
Pada momen halalbihalal IGABA Gresik, Wakil Ketua PWM Jatim M. Sholihin Fanani berbagi tips mendidik anak ala Imam Al-Ghazali dan menguatkan semangat guru PAUD agar tetap jadi inspirasi umat.
Tagar.co – Sabtu pagi (12/4/2025), halaman Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Kabupaten Gresik tampak ramai. Sekitar lima ratus guru dari KB, TK, dan TPQ Aisyiyah se-Kabupaten Gresik berbondong-bondong hadir untuk mengikuti kegiatan halalbihalal Ikatan Guru Aisyiyah (IGABA). Senyum mengembang dan saling menyapa menjadi pemandangan yang menghangatkan suasana Syawal yang masih tersisa.
Namun, ada satu momen istimewa yang membuat pertemuan kali ini terasa lebih bermakna: kehadiran Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. M. Sholihin Fanani, MPSDM. Di hadapan ratusan guru PAUD, ia menyampaikan pesan-pesan mendalam dan inspiratif yang tak hanya menggugah semangat, tetapi juga menguatkan makna profesi sebagai pendidik anak usia dini.
Mendidik Anak dengan Lembut, Bukan dengan Amarah
Mengawali tausiyahnya, Sholihin berbagi kiat mendidik anak yang dikutip dari pemikiran Imam Al-Ghazali. Salah satu hal yang ditekankan adalah waktu-waktu terbaik untuk memberikan nasihat kepada anak.
“Ada tiga waktu yang tepat untuk menasihati anak,” ujarnya. “Saat akan tidur, saat makan, dan ketika bepergian bersama.” Ia mencontohkan bagaimana dongeng sebelum tidur, seperti kisah kancil mencuri timun, bisa terekam kuat dalam memori anak hingga dewasa.
Baca juga: Tambah Suwe Tambah Yakin: Iman Itu Menular
Ia juga mengajak para guru untuk menasihati anak dengan pendekatan lembut dan penuh kasih sayang. Ada tiga cara, katanya: kinestetis, intonatif, dan substantif.
“Dekati anak, elus punggungnya, dan bicara dengan suara lembut. Itu cara kinestetis yang paling efektif, tingkat keberhasilannya 57 persen,” jelas Sholihin. Sementara cara intonatif – menggunakan nada suara yang menyejukkan – berada di angka 37 persen, dan cara substantif – hanya menekankan isi nasihat – hanya 6 persen.
Dengan gaya bicara yang santai dan menyentuh, ia menantang para peserta, “Panjenengan saat mengajar anak, lebih mengutamakan isi atau cara?”

Lima Nasihat Emas dari Imam Al-Ghazali
Sholihin melanjutkan dengan lima prinsip mendidik anak menurut Imam Al-Ghazali yang relevan hingga kini:
-
Jangan membiasakan anak makan makanan yang terlalu lezat, agar tidak menjadi tukang makan, tetapi tukang berpikir.
-
Jangan memanjakan anak dengan pakaian bagus-bagus, supaya tidak tumbuh menjadi pribadi yang sombong.
-
Sesekali ajak anak tidur di lantai, agar tak terbiasa hidup nyaman dan malas beribadah.
-
Jangan memberi sesuatu secara cuma-cuma, latih mereka dengan syarat seperti menyapu atau menghafal doa.
-
Jangan memarahi anak di depan umum, karena bisa merusak jiwanya dan menghancurkan masa depannya.
“Saat kita marah dengan keras, ada 350 juta syaraf anak yang putus,” ujarnya, mengingatkan dengan tegas namun penuh kasih.
Empat Peran Strategis Guru
Tak lupa, Sholihin juga menyinggung peran guru yang tidak ringan. Setidaknya ada empat tugas utama yang harus diemban guru:
-
Administrasi – bagian rutin pekerjaan.
-
Memberikan motivasi – menumbuhkan semangat belajar anak.
-
Kolaborasi – bekerja sama dengan orang tua (60%), sekolah (20%), dan masyarakat (20%).
-
Menjadi inspirasi – membentuk kesan bahwa guru adalah sosok panutan dan sahabat bagi murid.
“Anak-anak seringkali lebih patuh kepada guru dibanding orang tuanya. Maka jadilah guru yang bisa dikenang sebagai sosok terbaik di sekolah,” pesan Sholihin.
Tanda-tanda Orang Bertakwa
Menjelang akhir tausiyah, ia mengajak para peserta merenungi ciri orang bertakwa sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 134:
-
Suka memberi – “Lebih baik alhamdulillah bisa memberi daripada sekadar diberi,” ujarnya. “Bahkan senyuman pun termasuk pemberian.”
-
Menahan amarah – “Mengelola emosi itu penting. Nabi bersabda, laa taghdob walakal jannah – jangan marah, bagimu surga.”
-
Pemaaf dan tidak pendendam – Sebuah sifat luhur yang harus dimiliki pendidik sejati.
Memberi, kata Sholihin, memang berat. Tapi jika dibiasakan, akan menjadi karakter. “Guru yang hebat adalah guru yang suka memberi. Orang tua yang berhasil adalah orang tua yang suka memberi,” pungkasnya.
Kegiatan halalbihalal kali ini bukan sekadar ajang saling maaf dan temu kangen, tetapi juga menjadi ruang penyegaran batin dan penguatan peran para guru PAUD dalam mencerdaskan dan membentuk akhlak generasi mendatang.












