
Lailatulqadar bonus pahala yang setara dengan ibadah lebih dari 83 tahun (1.000 bulan) disebut sebagai “pesangon terbaik” untuk kehidupan akhirat
Tagar.co – Suasana Masjid Khusnul Khotimah, Desa Sukoanyar, Cerme, Gresik, tampak berbeda pada malam ke-21 Ramadan tahun ini.
Di antara barisan jemaah yang bersiap menunaikan salat tarawih, Senin (9/3/2026) hadir Muhammad Syaifullah atau biasa disebut Kang Ipul, sosok yang biasanya berseragam loreng khas Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam).
Bukan sedang melakukan pengamanan fisik, Komandan Kokam Markas Cabang (Marcab) Cerme naik ke mimbar untuk memberikan “instruksi” spiritual melalui Kultum bertajuk Bonus Terbesar Lailatulqadar.
Dalam orasinya yang lugas dan bertenaga, kang ipul mengibaratkan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan sebagai fase Operasi Pamungkas.
”Jika dalam dunia militer kita mengenal operasi khusus, maka malam ke-21 adalah gerbang menuju operasi langit paling bergengsi. Lailatulqadar bukan sekadar bonus, tapi transformasi total seorang hamba,” tegasnya di hadapan puluhan jemaah.
Dalam kultumnya, dia menyampaikan 3 hal penting. Pertama disiplin di garis depan. Komandan menekankan bahwa jemaah tidak boleh “kendor” di saat garis finish sudah terlihat.
“Lailatulqadar hanya akan ditemui oleh mereka yang memiliki disiplin ibadah layaknya prajurit di medan tempur,” katanya.
Kedua, ada logistik Rohani. Bonus pahala yang setara dengan ibadah lebih dari 83 tahun (1.000 bulan) disebut sebagai “pesangon terbaik” untuk kehidupan akhirat.
Ketiga, siaga 1 ibadah. Jemaah diajak untuk meningkatkan status kewaspadaan ibadah, terutama pada malam-malam ganjil, dengan memperbanyak iktikaf dan doa.
Kehadiran Komandan Kokam sebagai penceramah memberikan warna tersendiri. Jika biasanya mimbar diisi oleh kyai atau ustadz dengan gaya kalem, kali ini jemaah disuguhi pesan religius yang dibalut dengan semangat ketegasan dan pengabdian.
Ketua Ranting Muhammadiyah dan para tokoh masyarakat yang hadir tampak antusias menyimak analogi-analogi segar yang menghubungkan antara pengabdian kepada negara dan pengabdian kepada sang Khalik.
”Kokam menjaga fisik bangsa, tapi malam ini kita semua sedang menjaga jiwa kita sendiri melalui Lailatul Qadar,” tutup sang Komandan sebelum meninggalkan mimbar. (#)
Jurnalis Riski Ardiansa. Penyunting Ichwan Arif












