Feature

Tekuni Usaha Katering sejak 1996, Fatihah Lansia Pejuang Keluarga

29
×

Tekuni Usaha Katering sejak 1996, Fatihah Lansia Pejuang Keluarga

Sebarkan artikel ini
Tekuni usaha katering sejak 1996, Fatihah lansia pejuang keluarga membesarkan ketujuh anaknya. Ia bergelut di dapur tiap hari sejak menjelang subuh. 
Kesibukan Fatihah (62) menyiapkan menu pesanan untuk makan siang. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Tekuni usaha katering sejak 1996, Fatihah lansia pejuang keluarga membesarkan ketujuh anaknya. Ia bergelut di dapur tiap hari sejak menjelang subuh.

Tagar.co – Usia kian menua tak menyurutkan semangat Fatihah (62) untuk menekuni usaha katering yang sudah dia rintis sejak tahun 1996.

Anggota Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Larangan, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo ini menjadi salah satu penerima manfaat program Pemberdayaan UMKM Lazismu Sidoarjo.

Setiap menjelang subuh, Fatihah bergelut dengan bermacam menu masakan di ruang dapur. Rumah sederhana yang menebarkan aroma masakan rumahan menggugah selera itu menjadi saksinya.

Ia sosok perempuan tegar yang membesarkan tujuh anak sendirian. Suaminya meninggal sejak anak ketujuhnya berusia 3 tahun.

Meskipun berat, Fatihah tidak pernah mengeluh. Ia selalu tersenyum dan ramah kepada setiap pelanggan. Rasa masakannya yang lezat dan harga yang terjangkau membuat “Kedai Emak” rintisannya semakin terkenal di lingkungan sekitar.

”Usaha ini sudah mulai sejak anak-anak masih sekolah. Memang ini yang mampu Ibuk lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehar-hari,” ungkapnya di sela kesibukannya menyiapkan makan siang untuk dia kirim ke perusahan pengolahan udang di Sidoarjo.

Baca Juga:  Merawat Urat Nadi Perserikatan, Lazismu Gresik Satukan Pengelolaan Dana Umat di Rakerda 2026

“Setiap hari saya menyiapkan 30 paket makan siang dengan berbagai menu masakan rumahan,” imbuhnya.

Seperti Ayam Goreng, Tempe Bacem, Ikan Goreng, Tumis Tumis Kangkung, Sop Iga, Sayur Asem, Nasi Kuning, Telur Bacem, Ikan Asin, Sayur Bening, Sambal Goreng Kentang, Sayur Lodeh, dan Sambal Goreng Teri.

Fatihah harus menjadi tulang punggung keluarga setelah suaminya meninggal. Awalnya ia hanya menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak, kemudian berikhtiar mencari nafkah.

Tekuni usaha katering sejak 1996, Fatihah lansia pejuang keluarga membesarkan ketujuh anaknya. Ia bergelut di dapur tiap hari sejak menjelang subuh. 
Fatihah, penerima manfaat program Pemberdayaan UMKM Lazismu Sidoarjo. Ia menyisihkan hasil usaha kateringnya dengan infak kaleng Lazismu Sidoarjo. (Tagar.co/Yekti Pitoyo)

Ahli Memasak

Keahlian memasak yang dia miliki menjadi modal membuka usaha katering. Awalnya, hanya menerima pesanan dari tetangga dan teman-temannya. Ia lalu bekerja keras, memasak dengan penuh kasih sayang, hingga akhirnya memberikan pelayanan yang terbaik.

Lambat laun, usaha kateringnya semakin berkembang. Fatihah pun mampu membiayai sekolah anaknya dan kebutuhan rumah tangganya.

“Sebelum masa Covid-19 dulu saya melayani beberapa kantor untuk menyediakan makan siang dan pesanan acara arisan dan rapat hajatan,” kenangnya.

Waktu itu ada tiga orang yang membantu. “Sekarang tinggal satu orang pekerja, tapi tetap saya bersyukur,” ucapnya.

Baca Juga:  Sebar Mubalig, Cahaya Muhammadiyah Terangi Pelosok Kalimantan Tengah

Meski sekarang ketujuh anak Fatihah sudah berumah tangga, namun ia masih harus menanggung biaya sekolah cucunya.

“Saya tetap harus semangat menjalankan usaha ini. Masih ada cucu yang harus saya biayai karena sudah tidak punya bapak. Sedang ibunya hanya guru TK swasta, berapa penghasilannya,” tambahnya (14/2/2025).

Fatihah membuktikan, perempuan bisa menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan dengan menjalankan usaha katering sederhana. Ia menunjukkan semangat pantang menyerah dan tekad kuat dalam menghadapi tantangan hidup walau di usia tidak muda lagi. (#)

Jurnalis Yekti Pitoyo Penyunting Sayyidah Nuriyah