
Sebuah foto tua membuka kembali kenangan tentang seorang ayah sederhana, yang meninggalkan jejak tak ternilai bagi anak-anaknya.
Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Aku masih ingat jelas, sore itu duduk menatap foto tua yang baru saja dicetak ulang. Dalam foto itu, tampak sosok ayahku, Surya Mahendra, dengan seragam lusuhnya, berdiri di samping ibu, Ratna Kusuma.
Wajah mereka sederhana, tapi sorot matanya memancarkan sesuatu yang sulit kucari pada zaman sekarang: kejujuran yang tulus. Foto itu seperti membawa kembali potongan hidupku ke masa lalu, seakan membuka album yang lama terkunci.
Ayahku bukan orang besar, bukan pula pejabat tinggi. Pangkatnya dalam kepolisian tak pernah meroket, hanya sebatas cukup untuk menghidupi kami sekeluarga.
Baca cerpen lainnya: Istana yang Menjadi Sirkus Waktu
Namun, bagi kami anak-anaknya, ia adalah tiang rumah tangga yang kokoh. Lahir di Bantul pada tahun 1920-an, ia melewati masa sulit penjajahan, revolusi, hingga konflik daerah. Dari Manado hingga Banjarnegara, ayah selalu membawa kami berpindah mengikuti tugasnya.
Salah satu cerita yang paling sering kudengar dari mulut kakak-kakakku adalah tentang masa pemberontakan di Sulawesi. Kala itu, dua truk polisi ditembaki dari atas bukit. Dalam ketegangan itu, ayah turun seorang diri, mendaki bukit, dan entah bagaimana bisa berdialog langsung dengan pimpinan pemberontak.
Anehnya, sejak saat itu mereka mau berdamai dengan polisi, meski tidak dengan tentara. Bagi kami, itu terdengar bagai kisah mustahil, tetapi itulah ayah. Keberaniannya tak pernah digembar-gemborkan, tetapi dikenang diam-diam.
#
Namun, satu peristiwa di Banjarnegara benar-benar menancap di hatiku. Suatu pagi, sebuah karung besar dikirim ke rumah. Katanya berisi beras. Kami anak-anak hanya menatap curiga, tak berani membukanya. Sore harinya, ayah pulang, dan karung itu akhirnya dibuka.
Betapa kagetnya kami, di dalamnya bukan beras, melainkan gepokan uang, hanya ditutupi jadah di bagian atas. Itu jelas sogokan dari seorang pengusaha terkenal.
Aku bisa melihat wajah ayah mengeras. Tanpa menunda, ia memanggil dua kakakku dan memerintahkan agar uang itu segera dikembalikan. Bayangkan, di masa ketika gaji polisi pas-pasan dan anak-anaknya masih sekolah, ia menolak begitu saja.
“Kerja apa pun, di mana pun, kejujuran itu nomor satu,” katanya dengan suara berat. Kalimat itu terus terngiang dalam ingatanku, bahkan hingga ia wafat bertahun-tahun kemudian.
Kehidupan kami memang tak pernah berlimpah. Banyak yang mengira ayah bisa saja hidup mewah jika sedikit saja ia mau melirik godaan. Tetapi ia memilih jalan yang lurus. Uang sogokan kembali ke pengirimnya, meski kami masih harus menghemat nasi dengan lauk seadanya. Itulah ayahku: keras pada prinsip, lembut pada keluarga.
Setelah pensiun, kesehariannya sederhana. Ia merawat ibu yang mulai sakit-sakitan, hingga akhirnya ibu meninggal lebih dulu. Sejak saat itu, ayah seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia sering terlihat duduk lama di makam ibu, berlama-lama dalam diam. Lima tahun kemudian, ia pun menyusul. Mereka kini beristirahat berdampingan, meninggalkan kenangan dan pesan yang tak pernah usang.
##
Dan kini, ketika aku menatap foto itu lagi, aku tersadar. Banyak orang di luar sana yang mungkin tak mengenal nama ayahku. Ia bukan pahlawan yang tertulis di buku sejarah, bukan pula sosok yang digambarkan dalam monumen. Tetapi bagi kami anak-anaknya, ia adalah guru kehidupan.
Ironisnya, ketika aku mendengar berita tentang aparat atau pejabat yang tertangkap tangan karena korupsi, aku selalu membandingkannya dengan ayah. Zaman boleh berubah, gaji boleh naik berkali lipat, tetapi mengapa kejujuran justru makin langka? Di mana hilangnya figur-figur seperti ayah, yang berani menolak sogokan meski keluarganya hidup pas-pasan?
Hari ini, di ruang tamu rumahku, foto ayah itu kugantung. Setiap kali anakku bertanya, “Siapa dia?”, aku selalu menjawab dengan suara bangga, “Itu kakekmu, orang paling jujur yang pernah aku kenal.” Karena memang benar, warisan termahal yang ditinggalkannya bukanlah tanah, rumah, atau harta, melainkan satu kalimat sederhana yang mengubah cara pandangku terhadap hidup:
“Kerja apa pun, di mana pun, kejujuran itu nomor satu.”
Aku menutup album foto itu dengan senyum getir. Namun, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang membuat jantungku berdetak lebih kencang. Pada sudut bawah foto tua itu, samar-samar ada tulisan tangan: “Untuk Sahabatku, Darmawan.” Nama itu asing bagiku. Siapa Darmawan? Mengapa fotoku bersama ayah dan ibu bisa bertuliskan nama orang lain?
Aku memicingkan mata, mencoba mengingat. Tidak, aku tidak pernah mendengar ayah punya sahabat bernama itu. Rasa penasaran menjalar jadi kegelisahan. Bagaimana jika foto itu bukan milik keluarga kami sejak awal? Bagaimana jika selama ini aku menyimpan kenangan yang bercampur dengan kisah orang lain?
Malam itu aku tidak bisa tidur. Foto itu masih menatapku dari meja, seakan menyimpan rahasia yang belum terungkap. Mungkin, ada cerita lain yang belum sempat ayah bagikan. Atau mungkin, kejujuran yang ia jaga seumur hidup ternyata meninggalkan jejak yang tak pernah aku duga. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












