Feature

Sosok MuSa Warnai Masjid Muhammadiyah di Kaltim

62
×

Sosok MuSa Warnai Masjid Muhammadiyah di Kaltim

Sebarkan artikel ini

 

Sosok MuSa
Masjid Ad-Dakwah Samarinda milik PWM Kalimantan Timur.

Sosok MuSa laporan safari dakwah di Kalimantan Timur oleh Abu Nasir, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pasuruan

Tagar.co – Pertemuan di antara dua atau lebih tradisi dan kebudayaan baik itu asimilasi (peleburan, penyesuaian) maupun akulturasi (pencampuran) sehingga terbentuk tata nilai dan perilaku baru dalam kebudayaan selalu menarik dicermati.

Perubahan suatu tradisi dan budaya pada  kelompok masyarakat merupakan wujud terjadinya asimilasi bahkan  akulturasi berbagai struktur sosial. Ia bisa dimaknai kemajuan atau dianggap sebagai kemunduran.

Max Lerner  dalam Encyclopaedia of the Social Sciences (1957) menyebut interaksi sosial semacam itu terjadi akibat dari adanya hubungan antar individu, antar kelompok maupun orang per orang dengan kelompok.

Terjadinya kontak diantara mereka melalui berbagai sarana komunikasi dapat membantu ke arah pemahaman terjadinya perilaku warga masyarakat.

Bisa jadi perubahannya justru berakibat pada goyah dan tergerusnya pilar-pilar struktur kehidupan sebelumnya (Gillin and Gillin, 1954 ).

Pola interaksi semacam itu terlihat di Balikpapan. Salah satu kota bisnis dan industri terbesar di Kalimantan.

Perantau Jawa

Muhammadiyah di Kalimantan eksis sejak tahun 1912 bersama dengan masuknya para pedagang Banjar dan perantau Jawa.

Mereka membawa serta gerbong Sarekat Islam (SI) pimpinan HOS Cokroaminoto dan Agus Salim yang juga anggota Muhammadiyah Banjarmasin.

Pendirian sekolah Muhammadiyah pertama kali di Alabio, Kalimantan Selatan, memicu penyebaran sayap organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini ke berbagai daerah lainnya seperti Pontianak, Balikpapan, Sanga, Bulongan, Muara Tewe dan lainnya.

Kebesaran Muhammadiyah di Kalimantan hingga saat ini dimulai sejak adanya Kongres Besar Muhammadiyah ke 24 di Banjarmasin tanggal 15-24 Juli 1935.

Baca Juga:  Abu Nasir: Satu Matlak Dunia Menuju Kesatuan Umat

Kemudian berdirinya perguruan tinggi Muhammadiyah, termasuk UMKT (Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur) tahun 2017 termasuk di antara perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia menempati rangking 270 berdasarkan data Webometrics tahun 2022.

Saya sempat melihat sekilas kebesaran perguruan tinggi Muhammadiyah ini saat bertugas menjadi Khotib Jumat di Masjid Ad-Dakwah PWM Kalimantan Timur.

Menjadi khotib di Masjid Ad-Dakwah PWM Kaltim salah satu acara safari dakwah saya di Balikpapan, satu di antara tiga kota bisnis dan industri terbesar di Pulau Kalimantan. Kota terbesar kedua setelah Samarinda.

Siapapun tahu, ada perusahaan kilang minyak PT Kilang Pertamina Balikpapan di sana. Tapi saya agak kaget ketika melihat deretan panjang kendaraan antre di pom bensin 10 hari terakhir Ramadhan 1446 H ini.

Perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah Balikpapan cukup pesat. Selain lembaga pendidikan dari TK hingga SMK-SMK, di sana juga ada klinik kesehatan, usaha ekonomi, panti sosial, dan Lazismu.

Pimpinan Muhammadiyah di pulau ini didominasi rantauan Jawa, khususnya Jawa Timur. Mereka datang dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Jombang, Kertosono, Nganjuk, Madiun, Kediri, Blitar, dan tak ketinggalan Tuban serta Lamongan.

Ketua PWM Kaltim, KH Siswanto Sunandar dan Ketua PDM Balikpapan Muhammad Hendro,N.PdI., berasal dari Tuban. Sedangkan Ketua Takmir Masjid PWM yang merangkap Ketua Majelis Sosial PWM Kaltim dan Badan Pembina Panti Asuhan adalah orang Bantul, Yogyakarta.

Baca Juga:  Muhammadiyah Kota Pasuruan Siapkan 6 Lokasi Salat Idulfitri 20 Maret 2026

Masjid-masjid Muhammadiyah Balikpapan tersebar di enam kecamatan, 34 kelurahan. Seperti di daerah lainnya masjid-masjid itu ada yang sudah wakaf kepada Muhammadiyah maupun milik masyarakat setempat yang dikelola bersama dengan eksponen pimpinan Muhammadiyah.

Salat Idulfitri tahun 1446 H ini diselenggarakan di sepuluh lokasi. Di Universitas Balikpapan tempat saya bertugas tidak termasuk dalam pengelolaan Majelis Tabligh PDM Balikpapan.

Bersama jamaah Masjid Ad-Dakwah Samarinda dan PWM Kaltim.

Saling Mengisi

Menariknya setiap masjid yang saya kunjungi terasa ada sentuhan kuat kelompok Salafiyun dalam pengelolaannya.

Tokoh dan pimpinan Muhammadiyah berinteraksi intensif dengan teman-teman Salafi. Setiap masjid terdapat pandangan khas: masjidnya bagus dan bersih, tertata rapi, jamaah selalu penuh setiap malam tarawih hingga malam ke 30 Ramadan.

Imam bacaannya bagus dan hafiz, jamaah serius mengikuti taklim. Mereka layaknya perpaduan antara etnis Jawa- Bugis bertemu dipersatukan oleh spirit dakwah Islam manhaj Muhammadiyah dan Salafi menghasilkan, meminjam istilah Prof Syafiq Mughni, sosok MuSa alias Muhammadiyah Salafi.

Sangat kental dengan simbol tradisi budaya Arab yang diklaim sebagai sunnah. Kalau di Jawa Timur atau di daerah lain masalah ini sering diperhadapkan satu sama lain.

Tradisi ’sunnah’ itu seperti pakaian gamis, berjenggot, dan bercelana cingkrang. Saya yang biasa sarungan tampak asing di antara mereka. Untungnya saat datang ke Masjid Ad-Dakwah Samarinda milik PWM Kaltim itu ada satu takmir yang sarungan. “Masih ketemu bolo,” batin saya.

Kita patut bersyukur menyaksikan fenomena itu meskipun sedikit banyak ada semacam  academic crisis di pikiran saya.

Kalau dikatakan akulturasi mungkin terlalu berlebihan. Saya melihatnya lebih pada kehendak sama dan saling membutuhkan sehingga terjadi penyesuaian-penyesuaian. Lebih ke arah asimilasi. Sebuah proses pembauran alamiah di antara beberapa kelompok masyarakat sebagai buah interaksi sosial menghadirkan toleransi dan kompromi.

Baca Juga:  Abu Nasir: Satu Matlak Dunia Menuju Kesatuan Umat

Muhammadiyah sendiri di hampir semua daerah mengalami defisit ustaz atau kader tahfiz yang bacaan Al-Qurannya bagus, tartil, dan berirama indah.

Sementara Salafiyun membutuhkan tempat dan akselerasi dakwah. Mereka bisa saling mengisi dan meramaikan aktivitas dakwah bersama menghidupkan sunnah Nabi.

Hanya saja seperti kata Gillin and Gillin: sebuah perubahan budaya suatu masyarakat bisa menunjukkan kemajuan, bisa jadi pula menunjukkan sedang goyahnya sendi-sendi struktur kehidupan.

Sangat kentara dalam konteks ini Muhammadiyah sedang tidak baik-baik saja. Konfigurasi sosok MuSa bisa mendatangkan berkah atau malah musibah. Di daerah lain sudah melahirkan konflik antar jamaah dan penguasaan masjid.

Saya rasa sudah sangat darurat menghadirkan kader-kader militan bermanhaj Muhammadiyah, tafaqquh fiiddiin yang hafal Al-Quran untuk mengurangi dominasi sosok MuSa.

Jika tidak, ke depan malah terjadi proses asimilasi MUNU (Muhammadiyah-NU) dan Munas (Muhammadiyah Nasionalis) yang saling mendekat, menerima, dan menyatu dalam spirit dakwah Islam bersama seperti difirmankan Allah dalam surah Maryam ayat 96:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.

Wa Allahu a’lam (#)

Penyunting Sugeng Purwanto