
“Berpulangnya guru kita, Pak Rohmat, merupakan kehilangan yang sangat besar,” kata Ketua PDM Trenggalek Wicaksono.
Tagar.co – Awal tahun 2025 membawa suasana berbeda pada Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Trenggalek. Untuk kali pertama , pengajian ini berlangsung tanpa kehadiran Drs. Rohmat, M.M., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Trenggalek tahun 2010-2022, yang telah berpulang.
Sosok dia yang juga pelopor berdirinya sekolah-sekolah inovatif Muhammadiyah di Trenggalek, seperti SD Muhammadiyah, MBS, dan SLB Muhammadiyah, meninggalkan jejak mendalam bagi warga persyarikatan.
Baca juga: Pelatihan Menulis Berita Jadi Gong Program Komunitas Penggerak Literasi Ralina Trenggalek
Kepergian Rohmat bertepatan dengan pergantian tahun Masehi dari 2024 ke 2025, seolah menjadi pengingat akan berharganya waktu.
Dua peristiwa ini pun menjadi benang merah yang mewarnai Pengajian Ahad Pagi di MBS 3 Trenggalek, Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, Ahad 5 Januari 2025.
Suasana khidmat menyelimuti Aula Muhammadiyah Bordoang School (MBS) 3 Trenggalek. Pengajian diawali dengan penampilan energik Tapak Suci dari MBS Watulimo, seolah mencerminkan semangat perjuangan yang diwariskan oleh almarhum Rohmat.

Kemudian, Dr. Suripto, M.Pd.I., Wakil Ketua PDM Trenggalek, membuka pengajian dengan iftitah yang menyentuh kalbu. Dia berkali-kali mengingatkan jemaah tentang kisah penuh makna dari K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang mengajarkan surat Al-Ashr selama lebih dari delapan bulan kepada para santrinya.
“K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan santrinya surat Al-Ashr, tentang pentingnya menggunakan waktu agar tidak termasuk orang-orang yang merugi, selama delapan bulan. Terus-menerus sampai santrinya bosan,” ungkap Suripto, mengawali tausiahnya.
Dia kemudian menekankan betapa singkatnya hidup manusia. “Usia Rasulullah Muhammad Saw 63 tahun. Sama dengan beliau (K.H. Ahmad Dahlan). Mungkin usia kita tidak akan lebih dari 70 tahun. Hanya sedikit yang usianya melebihi itu. Malaikat maut sewaktu-waktu menjemput kita. Jarang yang lolos setelah 70 tahun,” lanjutnya, mengingatkan jamaah akan kefanaan hidup.
Suripto lantas mengajak jemaah untuk merenungi bagaimana selama ini mereka menghabiskan waktu. “Kita banyak menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak ada nilai ibadah; tidur, makan, ngopi, cangkrukan. Tapi kita mengharapkan surga yang penuh kenikmatan. Karena itu, kita harus mengisi waktu-waktu kita untuk beribadah,” tegasnya.
Setelah pengajian iftitah, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Sang Surya, dan Mars ‘Aisyiyah. Semangat kebangsaan dan perserikatan berpadu harmonis, menciptakan suasana yang membangkitkan gairah.

Drs. Wicaksono, M.Pd.I., Ketua PDM Trenggalek, dalam sambutannya, kembali mengenang sosok almarhum Rohmat. “Berpulangnya guru kita, Pak Rohmat, merupakan kehilangan yang sangat besar. Tugas-tugas beliau di PDM diganti oleh Pak Agus Tamami, dan tugas Pak Agus Tamami akan diisi oleh Mas Ardanu dari Suruh. Jangan samakan saya dengan beliau. Saya tidak ada apa-apanya,” ujarnya merendah.
Meski merasa kehilangan, Wicaksono, mengajak seluruh warga Muhammadiyah Trenggalek untuk tetap semangat dan merapatkan barisan. “Kita harus tetap semangat dalam ber-Muhammadiyah, semangat menulis permintaan sumbangan pembangunan amal usaha Muhammadiyah, dan berbagai agenda persyarikatan. List permintaan sumbangan di grup-grup WA Muhammadiyah itu adalah sarana kita menuju surga. Hutang kita masih banyak, 700 juta. Bila dibagi untuk jamaah Muhammadiyah Trenggalek, maka setiap individu seharusnya iuran satu juta,” paparnya, memotivasi jamaah.
K.H. Imam Ad-Daruquthni, Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI), yang hadir sebagai pembicara utama, menguatkan kembali tentang pentingnya waktu. “Wal Ashr, maknanya Allah bersumpah untuk diri Allah sendiri tentang pentingnya waktu. Al-Ashr bukan sekadar waktu, tapi waktu yang berkemajuan,” jelasnya.
Dia menekankan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. “Al-Ashr adalah surat yang mengingatkan manusia agar tidak rugi, tekor. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu. Makan, ngopi, tidur, merokok, dan lain-lain. Siapa yang hari ini lebih baik, maka dia untung. Siapa yang sama dengan kemarin, berarti rugi. Siapa yang hari ini lebih buruk, maka dilaknat,” tegasnya.
Imam Ad-Daruquthni mengingatkan waktu adalah sesuatu yang paling setia. “Ketika kita tidur, pena penulisan amal kita diangkat. Begitu juga untuk anak yang belum baligh dan orang yang kehilangan akal. Karena itu, gunakanlah waktu sebaik-baiknya,” tuturnya, menutup tausiyah dengan pesan yang mendalam.
Pengajian Ahad Pagi PDM Trenggalek kali ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang waktu, kepergian, dan warisan perjuangan. Semangat Drs. Rohmat, MM., sang pelopor, akan terus hidup dalam setiap gerak langkah Muhammadiyah Trenggalek, menjadi pengingat untuk selalu mengisi waktu dengan amal kebaikan, menuju rida Ilahi. (#)
Jurnalis Kamas Tontowi Penyunting Mohammad Nurfatoni












