
Menjadi pemimpin organisasi mahasiswa bukan hanya soal jabatan, tapi tentang bertahan di tengah tekanan. Di balik jas almamater, ada lelah, air mata, dan keteguhan hati.
Oleh: Nasrawi; Presiden Mahasiswa BEM Universitas Muhammadiyah Surabaya, Mahasiswa S1 Keperawatan FIK UM Surabaya 2024
Menjadi mahasiswa itu satu hal. Menjadi mahasiswa yang aktif berorganisasi, dua hal. Tapi menjadi mahasiswa, aktif organisasi, dan dipercaya memimpin? Selamat! Kamu resmi memasuki babak baru kehidupan: mode survival. Bukan hanya bertahan hidup, tapi juga bertahan waras.
Semua tampak megah di awal. Nama disebut dalam acara pelantikan, disambut tepuk tangan meriah. Bahkan mantan yang biasanya cuma view story tiba-tiba nge-chat, “Selamat ya, bangga deh!” Senyum merekah. Akhirnya aku diakui, pikir kita. Rasanya seperti adegan klimaks film: musik latar mengalun, kamera zoom-in ke wajah bahagia.
Tapi semuanya berubah saat deadline menyerang.
Tugas kuliah menumpuk. Rapat datang bertubi-tubi, dari pagi hingga lewat tengah malam. Jadwal organisasi bertabrakan dengan UTS. Notulen belum rampung, tapi makalah lima bab sudah menanti. WhatsApp group kementerian tiba-tiba sunyi saat diminta progres. Kita pun bertanya-tanya: Ini organisasi atau reality show uji kesabaran?
Baca juga: IMM Kaizen Diharapkan Jadi Mutiara di UM Surabaya
Drama internal kadang lebih kompleks dari sinetron prime time. Ada staf yang tiba-tiba menghilang, lalu muncul saat acara besar sambil berkata, “Maaf, kemarin aku sakit hati… eh, maksudnya sakit perut.”
Atau program kerja yang sudah disusun rapi, mendadak batal karena dana turun sepekan setelah acara usai. Rasanya kita bukan hanya pemimpin, tapi juga pesulap: harus bikin acara tetap jalan meski dana dan tenaga hampir habis.
Lalu datanglah ujian yang tak tertulis dalam AD/ART organisasi: ujian perasaan.
Orang yang dulu mendukung, kini mulai menjauh. Awalnya bilang, “Jangan capek-capek ya.” Lama-lama jadi, “Kamu beda sekarang, sibuk banget!” Lah? Bukannya dulu bangga aku jadi pemimpin? Kok nadanya berubah kayak dosen killer pas ngasih kuis mendadak?
Kita mulai mempertanyakan semuanya—organisasi, hubungan, bahkan diri sendiri.
Di balik unggahan foto formal pakai jas almamater dan senyum percaya diri, tersembunyi jam tidur dua jam per hari. Rasa lapar karena rapat molor lewat jam makan. Proposal bolak-balik direvisi karena birokrasi minta tanda tangan ulang, padahal kemarin sudah ACC. Kita bahkan lebih hafal jalur ke ruang birokrasi ketimbang ke ruang dosen pembimbing.
Yang paling menyakitkan? Saat kita mulai percaya bahwa pemimpin harus selalu kuat. Bahwa menangis itu lemah. Bahwa capek itu tak boleh dirasa. Bahwa istirahat hanya untuk mereka yang “kurang serius.”
Padahal, kita ini manusia. Kita punya batas. Bukan robot. Bukan superhero.
Namun, anehnya… kita tetap bertahan.
Kenapa? Karena ada yang percaya pada kita. Karena ada staf yang tiba-tiba mengirim pesan, “Terima kasih, Kak Pres, sudah percaya aku pegang acara ini.” Karena ada adik tingkat yang bilang, “Aku gabung organisasi karena terinspirasi Kakak.” Karena ada teman seperjuangan yang diam-diam saling menguatkan di tengah letih dan rapuh.
Jadi pemimpin bukan soal siapa yang paling bersinar di panggung, tapi siapa yang tetap hadir di balik layar, bahkan saat lelah. Bukan soal siapa paling tegas, tapi siapa paling sabar saat tim mulai limbung. Kepemimpinan bukan gelar mewah. Ia adalah kesediaan untuk tetap peduli—meski hati sedang kacau.
Kalau hari ini kamu merasa belum jadi versi terbaik dirimu, bisa jadi kamu sedang menjalani versi terkuatmu. Kalau malam ini kamu menangis sambil nulis laporan evaluasi, tak apa. Itu bukan tanda lemah. Itu bentuk keberanian.
Dan kalau besok pagi kamu tetap datang rapat, tetap tersenyum, tetap tangguh… maka kamu luar biasa.
Sejatinya, pemimpin bukan mereka yang tak pernah jatuh, tapi mereka yang bangkit meski kakinya gemetar. Bukan yang sempurna, tapi yang terus belajar. Bukan yang bebas dari masalah, tapi yang tetap punya hati.
Untukmu yang sedang menjabat, memimpin, atau bahkan ingin menyerah: istirahatlah sebentar. Tapi jangan berhenti.
Karena kamu bukan sekadar menjalankan jabatan. Kamu sedang menulis sejarah. Meninggalkan jejak. Mewariskan cerita. Menjadi inspirasi bagi mereka yang akan datang.
Dan suatu hari, saat kamu membaca tulisan ini kembali, kamu akan tersenyum dan berkata:
“Hebat juga ya, aku dulu sampai sejauh itu.”
Selamat memimpin, wahai manusia luar biasa. Dan yang terpenting, tetaplah jadi manusia.
Salam hangat dan salam perjuangan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












