
Pada zaman itu, santri pondok mudik menjelang Hari Raya Idulfitri di malam ke-25 Ramadan ketika pembacaan kitab, qiyamul lail, mengaji, dan beriktikaf sudah selesai.
Tagar.co – Malam Selawe menjadi tradisi turun temurun peninggalan Sunan Giri Gresik yang dirayakan pada malam ke-25 Ramadan.
Tradisi Malam Selawe tahun ini jatuh pada Senin (24/3/2025). Ini menjadi malam puncak Ramadan bagi warga Gresik, Jawa Timur, dan sekitarnya. Ribuan peziarah tumpah ruah, mulai anak-anak, remaja hingga lanjut usia.
Mereka memadati kawasan wisata religi Sunan Giri di Kecamatan Kebomas. Banyak juga warga luar Gresik yang datang dengan kendaraan pribadi atau berombongan naik bus demi menikmati suasana Ramadan di Kota Gresik.
Tradisi Malam Selawe adalah cara orang Gresik menyambut lailatulqadar di malam ganjil akhir Ramadan. Mereka menafsiri hadis riwayat Aisyah dengan perayaan ini.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Jika telah datang 10 hari yang terakhir (di bulan Ramadan), Nabi ﷺ mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah), dan membangunkan keluarganya (untuk beribadah). (HR Bukhari dan Muslim)
Dari penelusuran berbagai literatur, termasuk literatur di Museum Sunan Giri di Jln. Sunan Giri Desa Pedukuhan Kecamatan Kebomas Gresik, menjelaskan, tradisi Malam Selawe disebut sudah ada sejak zaman Sunan Giri.
Artinya, telah ada ratusan tahun silam ketika Sunan Giri mendirikan kerajaan Giri Kedaton pada 9 Maret 1487 Masehi di Kebomas ini.
Kemunculan penguasa ulama Gresik tersebut tidak lepas dari situasi politik Kerajaan Majapahit yang saat itu sedang mengalami disintegrasi atau perpecahan.
Muncul dua kekuatan besar. Pertama, kelompok berhaluan Jawa-Hindu. Kedua, kekuatan berhaluan Islam Jawa diwakili Giri, Demak, dan Kudus di pesisir utara Jawa.
Sunan Giri membangun pondok pesantren di Giri yang kian terkenal. Popularitas keulamaan dan politiknya yang besar hingga Giri menjadi pusat legitimasi kekuasaan.
Sunan Giri membangun istana berundak tujuh atau dikenal dengan Kedaton Tundha Pitu. Letaknya di bukit, tidak jauh dari makam Sunan Giri saat ini.
Lokasi ini disebut Giri Kedaton. Konon, istana itu mulai dibangun pada 1486 Masehi. Namun pemanfaatan Istana Giri Kedaton sebagai pusat pemerintahan pada 1487 Masehi.
Sunan Giri yang juga dikenal dengan nama Raden Paku, Raden Ainul Yaqin, Joko Samudra, Prabu Satmaka, menjadi pemimpin spiritual di tanah Jawa setelah wafatnya Sunan Ampel Surabaya.
Pengaruh politik Giri Kedaton sangat besar sampai pada generasi Sunan Giri III. Sampai-sampai Sultan Hadiwijaya ketika mendirikan Kerajaan Pajang perlu sowan ke Sunan Giri II minta restu politik.
Pondok pesantren Sunan Giri pun makin terkenal dengan berdatangan santri-santri dari berbagai daerah.
Pada zaman itu, santri pondok mudik menjelang Hari Raya Idulfitri di malam ke-25 Ramadan ketika pembacaan kitab, qiyamul lail, mengaji, dan beriktikaf sudah selesai.
Pada hari itu menjelang Subuh, santri sowan ke Sunan Giri untuk pamitan mudik ke kampung halaman.
Di malam ke 25 itu karena pondok pesantren ramai kegiatan, maka warga sekitar menjual makan, minum, pakaian, dan kebutuhan berbuka puasa dan sahur santri.
Mereka berjualan di sepanjang jalan menuju pondok pesantren yang sekarang jalan itu Jalan Sunan Giri. Jualannya ada nasi blawu, makanan dan minuman, hingga menjual pernak pernik hiasan Idulfitri.
Tradisi ini berlanjut hingga Sunan Giri wafat, kemudian dilanjutkan turun temurun hingga sekarang. Jika dihitung tradisi itu sudah berjalan lebih dari 500 tahun.
Sekarang tradisi ini berubah menjadi pasar malam yang dikelola oleh Pemkab Gresik sebagai wisata religi.
Pada Ramadan 1446 H ini kegiatan dimulai dengan salat Isya dan Tarawih serta munajat pembacaan 1.000 surat Al-Ikhlas di Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri.
Kemudian ada pembagian nasi kebuli sebanyak 3.000 bungkus. Warga setempat menyebutnya nasi blawu. Pembagian nasi kebuli disebarkan ke beberapa titik. Di area Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri, Makam Sunan Giri, dan area parkir.
Nasi kebuli merupakan sajian khas masyarakat Pegiren dan sekitarnya. Nasi kebuli ini dimasak oleh ibu-ibu Desa Sidomukti Kebomas.
Jurnalis Bening Satria Prawita Diharja Penyunting Sugeng Purwanto












