Feature

Abu Nasir: Satu Matlak Dunia Menuju Kesatuan Umat

125
×

Abu Nasir: Satu Matlak Dunia Menuju Kesatuan Umat

Sebarkan artikel ini
Khotbah Idulfitri di GKB mengajak umat Islam bersatu dalam satu kalender global, menegaskan Ramadan sebagai madrasah pembentuk insan beriman, tulus, dan berintegritas sejati.
Ustaz Dr. Abu Nasir, M.Ag., Ketua PDM Kota Pasuruan, bertindak sebagai khatib. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Khotbah Idulfitri di GKB mengajak umat Islam bersatu dalam satu kalender global, menegaskan Ramadan sebagai madrasah pembentuk insan beriman, tulus, dan berintegritas sejati.

Tagar.co – Lantunan takbir menggema membelah udara pagi. Langit pagit yang cerah menyelimuti kawasan Gresik Kota Baru (GKB), Jumat, 20 Maret 2026. Sejak matahari belum tinggi, jemaah mulai memadati Halaman Parkir Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) di Jalan Sumbawa GKB. Mereka datang dari berbagai penjuru, mengenakan pakaian terbaik, menyatu dalam satu tujuan: menunaikan salat Idulfitri.

Di tengah hamparan sajadah yang tertata rapi, suasana terasa khusyuk sekaligus hangat. Tidak ada sekat yang membedakan. Pejabat dan rakyat, pemimpin dan umat, semua berdiri sejajar. Mereka menundukkan diri di hadapan Allah Yang Mahaagung. Termasuk para mahasiswa dari Komoro Afrika yang sedang studi S2 di UMG.

Ustaz Dr. Abu Nasir, M.Ag., Ketua PDM Kota Pasuruan, bertindak sebagai khatib. Dalam sapaan awalnya, ia langsung menyentuh kesadaran jemaah tentang hakikat kehambaan.

Ia mengingatkan, di hadapan Allah, manusia hanyalah hamba yang lemah. Tidak ada yang layak dibanggakan selain ketundukan dan keikhlasan dalam membesarkan nama-Nya. Suasana hening. Seolah setiap kalimat yang terucap meresap ke dalam hati jemaah yang hadir pagi itu.

Menuju Satu Matlak Dunia

Dalam khotbahnya, Abu Nasir mengajak jemaah merefleksikan perjalanan Ramadan 1447 H yang baru saja usai pada Kamis, 19 Maret 2026, mengikuti Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

“Kita akhiri Ramadan 1447 sebulan lamanya, hingga kemarin Kamis, 19 Maret 2026 mengikuti Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Implementasi KHGT menandai berubahnya matlak negara ke matlak dunia,” ujarnya.

Baca Juga:  Muhammadiyah Kota Pasuruan Siapkan 6 Lokasi Salat Idulfitri 20 Maret 2026

Ia menegaskan, perubahan ini bukan sekadar teknis penanggalan, melainkan perubahan visi besar umat Islam. “Kita mengubah visi dan pandangan dari matlak lokal ke matlak global, semata-mata bertujuan menuju satu matlak dunia, satu kesatuan umat.”

Khotbah Idulfitri di GKB mengajak umat Islam bersatu dalam satu kalender global, menegaskan Ramadan sebagai madrasah pembentuk insan beriman, tulus, dan berintegritas sejati.
Jemaah Salat Idulfitri memadati Halaman Parkir UMG di Jalan Sumbawa GKB. (Tagar.co/Arif Zamzawi)

Hakikat Umat Manusia

Visi ini, menurutnya, berakar kuat pada Al-Anbiya ayat 92 yang menegaskan bahwa umat manusia adalah umat yang satu.  “Sesungguhnya umat kalian ini umat yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian yang satu, kepada-Kulah kalian kembali.”

Selain itu, ia juga mengingatkan isi Surah Al-Baqarah ayat 246 tentang hakikat umat manusia sebagai satu kesatuan yang diutus para nabi untuk menerima kabar gembira dan peringatan. Menurutnya, kesatuan umat seharusnya tampak dalam praktik ibadah, termasuk penentuan hari raya.

“Kita terbiasa satu hari satu waktu ketika melakukan salat lima kali sehari. Kenapa kita tidak bisa menjadikan pelaksanaan salat Idulfitri di waktu satu hari yang sama di seluruh dunia?” tegasnya.

Kemudian ia mempertanyakan perbedaan penetapan 1 Syawal yang selama ini terjadi. “Hakikatnya satu tanggal untuk satu hari, bukan untuk dua hari. Hilalnya sama, bulannya sama. Kenapa setiap tahun kita menyidang hilal?” lanjutnya.

Ramadan, Madrasah Umat Unggul

Abu Nasir kemudian mengajak jemaah melihat Ramadan sebagai sebuah madrasah besar bagi umat Islam. “Ramadan merupakan madrasah bagi umat Islam. Ramadan mendidik umat Islam menjadi umat unggul dan terbaik yang tampil di muka bumi ini,” katanya.

Lalu ia mengutip Surah Ali Imran ayat 110 yang menegaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang memiliki peran sebagai teladan. “Kalian semua umat terbaik yang ditampilkan di dunia untuk melakukan gerakan amar makruf nahi mungkar dan memiliki keimanan yang benar di hadapan Allah.”

Baca Juga:  Naskah Khotbah: Idulfitri dan Jalan Filantropi, dari Puasa Menuju Kepedulian Sosial

Ia juga menyinggung, meskipun ada umat lain yang beriman kepada Allah, banyak di antaranya yang tidak konsisten. Dalam pandangannya, umat Islam dipersiapkan melalui Ramadan untuk menjadi saksi bagi umat manusia.

“Umat Islam dibentuk di madrasah Ramadan menjadi baik di dunia hingga akhirat yang akan menjadi saksi atas umat lain,” ujarnya.

Setelah itu, ia mengingatkan firman Allah tentang peran Nabi Muhammad sebagai saksi bagi umat terdahulu, sekaligus menegaskan tanggung jawab umat Islam sebagai penerus nilai-nilai tersebut. Karena itu, menurutnya, pendidikan spiritual dalam Ramadan menjadi sangat penting.

“Karena umat Islam harus menjadi teladan dan saksi bagi umat lain, maka Allah mendidik hamba-Nya dalam madrasah Ramadan,” jelasnya.

Baca Juga: Prof. Dzo’ul Milal: Iduladha Momentum Taat dan Berkorban

Identitas Umat dan Arah Kiblat

Lebih jauh, Abu Nasir mengaitkan perintah puasa dengan turunnya hukum-hukum lain dalam Islam, termasuk perubahan arah kiblat. Ia menjelaskan, perpindahan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram bukan sekadar perubahan arah, melainkan penegasan identitas umat Islam.

“Perpindahan ini bukan semata-mata memindahkan kiblat, tapi untuk menegaskan identitas sebagai umat tunggal yang berbeda dari umat lain,” ungkapnya.

Ia menghubungkannya dengan doa yang selalu dibaca dalam salat, Ihdinash shiratal mustaqim—permohonan untuk ditunjukkan jalan yang lurus. Menurutnya, jalan lurus itu telah Allah jelaskan dalam Surah An-Nisa ayat 69, yakni jalan para nabi, orang-orang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh.

“Inilah visi umat Islam sejak awal: satu akidah, satu sejarah kenabian, dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad,” tegasnya.

Baca Juga:  Mahasiswa KKN Adakan Psikoedukasi Anti Bullying

Ia juga mengingatkan, sejarah Islam dibangun di atas pengorbanan besar demi menjaga kesatuan umat.

Jemaah putri memadati Halaman Parkir UMG di Jalan Sumbawa GKB. (Tagar.co/Arif Zamzawi)

Mengaca Diri, Menjadi Otentik

Pada bagian akhir khotbah, Abu Nasir menyoroti esensi Ramadan sebagai proses pembentukan kepribadian melalui Al-Qur’an dan sunah. “Madrasah Ramadan punya kurikulum Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah,” ujarnya.

Selanjutnya ia mengajak jemaah menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin untuk mengukur diri. “Dengan Al-Qur’an kita berusaha mengaca diri. Sahabat nabi selalu mengukur dirinya dengan Al-Qur’an,” katanya.

Namun, ia juga menyampaikan realitas yang memprihatinkan. “Dari survei, hanya 35% umat Islam di dunia yang taat salat dan puasa. Di warung, banyak yang parkir untuk makan,” ungkapnya jujur.

Ia menegaskan, puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan ujian keimanan. “Puasa ujian untuk membuktikan siapa yang sungguh-sungguh beriman dan siapa yang munafik dalam hatinya.”

Menurutnya, banyak orang hanya mengubah jadwal makan, bukan pola hidup. “Ketika puasa kita makan dua sampai tiga kali, tapi nyatanya kita hanya mengubah jadwal makan,” ujarnya.

Akhirnya, ia menutup dengan pesan mendalam tentang makna Idulfitri. “Siapa yang benar-benar mengikuti madrasah Ramadan, insyaallah tampil menjadi manusia mukmin otentik yang ber-Idulfitri.”

Ia menjelaskan, Idulfitri bukan hanya kembali makan, tetapi kembali suci dan ikhlas. “Keikhlasan tanda menjadi manusia otentik. Hanya Allah yang tahu puasanya. Ini manusia yang tidak terbungkus popularitas, tidak mengedepankan pencitraan diri. Ini langka.”

Di tengah gema takbir yang masih terasa, pesan itu tertinggal di hati jemaah: menjadi manusia yang tulus, di hadapan Allah dan sesama. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni