Feature

Tiga Jurus Membangun Sekolah Unggulan yang Diminati

38
×

Tiga Jurus Membangun Sekolah Unggulan yang Diminati

Sebarkan artikel ini
Suasana Rakorda Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Bojonegoro, Jumat (4/7/25)

Di tengah derasnya arus perubahan, sekolah Muhammadiyah dituntut tak sekadar bertahan, tapi juga unggul dan diminati. Rakorda Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro merumuskan tiga jurus membangun sekolah unggulan yang berkarakter.

Tagar.co – Bagaimana menciptakan sekolah unggulan yang tak hanya berkualitas tetapi juga diminati masyarakat? Pertanyaan itu menjadi fokus utama dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro yang digelar Jumat  (4/7/2025) di Gedung Dakwah Muhammadiyah Bojonegoro.

Rakorda kali ini menjadi momen strategis karena bersamaan dengan penyerahan penghargaan final MEA Awards 2025 tingkat Kabupaten Bojonegoro. Namun lebih dari itu, forum ini menghadirkan gagasan segar tentang bagaimana sekolah-sekolah Muhammadiyah bisa tampil lebih relevan, kompetitif, dan tetap berkarakter.

Baca juga: Juara Umum, MTs Muga Sumberrejo Boyong Piala Bergilir MEA 2025

Dalam sambutannya, H. Yazid Mar’i, M.Pd., Wakil Ketua PDM sekaligus Koordinator Bidang Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro, mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya rakorda yang sebelumnya sempat tertunda. Ia menegaskan pentingnya sekolah Muhammadiyah untuk terus beradaptasi dan tidak tertinggal oleh zaman.

“Perkembangan pendidikan terus berjalan. Kita tidak bersaing dengan sekolah Muhammadiyah atau sekolah negeri, tetapi dengan perubahan zaman itu sendiri,” ungkapnya.

Ia menyinggung konsep deep learning sebagai pendekatan pembelajaran mutakhir yang bisa menjadi solusi atas tantangan pendidikan saat ini. Hal ini, menurutnya, sejalan dengan pesan Ali bin Abi Thalib: “Didiklah anakmu, karena mereka diciptakan untuk zaman yang bukan zamanmu.”

Wakil Ketua PDM Bojonegoro H. Yazid Mar’i M.Pd.I (di podium) saat menyampaikan sambutan, Jumat (4/7/2025) (Tagar.co/Machmud Shofi)

Tiga Pilar Sekolah Unggulan

Yazid Mar’i kemudian memaparkan tiga pilar penting agar sekolah Muhammadiyah bisa menjadi unggulan dan diminati.

Pertama, visi yang jelas (clear vision). Sekolah harus tahu arah yang dituju, kurikulum yang diterapkan, serta visi dan misi yang dijalankan. Sinergi antara majelis, komite, guru, dan wali murid menjadi kunci. Ia menekankan perlunya standard operating procedure (SOP) yang terukur dan dipahami seluruh pemangku kepentingan—mulai kepala sekolah hingga orang tua.

“Visi dan misi harus disosialisasikan ke semua pihak agar ada kesesuaian dan sinergi. Parenting juga penting untuk menyampaikan perkembangan anak kepada orang tua,” ujarnya.

Kedua, nilai inti atau core value. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah tak boleh hanya berjalan sekadarnya. Ia harus memiliki ciri khas dan daya tarik tersendiri di tengah masyarakat. Tak cukup menyalin sistem sekolah lain, setiap sekolah perlu menciptakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks lokal.

“Hampir semua siswa kita berasal dari lingkungan sendiri. Maka bagaimana SD/MI Muhammadiyah bisa menyambung dengan SMP/MTs Muhammadiyah? Harus ada jembatan inovatif agar siswa tidak lepas ke sekolah lain,” jelasnya.

Ketiga, lingkungan yang bersih dan sehat (clean and green). Sekolah Muhammadiyah harus menjadi tempat yang nyaman, rindang, dan menyenangkan bagi anak-anak. Kebersihan, taman hijau, serta suasana yang higienis dan estetis akan memperkuat citra sekolah. Lebih dari itu, guru-guru perlu menyambut siswa dengan ramah dan perhatian, layaknya anak sendiri.

“Sekolah yang ramah anak akan meningkatkan kualitas dan kuantitas secara alami. Harapannya, semua pikiran dan tindakan kita sejalan dengan tagline sekolah Muhammadiyah: ‘Kemajuan dan Berkeadaban’,” pungkasnya.

Dengan pendekatan semacam ini, Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro berharap sekolah-sekolah Muhammadiyah bisa menjadi pelopor pendidikan berkualitas yang tetap membumi, berkarakter, dan berdaya saing di tengah masyarakat. (#)

Jurnalis Machmud Shofi Penyunting Mohammad Nurfatoni