Feature

Tambah Suwe Tambah Yakin: Iman Itu Menular

54
×

Tambah Suwe Tambah Yakin: Iman Itu Menular

Sebarkan artikel ini
Wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. M. Solihin Fanani, MPSDM saat memberikan tausiyah pada momen Halalbihalal Ikatan Guru Aisyiyah (IGABA) Kabupaten Gresik di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Gresik, Jawa Timur, Sabtu, 12 April 2025 (Tagar.co/ Nadhirotul Mawaddah).

Tausiah Wakil Ketua PWM Jatim di hadapan guru-guru Aisyiyah Gresik menggugah kesadaran: Iman yang sejati tak hanya tumbuh dalam diri, tapi juga memancarkan semangat dan keteladanan bagi sekitar.

Tagar.co – Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Gresik tampak semarak Sabtu pagi itu (12/4/2025). Ratusan guru Aisyiyah dari seluruh penjuru Kabupaten Gresik berkumpul dalam kegiatan halalbihalal yang dirangkai dengan pertemuan rutin Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA). Namun ada yang berbeda kali ini: suasana hangat makin terasa saat Wakil Ketua PWM Jawa Timur, Dr. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, tampil memberikan tausiah penuh energi.

Dengan gaya khasnya yang santai namun menggugah, Sholihin menyampaikan materi bertajuk “Tingkatkan Ketakwaan dengan Membangun Sinergi, Saling Menguatkan, dan Memaafkan.” Ia mengajak seluruh peserta mengawali pertemuan dengan mengucap hamdalah. “Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam hamba Allah yang pandai bersyukur,” ujarnya.

Ciri Orang yang Mendapatkan Nikmat Iman dan Islam

Menurut Sholihin, orang yang merasakan nikmat iman dan Islam akan menunjukkan peningkatan dalam keyakinan dan keaktifan beragama seiring waktu. “Tambah suwe tambah yakin, tambah suwe tambah rajin,” ucapnya, yang kemudian disambut para peserta dengan melafalkannya berulang-ulang seperti mantra penyemangat.

Baca Juga:  Sebelum Bel Itu Benar-Benar Berbunyi

Baca juga:Guru PAUD Penjaga Akidah Sejak Dini, Pesan Ketua PDM Gresik

Baginya, indikator keberhasilan puasa Ramadan bukan hanya selesai menjalankan kewajiban, tetapi juga tampak dari peningkatan kualitas iman yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan: ibadah, pekerjaan, hingga kehidupan rumah tangga.

“Yakin terhadap ketentuan Allah, takdir Allah, dan pertolongan Allah,” tegasnya, sembari mengajak peserta untuk merenung tentang apa yang menjadi sumber keyakinan dan apa yang membuat seseorang rajin beribadah dan bekerja.

Ratusan guru KB, TK dan TPQ Aisyiyah sedang menyimak materi yang disampaikan oleh Wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. M. Solihin Fanani, MPSDM di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Gresik, Jawa Timur, Sabtu, 12 April 2025 (Tagar.co/ Nadhirotul Mawaddah).

Lima Keyakinan Bekerja di Muhammadiyah

Dalam kesempatan itu, Sholihin juga membeberkan lima keyakinan yang harus dimiliki oleh guru dan karyawan di lingkungan Muhammadiyah:

  1. Bekerja adalah perintah Allah Swt.
    “Bukan karena kepala sekolah, bukan ketua IGABA, bukan ketua PDM, tapi ini perintah Allah,” ujarnya. Jika keyakinan ini tertanam, maka bekerja akan terasa ringan dan membahagiakan. “Insyaallah, dengan begitu, bekerja jadi mudah, gembira, dan… gemuk-gemuk,” ujarnya sambil berseloroh, disambut gelak tawa hadirin.

  2. Bekerja akan mendapat pertolongan Allah.
    Pertolongan Allah itu luas, tidak hanya dalam bentuk materi. “Badan sehat, anak baik, rezeki cukup, itu semua bentuk pertolongan dari-Nya,” tambahnya.

    Ia mencontohkan, meskipun gaji guru SD secara hitungan matematis tampak pas-pasan, banyak yang tetap bisa menyicil rumah, mobil, menyekolahkan anak, hingga memondokkan. “Itu bukti nyata balasan Allah,” tegasnya.

  3. Bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah pasti dibalas Allah.
    Sholihin mengutip surah Muhammad ayat 7, “Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Ia meyakinkan peserta bahwa balasan dari Allah itu pasti dan nyata.

  4. Setiap pekerjaan diawasi oleh Allah.
    Bukan pengurus yang mengawasi, melainkan Allah langsung. Karenanya, ia menasihati agar bekerja dengan niat tulus, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. “Dalam bermuhammadiyah, kita harus ngadek, jejek, madep, mantep, mancep,” ujarnya, meminjam istilah Jawa yang menggambarkan keteguhan dan keikhlasan.

  5. Akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
    Ia menyinggung surah Yasin ayat 64 dan Az-Zalzalah ayat 7–8 tentang bagaimana tangan dan kaki akan menjadi saksi atas amal manusia. “Kenapa mulut dikunci? Karena lisan kadang tidak jujur,” ujarnya. Maka dari itu, setiap aktivitas—baik maupun buruk—pasti akan tampak balasannya, baik di dunia maupun akhirat.

Baca Juga:  Wakil Ketua PWM Jawa Timur Kunjungi Sekolah Kreatif Baratajaya

Semangat yang Menular

Ceramah Sholihin Fanani bukan hanya memberi pencerahan, tetapi juga menyemai motivasi baru bagi para guru Aisyiyah. Kalimat “tambah suwe tambah yakin, tambah suwe tambah rajin” kini menjadi pengingat sederhana namun kuat tentang bagaimana nikmat iman dan Islam harus tercermin dalam laku hidup sehari-hari.

Dengan menyatukan semangat spiritual dan profesionalisme kerja, pertemuan ini menjadi lebih dari sekadar halalbihalal: ia menjadi titik temu antara keikhlasan mengabdi dan kesadaran akan amanah yang besar sebagai pendidik generasi masa depan. (#)

Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni