
Selama dua hari, siswa SD Mumtas merasakan hidup ala santri: belajar kitab kuning, salat tahajud, zikir berjemaah, hingga menyelami akhlak dan adab dalam tradisi pesantren.
Tagar.co – Langit Surabaya tampak berawan ketika 14 siswa dan siswi dari SD Muhammadiyah 10 (SD Mumtas) Surabaya—berkumpul di halaman sekolah, Jalan Sidoyoso X/14–16.
Mereka bersiap memulai perjalanan yang bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual dan intelektual: mengikuti Pesantren Sabtu–Ahad (Pesad) di Pondok Pesantren Ummul Quroo, Semolowaru, Surabaya, Sabtu-Ahad (17–18/5/2025).
Dengan semangat membara, para peserta yang tergabung dalam Ekstrakurikuler Baca Kitab Kuning tampak tak sabar menapaki jejak kehidupan ala santri.
Baca juga: Menembus Baja, Menyelami Sejarah: Outing Class SD Mumtas di Museum De Javasche Bank
“Kami ingin merasakan langsung kehidupan pesantren dan belajar ilmu-ilmu klasik dari sumbernya,” ujar Akmal Raqilla Purnomo, salah satu peserta, dengan mata berbinar.
Setibanya di pondok, suasana pun berubah: lebih hening, lebih damai, namun tetap hidup. Bersama para asatiz dan asatizah, para siswa mulai mendalami pelajaran sharaf, ilmu tentang perubahan bentuk kata dalam bahasa Arab. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menghafalkannya.
“Kitab kuning itu kaya makna. Dengan sharaf dan nahwu dasar, kami bisa mulai memahami apa yang selama ini terasa rumit,” tutur Nafeeza Azalea Azahra.

Kitab Akidatul Awam—yang akrab di kalangan santri sebagai “Kitab Alala …”—menjadi jendela pertama untuk mengenal dasar-dasar akidah Islam. Disampaikan dengan gaya khas pesantren, para peserta menyimak dengan antusias, menyelami makna tiap bait yang dibacakan.
Tak berhenti di situ, mereka juga belajar kitab Tadzhib, yang memuat pelajaran akhlak dan adab. Kitab ini menjadi pengingat bahwa ilmu tak berarti tanpa budi pekerti. Nilai-nilai seperti menghormati guru, menjaga hati, serta beradab terhadap sesama disampaikan dengan cara yang membumi dan menyentuh.
Namun pengalaman mereka di pondok tak hanya soal teks dan tafsir. Di sela-sela pelajaran, mereka turut dalam salat berjemaah lima waktu, tahajud, dan zikir bersama—suasana yang jarang mereka rasakan di luar lingkungan pesantren. Interaksi dengan santri pondok lainnya memperluas wawasan dan menumbuhkan empati sosial.
Kemampuan public speaking pun diasah melalui praktik ceramah dan kultum singkat. Fisik mereka ditempa melalui kegiatan olahraga bersama, karena santri sejati bukan hanya kuat ilmunya, tetapi juga sehat raganya.
“Walaupun singkat, pengalaman ini sangat membekas,” ujar M. Husni Mubarok, guru pendamping kegiatan. “Kami ingin anak-anak tak hanya cerdas akademik, tapi juga matang secara spiritual dan sosial. Di sinilah mereka belajar hidup secara utuh.”
Pesad bukan sekadar program dua hari. Ia adalah pintu kecil menuju dunia besar yang bernama tafaqquh fiddin—mendalami agama secara serius. Bagi para siswa, dua hari ini menjadi bekal awal menjemput cahaya ilmu dan merintis jalan menuju generasi Qur’ani yang tangguh, rendah hati, dan berakhlak mulia.
Di tengah derasnya arus zaman, semangat mereka untuk mencintai kitab kuning dan kehidupan pesantren adalah oase harapan—bahwa masa depan masih punya tempat untuk ilmu, adab, dan keikhlasan. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












