
Menjadi Muhammadiyah harus kafah (totalitas). Karena dengan kafah yang lahir batin, maka warga Muhammadiyah akan bisa masuk surga secara bersama-sama.
Tagar.co – Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Faturrahman Kamal, berpesan kepada warga Muhammadiyah Trenggalek untuk ber-Muhammadiyah secara kafah, bukan on off.
Hal itu dia sampaikan dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Trenggalek di MBS Tahfidz Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Ahad, (01/03/2026)
Dia meyakinkan warga persyarikatan, bahwa semua warga Muhammadiyah akan masuk surga bersama-sama, asal dalam bermuhammadiyah bisa kafah. “Yakni secara lahir batin bersama-sama, bukan sendirian. Karena setan itu senang mengganggu orang yang sendirian,” katanya.
Fathurahman Kamal pun menulis Al-Qur’an Surat Al Hajj ayat 11.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ࣙاطْمَـَٔنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ࣙانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ
Di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi (tidak dengan penuh keyakinan). Jika memperoleh kebaikan, dia pun tenang. Akan tetapi, jika ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Dia merugi di dunia dan akhirat. Itulah kerugian yang nyata.
Dia menyatakan, ada orang yang masuk Muhammadiyah itu kalau menguntungkan, bukan karena totalitas. Maka tentu akan rugi.
Problem Keimanan
Dia mengaku prihatin, persoalan kita sebagai umat Islam ini bukan karena tidak membaca Qur’an, akan tetapi banyak orang yang membaca al Qur’an sementara kelakuannya tidak Qur’ani.
“Persoalan hakiki adalah keimanan. Jika persaudaraan tidak didasarkan keimanan berarti pura-pura. Maka sesama muslim tidak boleh menzalimi, setiap muslim harus selamat dari mulut dan sosial media,” ulasnya.
Dia memberi contoh, sampai hari ini, hari ke-12 puasa di bulan Ramadan, masih ada yang saling menghujat terkait perbedaan awal puasa. “Padahal kita di Tarjih tidak berpolitik untuk menentukan awal puasa, tidak menunggu Prabowo,” guyonnya.
Baca Juga: Sai dan Isra Mikraj Dikupas dalam Pengajian Ini
Dia memberi contoh lagi terkait situasi terkini, yakni terjadinya perang antara Amerika dan Iran.
“Iran Islam atau bukan? Anak-anak kita, program bersama Adi Hidayat, ketika mau belajar ke Tripoli, dipaksa harus landing ke Oman. Kalau nekat landing di Qatar, pesawatnya akan dibom. Padahal mereka itu, Iran dan Qatar sesama muslim. Yaman dan Saudi sesama Islam, tapi karena beda pandangan, mereka saling lempar bom,” ucapnya.
Menurut Kamal, persoalan umat Islam hari ini adalah, selalu bersama Qur’an, tapi tidak ber-efek. Tidak membekas di hati dan jiwa. Banyak orang sesama Islam tapi saling mengkafirkan, membidahkan.
“Contoh yang lain. Setiap pelantikan pejabat selalu disumpah Qur’an. Bupati, Gubernur, Menteri, Presiden semua disumpah dengan Al-Quran. Tapi uang negara hilang terus. Beberapa Kementerian dikendalikan oleh orang Islam. Bahkan kementerian yang mengurus masuk surga, tapi perilakunya ahli neraka. Kalau nggak kelompoknya susah naik pangkat, susah naik jabatan,” bebernya.
Maka Kamal pun mengajak warga Muhammadiyah untuk terus mentadaburi al-Qur’an. Tidak sekadar dengan akal murni, tetapi mentadaburi dengan kejujuran, kalbu, dan keinginan berubah.
Ajak Besarkan MBS Tahfidz
Dia juga mengajak semua warga Muhammadiyah untuk bergotong royong membangun MBS Tahfidz Desa Ngulankulon, Trenggalek ini.
“MBS-nya bagus, masjidnya bagus, tanahnya hijau. Ini jalan masuk surga. Jangan kalah sama Mama Gufron. Apa alasanmu tidak masuk surga? Kita warga Muhammadiyah layak masuk surga. Tapi harus serius. Jangan on off. Munkar Nakir sudah memiliki data dari Rakib Atid. Mereka sudah punya data,” ucapnya.
Kamal juga mengatakan, tidak mungkin kita bermuhammadiyah tanpa ilmu. Maka gedung MBS yang bagus ini harus terjaga: baik ilmu, maupun ideologinya.
“Orang Muhammadiyah itu tidak suka membid’ahkan. Mereka berIslam bukan hanya lisan, tapi juga nalar. Bukan hanya nalar, tetapi juga hati. Irfani, burhani, dan bayani,” pungkasnya.(#)
Jurnalis Kamas Tontowi Penyunting Nely Izzatul












