Feature

Coding di Smamsatu Bukan Lagi Wacana, Alat-Alat Otomatis Karya para Siswa Ini Buktinya

25
×

Coding di Smamsatu Bukan Lagi Wacana, Alat-Alat Otomatis Karya para Siswa Ini Buktinya

Sebarkan artikel ini
Sebagian stan Gelar Karya P5 dan Gelar Tematik Smamsatu (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Coding di Smamsatu bukan lagi wacana. Alat-alat otomatis karya para siswa ini jadi bukti. Dari drone hingga tongkat tunanetra. Alat-alat tersebut dipamerkan dalam Gelar Karya P5 dan Karya Tematik.

Tagar.co – Rasa iba Favian Ghanisakha R. pada ibunya sedikit terobati. Siswa kelas XI Saintek 2, SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik itu merasa kasihan melihat ibunya yang sering keluar masuk menjemur pakaian saat musim hujan.

Dia lalu berpikir keras bagaimana bisa memecahkan masalah itu. Aha! Akhirnya Favian menemukan ide. Bersama teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok 4 kelas XI Saintek 2 Smamsatu, dia berhasil menciptakan Smart Hydrosense Hanger.

Yakni karya inovatif yang menggabungkan teknologi sensor kelembaban air dengan katrol gantungan pakaian.

Alat itulah yang dia pamerkan dalam Gelar Karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dan Karya Tematik yang digelar Smamsatu di ruang lobi lantai 1 Gedung ‘Damar Kurung’ Smamsatu, Sabtu (21/12/24).

Baca berita terkait: Gelar Karya P5 Smamsatu ibarat Ujian Terbuka

Favian pun mempraktikkan alat tersebut pada para pengunjung yakni wali murid yang sedang mengambil rapor hasil belajar siswa.

Ketika dia menyalakan lampu alias flash HP pada sensor alat cerdas itu, keluarlah baju-baju yang tergantung di jemuran. Alat katrolnya mengerek jemuran untuk keluar dari ruangan.

Sebaliknya ketika dia meneteskan air pada sensor maka jemuran tersebut terkerek otomatis ke dalam ruangan.

Meski masih dalam bentuk prototipe, Favian merasa lega bahwa masalah jemuran ibunya itu terpecahkan.

Memang prototipe yang dibuat dengan biaya satu juta itu masih perlu diwujudkan dalam bentuk alat nyata yang bisa berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Favian Ghanisakha R. dengan Smart Hydrosense Hanger (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Tongkat Tunanetra

Kepala Smamsatu Nurul Ilmiah yang ikut melihat pameran secara langsung dari satu stan ke stan lainnya itu menjelaskan, karya Favian itu merupakan salah satu alat teknologi serbaguna berbasis arduino yang dibuat siswanya sebagai P5 dan proyek tematik.

Baca Juga:  SMP Muhammadiyah 3 Jombang Sambut Hangat Kegiatan Upgrading IPM Smamsatu Gresik

Sebanyak 17 karya dihasilkan oleh siswa kelas XI Saintek dan dipamerkan di Sabtu pagi itu bersamaan dengan penerimaan rapor.

Selain Smart Hydrosense Hanger, karya menarik lainnya adalah tongkat tunanetra yang bernama Visionary Cane karya Kelompok 3 Kelas XI Saintek 5.

Satria Akbar W., anggota kelompok tersebut, menjelaskan, alat untuk membantu penyandang disabilitas tunanetra itu dia siapkan bersama kelompoknya selama empat bulan dengan biaya Rp 700 ribu hasil urunan 7 orang anggota kelompok.

“Untuk riset, kita cari dulu permasalahan yang ada di sekitar, kita mempunyai tunanetra yaitu buta. Terus kita menemukan ada jalan yang buat orang tunanetra itu banyak yang rusak. Mereka ada yang terbentur tiang. Makanya kita buat alat Visionary Cane ini,” ungkapnya pada Tagar.co.

Alat itu menggabungkan ultrasonic sensor dan pemrograman arduino. “Coding gitu, yang memprogram saya sendiri, belajar lihat YouTube, otodidak,” ujarnya.

Baca juga: Pembelajaran Coding dan AI dengan Pendekatan Joyful Learning

Tidak mudah bagi Satria membuat alat yang diakuinya masih memiliki beberapa kelemahan itu. “Kan ini masih belum 100 persen bisa digunakan oleh orang tunanetra, makannya masih banyak error,” ungkapnya.

Misalnya belum sempurna sensornya. “Atau saat membuat adruino sempat ngalamin salah masukin pin, jadinya kebakar. Jadi harus ngelakuin trial and error dulu,” ungkapnya.

Kekurangan lain alat ini masih belum bisa mendeteksi lubang ataupun jalan yang agak anjlok, karena sensornya cuma satu sisi.

Satria Akbar W. dengan Visionary Sensor (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Deteksi Maling

Karya lain yang menarik adalah alat pendeteksi maling. Alat ini bisa mendeteksi orang yang akan berbuat jahat karena itu dianjurkan dipasang atau di-on-kan pada malam hari. Dengan asumsi maling beraksi di malam hari.

Baca Juga:  Safari Ramadan Smamsatu di Spensagres: Tutor Sebaya Tebar Energi Ramadan

Jika ada objek atau orang yang mendekati pintu bergerak ke kanan dan ke kiri dengan jarak sekitar satu meter maka akan terdeteksi oleh alat ini dengan mengeluarkan bunyi.

Alat bernama Kezo Guard ini diciptakan Zulfikar Ahmad S. dan kawan-kawannya Kelompok 2 Kelas XI Saintek 5 karena terinspirasi banyaknya maling atau pencuri di Kota Gresik.

Dengan budget yang cukup murah, Rp 128 ribu, alat ini menggunakan arduino yang diprogram melalui coding. Zulfikar berterus terang ide alat ini juga terinspirasi dari kanal YouTube kemudian dimodifikasi.

“Masih ada error di sensor, misalnya tidak ada yang lewat apapun tiba-tiba ke-detect. Muncul bunyi sensornya,” dia mengakui kelemahan alatnya.

Coding di Smamsatu: Automatic Bridge (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Jembatan Otomatis

Alat yang bernama Automatic Bridge ini konsepnya itu seperti palang pintu kereta api. “Jadi kalau kereta api lewat ‘kan ada gerbang yang menutup ‘kan ya. Nah ini dipindah jadi jembatan, sama konsepnya,” ujar Mario Cahyo Arsono dari Kelas XI Saintek 3

Alat ini punya dua sensor. Pertama, saat kapal hendak lewat—sekitar 100 meter—maka pintu gerbang kendaraan yang mau lewat tertutup.

Kedua, setelah pintu jembatan tertutup, sehingga tak ada kendaraan darat yang berada di jembatan, maka sensor kedua mendorong jembatan terangkat ke atas sehingga sungai terbuka lebar. Kapal pun lewat dengan aman.

Waktu terangkatnya jembatan ini ini bisa diatur. Untuk prototipe ini hanya diatur 9 detik. “Kalau untuk dipraktikkan, sebaiknya menggunakan penjaga, gunanya untuk memantau biar aman,” ujarnya.

Alat yang hanya membutuhkan anggaran,  paling murah, Rp 130 ribu ini dibuat oleh kelompok bernama Brilliant dalam waktu dua bulan.

Coding di Smamsatu: Drone Arduino karya Kelompok 1 Kelas Saintek 4 (Tagar.co/Mohammad Nurfatoni)

Drone Arduino

Karya siswa lain yang juga menarik perhatian adalah Drone Arduino yang dipamerkan oleh Kelompok 1 Kelas Saintek 4 ini punya tagline ‘Solusi Terbang yang Pintar’

Baca Juga:  Kontribusi Ikhlas Anggota Jadi Energi Kemajuan Muhammadiyah

Rasya Attauhidan Cahyawan, salah satu anggota kelompok, mengatakan ide pembuatan alat ini dari ayahnya yang  mempunyai hobi membuat pesawat remote.

Drone yang bisa naik hingga 200 meter—-lebih aman diterbangkan kurang dari 100 meter—ini dibuat selama dua bulan plus sepekan.

Ngerakitnya semingguan, kalau pengodingannya dua bulan,” kata Rasya yang belajar coding atau pemrograman secara autodidak.

Drone yang dibuat kelompok ini memiliki kamera yang tersambung pada monitor secara live. Jihan Mutiara Tsani, anggota kelompok lainnya, pun memamerkan HP yang layarnya menunjukkan pantauan kamera.

Dibuat dengan biaya Rp 800 ribu—terbesar untuk biaya monitor, drone ini hasil karya dari berbagai mata pelajaran: Matematika, Fisika, Informatika, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

“Untuk kimia berhubungan dengan baterainya, bahasa Indonesia dengan presentasi dan infografis. Bahasa Inggris dengan presentasinya,” terang Jihan.

Selain Rasya dan Jihan, bergabung dalam kelompok ini adalah: Donata Aulia Vanessa, Khoirunnisa Zahrotul Jannah, Malvin Airlangga, M. Nafis Firdausi, dan Altha van Radita Pratama.

Seorang pengunjung (kanan) di stan Drone Arduino yang dipamerkan oleh Kelompok 1 Kelas Saintek 4 (Tagar.co/ Mohammad Nurfatoni)

Serba Otomatis

Kepala Smamsatu Nurul Ilmiyah menjelaskan semua karya siswa yang dipamerkan siswa Kelas Sainstek ini berbasis arduino yang dibuat melalui coding atau pemrograman. “Jadi semua otomatis sifatnya,” katanya.

Arduino adalah platform pengembangan elektronik terbuka yang memungkinkan pengguna membuat berbagai proyek elektronik, seperti robot, sensor, sistem otomasi, dan lain-lain. Arduino dapat diprogram dan memungkinkan interaksi dengan perangkat keras eksternal

Selain alat-alat yang disebutkan di atas ada juga alat vacuum penyapu kotoran, alat pendeteksi gas atau asap rokok, dispenser sabun, pemilah sampah organik dan anorganik, atau kipas angin hemat energi, dan sebagainya.

Karya para siswa ini membuktikan bahwa di Smamsatu coding bukan wacana yang baru melainkan sudah taraf implementasi pembuatan arduino. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni