Kisah Terjebak Hoaks: Pelajar Smamsatu Hasilkan Video Edukatif untuk Promosikan Literasi Digital
Sebarkan artikel ini
Kisah Terjebak Hoaks: Zada Kanza Makhfiya Mohammad (kiri) memamerkan video hasil karya kelompoknya (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)
Kisah terjebak hoaks menjadi salah satu konten dalam video iklan layanan masyarakat siswa Smamsatu sebagai tugas akhir semester. Ada 20 karya video edukatif untuk promosikan literasi digital.
Tagar.co – Di tengah arus deras informasi yang membanjiri media sosial, memfilter kebenaran menjadi tantangan tersendiri.
Inilah yang coba diangkat oleh siswa Kelompok 2 Kelas X-2, SMA Muhammadiyah 1 Gresik (Smamsatu) dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) mereka.
Berjudul Bijak dalam Bermedia Sosial, video yang mereka produksi menyoroti pentingnya literasi digital dan pemanfaatan media sosial secara positif.
Video ini bercerita tentang seorang anak yang termakan hoaks di Instagram tentang tidak adanya kasus Covid-19 di desanya.
Meskipun telah diperingatkan oleh teman-temannya, ia tetap bersikeras dengan informasi yang ia baca. Naasnya, ia pun akhirnya terinfeksi virus tersebut.
Pengalaman ini menjadi titik balik bagi teman-temannya. Mereka mulai aktif mencari validasi informasi dari sumber terpercaya seperti Kementerian Kesehatan.
Tak hanya itu, mereka juga memanfaatkan platform TikTok, yang sangat populer di kalangan remaja, untuk menyebarkan informasi yang benar. Video-video edukatif tentang cara mengurangi limbah masker sekali pakai pun mereka produksi dan sebarkan di media sosial.
“Proses pembuatan video ini memakan waktu kurang lebih dua bulan,” ujar Zada Kanza Makhfiya Mohammad, salah satu anggota kelompok.
“Paling lama di bagian penulisan naskah, karena kami harus berkonsultasi dengan semua guru mata pelajaran,” tambahnya, Sabtu (21/12/24).
Uniknya, video ini memadukan berbagai materi pelajaran. Subtitle dalam bahasa Inggris, cara pencegahan virus Corona dari sudut pandang Biologi, hingga konsep berpikir sinkronis dalam Sejarah yang menceritakan perjalanan Covid-19 di Indonesia, semua terangkum dalam video berdurasi 8 menit ini.
“Hikmah dari video ini adalah agar kita tidak mudah percaya dengan berita di media sosial,” tambah Zada. “Kita harus mencari validasinya dari sumber terpercaya dan memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan hal-hal positif.”
Video kisah terjebak hoaks ini dipresentasikan di hadapan seluruh guru. Setiap siswa diuji pemahamannya melalui pertanyaan-pertanyaan seputar materi yang telah dikonsultasikan dan diaplikasikan dalam video.
Kemudian video tersebut ditampilkan dalam Gelar Karya P5 dan Karya Tematik, di Ruang Teater Smamsatu, Sabtu (21/12/24). Para wali murid yang mengambil rapor hasil belajar siswa di hari itu bisa menyaksikan hasil karya tersebut.
Kisah Terjebak Hoaks. M. Zamir Labib Maulidy bersama anggota Kelompok 2 Kelas X-1 saat stannya dikunjungi Kepaa Smamsatu Nurul Ilmiyah (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)
Akibat Kecanduan Game Online
Sementara itu, Kelompok 2 Kelas X-1 menampilkan video dengan judul yang berbeda, yaitu Pengaruh Negatif Gadget. Video ini mengangkat isu kecanduan gameonline dan dampak negatif dari penggunaan gadget yang berlebihan.
“Kami ingin mengingatkan bahwa terlalu fokus pada game dan hal-hal yang kurang penting bisa membuat kita melewatkan informasi penting, seperti berita-berita aktual,” ujar ZamirM. Zamir Labib Maulidy, anggota kelompok l, menjelaskan latar belakang video.
“Kami menggunakan contoh kasus Covid-19 yang sempat menghebohkan, untuk menggambarkan bagaimana kelalaian kita dalam menyaring informasi bisa berakibat fatal.”
Zamir, yang juga berperan sebagai tokoh utama, diceritakan sebagai siswa yang gemar bermain game online hingga lupa waktu. Ia bahkan mengabaikan tugas sekolah dan peringatan dari temannya tentang munculnya virus Covid-19.
Ketidakpeduliannya ini membuatnya tertular virus tersebut. “Kami ingin menekankan bahwa kecanduan game online dan kurang bijak dalam menggunakan gadget bisa membuat kita lalai dalam menyikapi informasi penting,” tambah Zamir.
“Penting untuk menggunakan gadget secara seimbang dan memanfaatkan fitur-fiturnya untuk hal-hal yang positif, seperti mencari informasi, belajar, atau mencari beasiswa.”
Dalam video berdurasi 5 menit ini, kelompok ini ingin menyampaikan pesan bahwa dampak dari penyalahgunaan gadget tidak hanya berlaku pada siswa, tetapi juga seluruh masyarakat pengguna.
Video ini mengajak penonton untuk lebih bijak dalam menggunakan gadget, tidak untuk hiburan semata, tetapi juga untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat dan terpercaya.
Selain itu, katanya, video ini juga menyinggung tentang pentingnya memiliki kebiasaan membaca berita dan memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.
Zamir mengungkapkan pembuatan video ini memakan waktu selama tiga bulan dengan beberapa kendala, terutama dalam hal lokasi pengambilan gambar karena keterbatasan-keterbatasan sebagai santri Muhammadiyah Boarding School (MBS) Madinatul Ilmi. Namun, hal ini tidak mengurangi esensi dari pesan yang ingin disampaikan.
Secara keseluruhan, video buatan Ziamar dan kawan-kawan ini tidak hanya menyajikan cerita yang menghibur, tetapi juga sarat dengan edukasi.
Melalui alur cerita yang menarik dan relevan dengan kehidupan remaja, penonton diajak untuk merefleksikan kebiasaan mereka dalam menggunakan gadget dan pentingnya literasi digital di era informasi saat ini.
Video ini menjadi pengingat bahwa gadget bisa menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab.
Selain dua video itu, masih ada 18 video lainnya yang dihasilkan oleh siswa kelas X sebagai iklan layanan masyarakat bertema Gaya Hidup Berkelanjutan dan Bangunlah Jiwa Raganya yang dipamerkan hari itu.
Sementara di ruang lobi lantai satu siswa kelas XI memamerkan karya bertema Alat Teknologi Serbaguna Berbasis Arduino.
Adapund i Aula Mentari yang berada di lantai 2, siswa kelas XII menggelar karya P5 bertema Suara Demokrasi dan Berkebinekan Global. (#)