13.00 WIB, Kamis (19/6/2025), justru terasa sejuk karena angin berembus pelan menenangkan hati para orang tua dan guru yang berkumpul di sana.

Di antara mereka, tampak pasangan Robithoh El Islami dan Anita Prasista berdiri dengan senyum sumringah. Keduanya datang sebagai orang tua Yasmin Syadza El Islamy, siswa kelas VI yang hari itu dilepas secara resmi dalam acara Wisuda Santri dan Penerimaan Rapor.

Baca juga: Study Tour Bermakna SMPM 12 Sendangagung ke Saloka Theme Park dan Masjid Sheikh Zayed

Ruang belajar diubah menjadi aula sederhana namun hangat. Di sanalah Syadza, begitu gadis kelahiran 1 Juli 2013 ini biasa dipanggil, menjadi buah bibir para guru dan orang tua murid. Bukan tanpa alasan. Prestasi Syadza sepanjang enam tahun belajar di MIM 13 Sendangagung sungguh membanggakan.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

Empat piala dan sederet penghargaan diboyongnya pada momen pelepasan kali ini:

  • Peringkat 1 Penilaian Sumatif Akhir Tahun,

  • Peringkat 1 Penilaian Sumatif Akhir Jenjang,

  • Penghargaan Muroja’ah Juz 29, dan

  • Best of The Best, peringkat pertama dari kelas 1 hingga kelas 6.

Tak hanya di sekolah. Di TPA Al-Ikhlash Sendangagung pun Syadza langganan meraih penghargaan santri terbaik, sejak TKA, TPA, hingga TQA.

Syadza adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya guru di MA Al-Ishlah, ibunya perawat di Klinik Pratama Al-Ishlah. Keduanya alumni Pondok Pesantren Al-Ishlah yang sama-sama ingin anaknya tumbuh dengan teladan ilmu dan akhlak.

“Syukur alhamdulillah, ini amanah. Semoga Allah Swt. selalu menjaga langkah Syadza dan kami bisa terus berperilaku baik agar anak-anak pun demikian,” kata Robithoh dan Anita kompak.

Bagi keluarga kecil ini, capaian Syadza baru permulaan. “Perjalanan Syadza baru sampai terminal pertama. Menuju terminal berikutnya masih panjang. Mohon doa Bapak Ibu Guru agar Syadza dimudahkan hingga sukses,” pinta sang ayah penuh harap.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako
Yasmin Syadza El Islamy berpose dengan 4 piala usai dari acara Silaturahmi Pelepasan Siswa Akhir dan Penerimaan Rapor (Tagar.co/Sri Asian)

Sehari-hari, Syadza dikenal pendiam, murah senyum, rajin belajar dan mengaji. Ia terbiasa salat berjemaah di masjid, nyaris tak pernah absen lima waktu. Menu kesukaannya sederhana: telur ceplok mata sapi.

Sejak usia delapan tahun, Syadza sudah rutin bangun pagi demi salat Subuh berjemaah. Kini, dua juz telah dihafalnya—juz 29 dan juz 30—dan perlahan ia berikhtiar merampungkan juz 28.

Sri Kostantiyah, guru matematikanya, menyebut Syadza sebagai murid yang “best of the best”. Bukan hanya cerdas menghitung, tetapi juga cepat memecahkan masalah.

Nur Azizah, Ustazah di TPA Al-Ikhlash, juga terkesan pada muridnya yang satu ini. “Syadza itu cantik, pendiam, cerdas, dan multitalenta. Pandai akademik, bisa menyanyi, mengaji, menulis kaligrafi. Pernah mengharumkan sekolah. Saking bangganya, saya sampai memberikan buket bunga khusus untuk Syadza. Harapannya dia tetap tekun beribadah dan membawa nama baik almamater di mana pun berada,” ujarnya.

Dwi Setiyo Rini, guru les Syadza, pun tak kalah kagum. Menurutnya, sejak kelas I Syadza sudah menunjukkan ketekunan luar biasa. “Tidak pernah bosan belajar. Hafal, berhitung, apapun. Dan yang paling saya suka, dia santun sekali kepada siapa pun.”

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Selain segudang prestasi di sekolah dan TPA, Syadza pernah meraih juara II lomba kaligrafi, juara III Olimpiade MIPA se-cabang Paciran dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-112, harapan II bidang Matematika di Olimpiade Ahmad Dahlan se-Karisidenan Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro, serta juara II lomba Tartil Al-Qur’an tingkat kabupaten Lamongan.

Kelak, Syadza akan melanjutkan sekolah di SMP Muhammadiyah 12 Sendangagung Paciran, sekaligus mondok di Pondok Pesantren Al Ishlah — menapak terminal baru menuju mimpinya: menjadi seorang hafidzah.

Selamat menapaki perjalanan baru, Syadza. Semoga engkau selalu menjadi penyejuk hati orang tua, kebanggaan guru, dan cahaya bagi sekitarmu. Aamiin.

Jurnalis Sri Asian Penyunting Mohammad Nurfatoni