Feature

Dari UMM untuk Siswa Slow Learner: Smart Box yang Menghidupkan Peta

54
×

Dari UMM untuk Siswa Slow Learner: Smart Box yang Menghidupkan Peta

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa UMM mendampingi siswa slow learner SDN Sukun 2 Malang belajar mengenal peta Jawa Timur menggunakan Interactive Smart Box Explorer Map di perpustakaan sekolah. (Tagar.co/Humas UMM)

Lima mahasiswa UMM merancang media pembelajaran berbentuk kotak interaktif berisi peta 3D Jawa Timur. Hasilnya, anak-anak slow learner kian bersemangat belajar mengenal geografi.

Tagar.co – Di sebuah ruang perpustakaan SDN Sukun 2 Kota Malang, Jawa Timur, sekelompok siswa tampak melingkar di meja panjang. Mereka menatap penuh rasa ingin tahu ke arah sebuah kotak besar berisi peta tiga dimensi Jawa Timur yang dihiasi warna-warni mencolok.

Seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan sabar menunjuk simbol-simbol di atas peta, sementara anak-anak mencoba menebak nama kota yang ditandai. Suasana belajar terasa akrab, hangat, sekaligus penuh semangat.

Baca juga: ScrapSculpt: Inovasi Mahasiswa UMM untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Pemandangan ini bukan sekadar aktivitas belajar biasa. Kotak pintar bernama Interactive Smart Box Explorer Map itu lahir dari tangan lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UMM melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM).

Mereka adalah Fadhilah Aulia, Merlin Siti Khodijah, Dea Saputri, Putri Novita Sari, dan Khalimatus Zahro Assovia.

Baca Juga:  Program Terpadu UMM: Lulus S1–S2 Cuma 5 Tahun

Jawaban atas Tantangan di Kelas

Inovasi ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi sembilan siswa slow learner di SDN Sukun 2—enam di kelas IV dan tiga di kelas V. Mereka kerap kesulitan memahami materi peta yang dianggap abstrak dan rumit.

Situasi makin menantang karena sekolah reguler ini belum memiliki guru pendamping khusus. Guru kelas pun harus mengatur strategi agar bisa melayani siswa reguler dan slow learner sekaligus.

“Di SDN Sukun 2, nilai akademik rata-rata siswa slow learner berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75. Media ajar yang tersedia juga belum sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena itu, kami berusaha menghadirkan media alternatif yang bisa lebih ramah dan mudah dipahami,” jelas ketua tim, Fadhilah Aulia.

Belajar Interaktif dengan Peta 3D

Smart box didesain berbentuk kotak tanpa tutup, dengan dasar berupa peta 3D Jawa Timur. Setiap kota atau kabupaten diberi warna berbeda, lalu ditandai dengan tutup botol berkode huruf, misalnya “M” untuk Malang.

Baca Juga:  Aisyiyah Jatim Ajak Umat Hadirkan Islam yang Kontekstual

Miniatur gunung ditambahkan agar anak lebih mudah mengenali bentuk geografis. Untuk melengkapinya, ada kartu (flashcard) yang menjelaskan arti simbol dan komponen peta.

Siswa kelas IV diajak fokus mengeksplorasi peta 3D, sementara kelas V bisa memanfaatkan papan tambahan berupa peta Indonesia di sisi kotak. Desain visual yang penuh warna, ditambah unsur sentuhan langsung, membuat anak lebih betah belajar dan tak cepat kehilangan fokus.

Dampak Positif Sejak Uji Coba

Proyek ini telah selesai 100 persen dan sudah digunakan langsung di SDN Sukun 2. Respons siswa menunjukkan hasil yang menjanjikan: mereka lebih antusias, senang, dan aktif terlibat dalam pembelajaran. Walau hasil pre-test dan post-test masih diproses, tanda-tanda keberhasilan sudah terlihat dari perubahan minat belajar.

“Harapan kami, media ini tidak hanya menjadi sarana bantu, tetapi juga memotivasi guru agar tidak ada lagi pembedaan antara siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus,” ujar Fadhilah.

Ke depan, tim mahasiswa UMM ini berencana menyempurnakan media tersebut, misalnya dengan menambahkan unsur permainan. Mereka juga menargetkan inovasi ini bisa melangkah lebih jauh hingga ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas), sembari membuka jalan lahirnya media pembelajaran inklusif lainnya. (#)

Baca Juga:  Program CoE UMM Dorong Mahasiswa Siap Kerja di Industri Sawit

Penyunting Mohammad Nurfatoni