
Memasuki hari ke-20, Ramadan justru mencapai puncaknya. Nabi Saw. meningkatkan ibadah, menghidupkan malam, dan membangunkan keluarga untuk mengejar keberkahan terbesar: Lailatulqadar.
Serial Ramadan (20); Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani
Tagar.co – Ramadan tidak berakhir dengan perlahan. Ia justru mencapai puncaknya pada sepuluh malam terakhir. Pada fase inilah Nabi Muhammad Saw. menunjukkan kesungguhan ibadah yang jauh lebih besar dibanding hari-hari sebelumnya.
Malam dihidupkan, keluarga dibangunkan, dan seluruh energi spiritual diarahkan untuk mengejar keberkahan terbesar Ramadan.
Baca juga: Innisaimun: Puasa sebagai Latihan Mengendalikan Diri
Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
كَاَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan perubahan ritme ibadah Nabi ﷺ ketika Ramadan memasuki fase terakhir.
Sadda Mi’zara: Simbol Kesungguhan
Ungkapan shadda mi’zara secara harfiah berarti mengencangkan sarung atau ikat pinggang.
Para ulama menafsirkannya sebagai simbol kesungguhan dan peningkatan ibadah.
Menurut penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani, maknanya adalah Nabi ﷺ meningkatkan kesungguhan dalam ibadah dan menjauh dari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian.
Ini menunjukkan bahwa ibadah memiliki momentum.
Ahya Lailahu: Menghidupkan Malam
Nabi ﷺ tidak hanya menambah sedikit ibadah, tetapi benar-benar menghidupkan malamnya.
Ini menunjukkan bahwa malam memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat dalam Islam.
Pada malam hari:
-
hati lebih tenang
-
dunia lebih sunyi
-
doa lebih khusyuk
Karena itu, banyak ibadah besar terjadi pada malam hari.
Aiqadha ahlahu: Spiritualitas Keluarga
Nabi ﷺ juga membangunkan keluarganya.
Ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya urusan individual, tetapi juga kolektif. Kesalehan tidak berhenti pada diri sendiri. Dalam Islam, keluarga adalah unit pertama pendidikan spiritual.
Mengapa Intensitas Ibadah Meningkat?
Karena sepuluh malam terakhir adalah waktu yang sangat istimewa.
Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatulqadar.
Malam ini adalah puncak spiritual Ramadan.
Karena itu, Nabi ﷺ meningkatkan kesungguhannya.
Momentum Hari Ke-20
Hari ke-20 adalah batas antara dua fase Ramadan:
Fase pertama: pembiasaan.
Fase kedua: intensifikasi.
Jika sebelumnya kita belajar disiplin berpuasa, maka sekarang kita memasuki fase kesungguhan ibadah.
Ramadan belum selesai. Justru puncaknya baru dimulai.
Refleksi
Banyak orang merasa Ramadan hampir selesai ketika memasuki hari ke-20.
Padahal bagi Nabi ﷺ, justru di sinilah perjuangan dimulai.
Jika kita ingin mendapatkan keberkahan terbesar Ramadan, maka sepuluh hari terakhir tidak boleh dijalani dengan kelelahan spiritual.
Justru harus dijalani dengan kesungguhan yang lebih besar.
Karena bisa jadi satu malam di fase ini lebih berharga daripada puluhan tahun kehidupan biasa. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












