Feature

Talkshow Berbagi Pengalaman Guru Mengajar

87
×

Talkshow Berbagi Pengalaman Guru Mengajar

Sebarkan artikel ini
Talkshow and Showcase Pembelajaran Mendalam Tahap 3 digelar di Sidoarjo. Para guru berbagi pengalaman mengajar terbaik untuk meningkatkan kualitas siswa.
Guru menyampaikan pengalaman mengajar di acara Talkshow Pembelajaran Mendalam Tahap 3 SMP se-Kabupaten Sidoarjo. (Tagar.co/Mahyuddin Syaifulloh)

Talkshow and Showcase Pembelajaran Mendalam Tahap 3 digelar di Sidoarjo. Para guru berbagi pengalaman mengajar terbaik untuk meningkatkan kualitas siswa.

Tagar.co – Puluhan guru SMP se-Kabupaten Sidoarjo berkumpul di SMP Negeri 1 Sidoarjo, Rabu (3/12/2025).

Mereka asyik mengikuti Talkshow & Showcase Pembelajaran Mendalam Tahap 3 bertema Bersinergi dan Berkolaborasi.

Kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik (best practice) sekaligus etalase karya-karya pembelajaran hasil pelatihan guru.

Sebagai tuan rumah sekaligus Ketua Panitia, Mat Nuri, S.Pd., M.M., membuka kegiatan dengan menegaskan pentingnya empat kompetensi guru di era sekarang.

Menurutnya, guru tidak hanya dituntut unggul secara pedagogis, tetapi juga memiliki kepribadian yang menyenangkan, kemampuan sosial yang baik, serta kompetensi profesional yang terus berkembang.

“Pedagogis itu tidak hanya soal mengajar, tapi juga bagaimana guru merencanakan pembelajaran dan melakukan asesmen dengan baik. Kompetensi sosial dan profesional juga harus berjalan seimbang. Guru harus mau belajar pembelajaran mendalam agar tidak tertinggal oleh zaman,” ujar Mat Nuri.

Hal senada disampaikan Mujiono Hariyanto, S.A.B., perwakilan BBGTK (Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan) Jawa Timur.

Baca Juga:  Wajah Sekolah, Ekspektasi Pendidikan Zaman Kini

Ia optimistis para guru mampu mengimplementasikan pembelajaran mendalam melalui pendekatan inkuiri kolaboratif.

Menurutnya, talkshow ini menjadi momentum penting untuk menyebarluaskan praktik baik yang telah dilakukan para guru di sekolah masing-masing.

“Anak-anak perlu dilatih berpikir kritis, kreatif, dan mampu berkolaborasi. Pembelajaran tidak lagi satu arah, tetapi memberi ruang bagi murid untuk menemukan, berdiskusi, dan menghasilkan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ronny Yulianowarso, A.P., M.HP., Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, menekankan dunia pendidikan saat ini tidak lagi menekankan persaingan, melainkan kolaborasi.

Ia mengapresiasi karya-karya yang ditampilkan dalam showcase sebagai bukti bahwa siswa mampu menyumbangkan gagasan dan menghasilkan produk nyata dari proses belajar yang bermakna.

“Ini bukan zamannya saling bersaing, tetapi saling menguatkan. Kolaborasi juga bisa memanfaatkan potensi lingkungan sekolah sebagai sumber belajar,” tuturnya.

Pengunjung melihat pameran karya siswa hasil pembelajaran mendalam. (Tagar.co/Mahyuddin Syaifulloh)

Talkshow dan Showcase

Pada sesi talkshow, sejumlah guru berbagi pengalaman praktik pembelajaran mendalam di sekolah masing-masing.

Cholishotus Saidah, S.Pd. dari SMP Harapan Tulangan menjelaskan, pembelajaran mendalam ia wujudkan melalui tahapan identifikasi masalah, perencanaan, implementasi, dan refleksi.

Baca Juga:  Sekolah Gratis, tapi Bayar

Baginya, kolaborasi bukan hanya bekerja bersama, tetapi juga sikap terbuka menerima pandangan orang lain.

Dari SMP Negeri 1 Jabon, Dwi Puspitasari, S.Pd., membagikan praktik pembelajaran Prakarya dengan tema pengolahan limbah lunak. Para siswa diajak mengolah limbah tekstil menjadi sandal yang bernilai guna.

Ia menegaskan, kegagalan dalam pembelajaran bukan terletak pada murid yang belum paham, melainkan pada guru yang kehilangan kesabaran.

“Guru tidak gagal ketika murid belum paham, tetapi guru benar-benar gagal saat ia kehilangan kesabaran,” ucapnya disambut anggukan para peserta.

Berbeda lagi dengan Dyah Mustikasih, S.Si. dari SMP Al-Muslim yang mengembangkan pembelajaran berbasis leadership dan entrepreneurship.

Ia menyadari tidak semua siswa memiliki potensi wirausaha, sehingga kegiatan tersebut dikemas dalam kegiatan kokurikuler yang terencana.

Para guru pun merancang modul proyek secara kolaboratif agar capaian pembelajaran tetap terpenuhi.

Umi Nadhifah, S.Pd. dari SMP Raudlatul Jannah mengintegrasikan pembelajaran karakter melalui penghayatan Asmaul Husna yang diwujudkan dalam seni kaligrafi.

Ia berkolaborasi dengan guru Seni Budaya dan Prakarya untuk mengembangkan nilai keindahan sekaligus penguatan karakter religius siswa.

Baca Juga:  Sinergi Lintas Jenjang di Muri: Menenun Keberlanjutan Belajar dari PAUD hingga SMP

Kegiatan kemudian ditutup dengan showcase karya siswa hasil pelatihan pembelajaran mendalam. Beragam karya dipamerkan, mulai dari panel surya, kaligrafi, pop-up book, poster ilmiah, kerajinan rumah adat, wayang, hingga berbagai produk kreatif lainnya.

Karya-karya tersebut menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya menghasilkan pemahaman konsep, tetapi juga keterampilan, kreativitas, dan karakter.

Talkshow dan showcase ini tidak sekadar menjadi ajang pamer karya, tetapi juga ruang refleksi bersama bahwa pendidikan yang bermakna lahir dari sinergi dan kolaborasi.

Dari guru yang saling belajar, siswa yang aktif berkarya, hingga dukungan seluruh pemangku kepentingan, pembelajaran mendalam di Sidoarjo terus menumbuhkan harapan akan pendidikan yang lebih relevan dan berdaya guna. (#)

Jurnalis Mahyuddin Syaifulloh  Penyunting Sugeng Purwanto