Buku

Seandainya Kau Tahu: Pesan Nabi yang Menggetarkan Jiwa

27
×

Seandainya Kau Tahu: Pesan Nabi yang Menggetarkan Jiwa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Tagar.co/Atho’ Khoironi

Dengan gaya lembut namun menghunjam, buku ini menampilkan hadis-hadis pilihan yang mampu membangunkan nurani dan menggerakkan hati untuk lebih dekat kepada Allah.

Oleh M. Anwar Djaelani, Penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 12 judul lainnya

Tagar.co – Kita mudah lupa. Buku ini potensial menjadi pengingat yang baik. Iman kita naik turun. Buku ini bisa berfungsi sebagai pengungkit yang apik. Oleh karena itu, Andai Engkau Tahu patut menjadi sahabat di keseharian.

Rasakanlah, misalnya, di halaman 32. Nabi Muhammad Saw. mengingatkan, “Andai manusia mengetahui keutamaan salat Isya dan Subuh, mereka pasti mendatanginya walaupun merangkak” (H.R. Bukhari-Muslim).

Penggunaan frasa “Seandainya engkau tahu” telah berulang kali disampaikan Nabi Saw. Hal itu menunjukkan bahwa apa yang disampaikan Rasulullah Saw. adalah sesuatu yang seharusnya kita perhatikan dan laksanakan semampu mungkin.

Baca juga: Tarbiah sebagai Jalan Membangun Peradaban

Tentang salat Isya dan Subuh, misalnya, ditemukan berbagai hikmah bagi kehidupan seorang mukmin. Dari sisi hubungan yang kuat antara hamba dan Sang Pencipta, menjadi pembeda antara keimanan dan kemunafikan, hingga manfaat untuk kesehatan dan lainnya.

Penulis buku ini mengumpulkan lebih dari 50 hadis sahih dan menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami. Semua terangkum dalam semangat “Seandainya manusia tahu”, “Seandainya kamu tahu”, “Apakah kamu tahu?”, dan sejenisnya (h.1).

Berbagai Pesona

Buku ini dibuka dengan bahasan tentang mengumandangkan azan dan bergegas ke masjid untuk salat berjemaah (h.2). Ini pilihan yang tampaknya disengaja oleh penulis. Bukankah dalam sehari semalam kita mendengar azan lima kali?

Baca Juga:  Pandangan Isa Anshary tentang Kekuatan Lisan dan Tulisan Natsir serta Tokoh Lain

Selalu ingatlah hadis ini:

“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada dalam azan salat dan saf pertama, lalu mereka tidak dapat meraihnya melainkan harus diundi, tentulah mereka mengundinya. Seandainya mereka mengetahui pahala bergegas menunaikan salat berjemaah, tentulah mereka akan berlomba melakukannya. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada dalam salat Isya dan Subuh, tentulah mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak” (H.R. Bukhari-Muslim).

Terbit Cemburu

Cinta karena Allah merupakan tali iman yang kuat dan termasuk amal saleh. Pelakunya diberi pahala. Bahkan, terkait hal ini, para nabi pun cemburu (h.117–118). Perhatikan hadis ini:

“Sesungguhnya saya benar-benar mengetahui suatu kaum yang bukan nabi atau para syuhada, tetapi para nabi dan para syuhada cemburu kepada mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah.”

Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, beri tahu kami siapa mereka itu?”

Nabi Saw. menjawab, “Mereka adalah manusia dari berbagai kabilah yang berbeda, tetapi mereka saling mencintai karena Allah. Demi Allah, wajah mereka bercahaya dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia lain takut dan tidak bersedih saat manusia lain bersedih” (HR Abu Ya’la Al-Maushili).

Sabda Nabi Saw., amal saleh mereka adalah mencintai sesama karena Allah, bukan karena urusan dunia. Mereka mencintai saudaranya karena istiqamah dalam agama Allah, dan mereka saling tolong-menolong dalam ketaatan (h.119).

Cinta karena Allah merupakan ibadah dengan pahala besar. Rasulullah Saw. memuji orang-orang yang saling mencintai karena Allah (h.120–121):

Baca Juga:  Dua Kehati-hatian Menuju Akhirat: Cinta dan Kebiasaan

“Amalan yang paling disukai adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah” (HR Ahmad).

“Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah kecuali yang paling Allah cintai di antara mereka adalah yang paling besar cintanya kepada sahabatnya” (HR Thabrani dan Abu Ya’la).

Sang Pengejar

Dulu, orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin datang mengadu kepada Rasulullah Saw. Sebuah riwayat dari Abu Hurairah Ra. (h.147):

Orang-orang fakir berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya pergi membawa derajat tinggi dan kenikmatan abadi.”

Rasulullah bertanya, “Apa maksudnya?”

Mereka menjawab, “Mereka salat sebagaimana kami salat, puasa sebagaimana kami puasa. Namun, mereka bersedekah sementara kami tidak. Mereka membebaskan budak, sedangkan kami tidak.”

Rasulullah bersabda, “Maukah kalian saya ajari sesuatu yang bisa membuat kalian mengejar orang sebelum kalian, mengalahkan yang datang setelah kalian, dan tidak ada seorang pun yang lebih utama kecuali yang melakukan seperti yang kalian lakukan?”

Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Bertasbih, bertahmid, dan bertakbirlah setiap selesai salat masing-masing 33 kali.”

Kemudian mereka datang lagi dan berkata, “Saudara-saudara kami yang kaya mendengar amalan itu, lalu mereka mengamalkannya juga.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Itulah keutamaan Allah yang Dia berikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki.”

Terus Istikamah

Sedikit amalan tapi rutin. Itu judul di halaman 172. Diriwayatkan dari Aisyah Ra., Rasulullah Saw. bersabda:

“Tepatkanlah usahamu dan dekatilah kebenaran. Ketahuilah bahwa salah seorang di antara kalian tidak masuk surga karena amalannya, dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang rutin meskipun sedikit” (HR Bukhari-Muslim).

Baca Juga:  Sembuh tanpa Kambuh: Ikhtiar Medis dan Spiritualitas Menuju Kesehatan Sejati

Amal saleh yang istikamah adalah bukti keimanan, walau sedikit (h.174).

Seseorang bertanya kepada Aisyah Ra., “Apakah Rasulullah Saw. mengkhususkan sesuatu dalam hari-harinya?”

Aisyah menjawab, “Tidak, tetapi amal beliau istikamah. Siapa di antara kalian yang mampu melampaui kemampuan Rasulullah?”

Ia juga berkata, “Keluarga Muhammad, jika beramal, maka mereka mengerjakannya dengan istiqamah” (H.R. Muslim).

Amalan Terbaik

“Amalan yang terbaik”—itulah judul di halaman 175. Hadis Nabi Saw.:

“Istikamahlah kalian dan kalian tidak akan mampu menjangkau seluruh jalan kebajikan. Ketahuilah, sebaik-baik amalan kalian adalah salat. Dan tidak ada yang mampu menjaga wudu kecuali seorang mukmin” (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan Ad-Darimi).

Istiqamah berarti komitmen dalam menjalankan agama Allah. Taat tanpa menambah atau mengurangi.

Sangat Bermanfaat

“Buku ini hadir sebagai penyejuk jiwa,” tulis penerbit dalam pengantarnya. “Di dalamnya tersaji hadis-hadis pilihan yang sarat motivasi dan hikmah,” lanjutnya.

Isi buku ini padat. Selain tema-tema yang telah dibahas di atas, masih banyak bahasan penting lain yang diangkat. Mungkin sebagian besar isinya sudah pernah kita baca. Tapi, bisa jadi sudah kita lupakan. Bisa pula, belum kita amalkan, atau hanya sesekali.

Alhasil, buku ini menjadi pengingat. Buku ini menjadi penyemangat. Buku ini sungguh bermanfaat. Alhamdulillah!

Identitas Buku

  • Judul: Andai Engkau Tahu; Amal-Amal Istimewa yang Diajarkan Nabi
  • Penulis: Syekh Muhammad Al-Arifi
  • Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
  • Tahun Terbit: April 2025
  • Tebal: xi + 243 halaman (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni