Feature

Riset Mahasiswa UMM: Mberot Bisa Jadi Wadah Pendidikan Karakter

47
×

Riset Mahasiswa UMM: Mberot Bisa Jadi Wadah Pendidikan Karakter

Sebarkan artikel ini
Salah satu kelompok bantengan/mberot yang ada di Malang Raya

Fenomena kesenian mberot di Malang Raya sering dilekati stigma buruk. Melalui penelitian mendalam, mahasiswa UMM menunjukkan bahwa di balik gebyar atraksinya, mberot menyimpan nilai pambudi luhur yang relevan untuk membentuk generasi muda.

Tagar.co – Fenomena kesenian mberot di Malang Raya tengah menjadi sorotan publik. Popularitasnya kian meluas, hingga tercatat ada sekitar 1.336 kelompok bantengan yang menaungi kesenian tersebut.

Tidak hanya orang dewasa, generasi alpha—anak-anak usia sekolah dasar—juga aktif mengikutinya. Namun, di balik semarak panggung, mberot kerap dilekati stigma negatif: pertunjukan yang ricuh, praktik minuman keras, hingga perilaku tak terkendali.

Kondisi inilah yang menggerakkan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menelisik lebih jauh.

Melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH), mereka melakukan penelitian bertajuk “Gayenge Malang: Kajian Pambudi Luhur Budaya Mberot Menggunakan Metode Gioia untuk Mitigasi Pergeseran Karakter Generasi Alpha di Wilayah Malang.”

Baca juga: Dari UMM untuk Siswa Slow Learner: Smart Box yang Menghidupkan Peta

Tim riset ini diketuai Meilisa Tri Adinda Putri bersama anggota Febila Serlina Efendi, Fitriya Maharani, Ana Maulida Azura, dan Wiga Septiyan Vindiani.

Baca Juga:  Paradoks Keberagamaan: Ibadah Ramai, Moral Sosial Melemah

“Selama ini mberot lebih sering dilihat dari sisi negatif, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang justru bisa membentuk karakter anak-anak,” ujar Meilisa, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang idterima Tagar.co, Kamis siang (25/9/25).

Melihat Mberot dari Sisi Lain

Menurut Meilisa, kesenian rakyat ini sesungguhnya berpotensi menjadi media pendidikan karakter yang kontekstual sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal.

Dengan metode Gioia—teknik analisis kualitatif yang memberi ruang eksplorasi mendalam—tim menelusuri praktik mberot melalui observasi lapangan di Kabupaten Malang (Desa Tajinan, Kecamatan Turen), Kota Malang, dan Batu.

Mereka mewawancarai berbagai pihak: pelaku mberot usia sekolah dasar, pemilik sanggar, guru, kepala sekolah, hingga penonton. Dari interaksi itu, muncul beragam testimoni yang mematahkan stigma negatif.

“Yang pertama dengan melibatkan adik-adik kita, yang paling utama adalah untuk memperkenalkan seperti apa sih kebudayaan kita yang utama ini, dengan harapan agar nanti kita tidak kehilangan budaya-budaya yang ada di Indonesia,” ungkap salah satu pemilik sanggar mberot.

Pernyataan tersebut selaras dengan pengalaman pemain maupun penonton. Mereka menilai mberot menumbuhkan nilai positif: anak lebih suka bersosialisasi, tidak kecanduan gawai, serta terlatih motorik kasarnya.

Baca Juga:  UMM dan Aisyiyah Paciran Perkuat Kemandirian Ekonomi Perempuan

“Di tempat latihan, iya bareng-bareng. (Ikut mberot) seru, temannya banyak,” tutur Reval, siswa sekolah dasar di Kota Malang yang aktif di kelompok mberot daerahnya.

Nilai Pambudi Luhur

Hasil riset menemukan tiga aspek utama nilai pambudi luhur dalam budaya mberot: moral etika, kearifan lokal, serta religius spiritual.

Dua aspek pertama tampak lebih dominan, menunjukkan bahwa mberot tidak sekadar atraksi fisik, melainkan ruang internalisasi nilai yang relevan bagi generasi muda.

Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., dosen pembimbing riset, menegaskan perlunya reposisi makna mberot.

“Jika hanya menyoroti perilaku-perilaku negatif saat pertunjukan, maka mberot akan terus dicap negatif. Padahal, ada filosofi pambudi luhur yang bisa digali. Mahasiswa perlu hadir untuk mengembalikan esensi budaya ini sebagai sarana pendidikan karakter,” jelasnya.

Mitigasi Pergeseran Karakter

Tim mahasiswa UMM ini tidak berhenti pada kajian akademik. Mereka menawarkan strategi mitigasi agar mberot tidak bergeser menjadi praktik yang rawan disalahgunakan. Salah satunya dengan merumuskan panduan berbasis nilai pambudi luhur yang bisa diterapkan di sanggar maupun sekolah dasar.

Baca Juga:  UMM Buka Jalur Beasiswa Khusus Aktivis OSIS/MPK/IPM

Harapannya, generasi alpha dapat menjadikan mberot bukan hanya tontonan hiburan, melainkan wadah pembelajaran moral, sosial, dan spiritual. Dengan begitu, budaya rakyat yang kerap dicap negatif ini justru bisa bertransformasi menjadi media penguatan karakter generasi muda. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni