Telaah

Malam Ganjil

61
×

Malam Ganjil

Sebarkan artikel ini
Malam ganjil umat muslim berjaga di malam hari di masjid. Beriktikaf. Menunggu kedatangan lailatulqadar yang nilainya seribu bulan.
Ilustrasi

Malam ganjil umat muslim berjaga di malam hari di masjid. Beriktikaf. Menunggu kedatangan lailatulqadar yang nilainya seribu bulan.

Oleh R. Arif Mulyohadi, Akademisi, Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, dan Anggota Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jatim

Tagar.co – Sepuluh malam terakhir Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Terutama di malam ganjil. Ada rasa khusyuk yang lebih kuat, ada harap yang lebih dalam, dan ada kesadaran bahwa Ramadan segera berakhir.

Pada malam ganjil inilah umat Islam menautkan harapan besar untuk berjumpa dengan lailatulqadar, malam yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan.

Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya kapan malam itu hadir, melainkan apa yang benar-benar kita hidupkan ketika malam-malam itu tiba.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, banyak orang menyambut malam ganjil dengan semangat yang tinggi, tetapi tidak semuanya sampai pada inti ibadah.

Sebagian sibuk mencari tanda-tanda lailatulqadar, memperbincangkan tanggal yang paling mungkin, atau menunggu suasana batin yang dianggap lebih istimewa.

Padahal ajaran Islam justru menekankan kesungguhan menghidupkan amal, bukan sekadar menebak waktu.

Dalam surah Al-Qadr ayat 1-3, Allah Swt. berfirman, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam qadar itu? Malam qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.

Kemuliaan malam itu tidak mengajarkan umat untuk berspekulasi, tetapi untuk bersungguh-sungguh.

Baca Juga:  Menunda Salat, Menunda Kesadaran, Renungan Isra Mikraj

Berdoa

Hal pertama yang patut dihidupkan adalah doa. Doa merupakan bentuk ibadah yang paling jujur karena pada saat itulah manusia hadir di hadapan Allah tanpa kepura-puraan.

Tidak ada jabatan, tidak ada gelar, tidak ada kebanggaan sosial yang dapat dibawa ke hadapan-Nya. Yang ada hanya pengakuan tentang kelemahan diri dan harapan akan kasih sayang Tuhan.

Karena itu, sangat tepat ketika Rasulullah Saw. mengajarkan doa yang dibaca saat seorang hamba berharap bertemu lailatulqadar: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni —Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Hadis ini menunjukkan bahwa inti pencarian malam mulia bukanlah sensasi spiritual, melainkan kebutuhan akan ampunan.

Yang juga perlu dihidupkan adalah qiyamul-lail. Bangun malam untuk salat, berzikir, dan bermunajat bukan sekadar rutinitas ibadah tambahan, tetapi jalan untuk membersihkan hati.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Aisyah ra. menceritakan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Rasulullah mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.

Teladan ini menegaskan bahwa penghujung Ramadan bukan masa untuk mengendur, melainkan masa untuk meningkatkan kesungguhan.

Baca Juga:  Nasyiah Bojonegoro Gelar Tadarus Bahas Masalah Ini

Qiyam memiliki makna yang lebih dalam daripada panjangnya rakaat atau lamanya berdiri. Di situlah manusia belajar jujur di hadapan Allah Swt.

Pada malam hari, ketika kebanyakan orang terlelap, seorang hamba berdiri dalam sunyi, membawa seluruh lelah, dosa, dan harapannya.

Itulah sebabnya Al-Qur’an memuji orang-orang yang menjauhkan lambungnya dari tempat tidur demi berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, sebagaimana disebutkan dalam surah As-Sajdah ayat 16: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedangkan mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.

Taubat

Malam ganjil menjadi kesempatan untuk menilai ulang arah hidup: apakah ibadah selama ini benar-benar mendekatkan kita kepada Allah atau hanya berhenti pada kebiasaan lahiriah.

Selain doa dan qiyam, malam-malam itu tentu harus dihidupkan dengan Al-Qur’an. Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an, sehingga memperbanyak tilawah tanpa diiringi perenungan makna belum cukup.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 185 ditegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Allah Swt. berfirman, “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang batil.”

Karena itu, hubungan dengan Al-Qur’an pada sepuluh malam terakhir semestinya tidak berhenti pada bacaan yang fasih, tetapi berlanjut pada pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah petunjuk itu mengubah cara kita memandang hidup, bersikap kepada sesama, dan menjaga diri dari yang batil?

Baca Juga:  Puasa Media Sosial

Puncak dari semua itu adalah taubat. Tanpa taubat, ibadah mudah berubah menjadi kebanggaan. Padahal, sepuluh malam terakhir justru mengajarkan kerendahan hati.

Allah Swt. berfirman dalam surah At-Tahrim ayat 8, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”

Taubat adalah keberanian untuk mengakui dosa, menyesali kelalaian, lalu bertekad kembali ke jalan yang benar.

Di sinilah sepuluh malam terakhir menemukan maknanya yang paling dalam: bukan hanya memperbanyak amal, tetapi juga memperbarui diri.

Maka, ketika malam ganjil tiba, yang semestinya dihidupkan bukan sekadar suasana ramai di masjid atau semarak unggahan religius di media sosial.

Yang perlu dihidupkan adalah hati yang berdoa, jiwa yang berdiri dalam qiyam, akal yang tunduk pada Al-Qur’an, dan diri yang sungguh-sungguh bertaubat.

Dari situlah lailatulqadar tidak hanya dicari sebagai satu malam yang misterius, tetapi dijemput sebagai momentum perubahan yang nyata dalam kehidupan seorang muslim. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto