
Assembly Learning bertema “Cita-citaku” menghadirkan drama musikal edukatif yang memadukan IPAS, bahasa, seni, hingga nilai-nilai karakter dalam satu pertunjukan yang inspiratif.
Tagar.co – Suasana aula lantai 3 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya pada Kamis (4/12/2025) mendadak berubah meriah. Sejak pagi, siswa kelas II yang tampil dengan kostum beragam profesi—bak orang dewasa dalam miniatur dunia kerja—mempersembahkan drama musikal bertema “Cita-Citaku” dalam kegiatan Assembly Learning.
Baca jufa: Anak-Anak Kreatif Baratajaya Hidupkan Nilai Kebangsaan lewat Drama Musikal “Amazing Pancasila”
Kegiatan ini telah dirancang jauh sebelum pelaksanaan Sumatif Akhir Semester I sebagai puncak pembelajaran kontekstual pada materi “Profesi” di mata pelajaran IPAS. “Acara ini menjadi puncak dari pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan seluruh mata pelajaran ke dalam satu pertunjukan kreatif dan menyenangkan,” ujar Muchammad Fauzi, S.Pd., salah satu guru kelas II.
Aula tampak penuh warna berkat kostum siswa dari berbagai kelas. “Karena temanya ‘Cita-Citaku’, kostum siswa pun disesuaikan dengan profesi yang mereka impikan,” tambah Fauzi sebelum acara dimulai.

Senada dengan itu, guru kelas II lainnya, Mina Aprilia, S.Pd., menjelaskan peran yang dimainkan para siswa. “Mereka memerankan berbagai profesi yang mereka cita-citakan—mulai dari dokter, koki, guru, pilot, polisi, TNI, olahragawan, damkar, ilmuwan, hingga petani modern,” jelasnya.
Mina menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya pertunjukan semata. “Bukan sekadar hiburan, tetapi sarana agar siswa memahami pelajaran secara nyata dan bermakna. Dengan mengaitkan materi sekolah dengan cita-cita masa depan, siswa diharapkan dapat belajar lebih aktif, berani tampil, dan mengenali potensi diri sejak dini,” lanjutnya.
Baca juga: Assembly Learning Sekolah Kreatif Baratajaya: Drama Musikal yang Ajarkan Tauhid
Tepat pukul 08.00 WIB, Assembly Learning dimulai dengan sorak keceriaan yang memenuhi seluruh ruangan. Kepala Sekolah Kreatif Baratajaya, Elly Rhodlifah, S.H., M.Pd., memberikan apresiasi penuh kepada guru dan siswa.

“Terima kasih atas bimbingan ustaz dan ustazah kelas II yang telah mendampingi pembelajaran sehingga Assembly Learning ini dapat terselenggara. Untuk anak-anak hebat kelas II, ustazah Elly sangat berbangga. Semoga cita-cita kalian dapat terwujud,” ujarnya di hadapan para peserta.
Elly juga menyampaikan motivasi untuk seluruh siswa. “Agar cita-cita kalian tercapai, kalian harus rajin belajar. Belajar tidak mengenal lelah dan tidak mengenal tempat. Di mana pun, kalian bisa belajar,” pesannya.
Setiap adegan dalam pertunjukan dirancang selaras dengan materi pembelajaran di kelas. Pada bagian matematika, siswa menampilkan dialog ringan tentang menghitung kebutuhan alat kerja.
Dalam muatan Bahasa Indonesia, mereka menunjukkan kemampuan bercerita dan berbahasa dengan baik. Unsur seni budaya juga hadir melalui tarian dan lagu orisinal yang dibawakan penuh percaya diri.

Pembelajaran tematik terpadu tampak kuat ketika siswa memperagakan nilai-nilai karakter seperti kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab—nilai yang menjadi bagian penting dari Pendidikan Pancasila.
Salah satu siswa, Naifa Azkadina Nugroho dari kelas II Skateboard, tampil antusias mengenakan kostum pilot. “Aku senang karena aku dapat peran opening dengan lagu Meraih Mimpi. Kostumku sesuai dengan cita-citaku,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Antusiasme siswa semakin terasa ketika tiap adegan berakhir dengan tepuk tangan meriah. Pertunjukan ditutup dengan lagu “Aku dan Kamu Bisa” yang memuat pesan harapan dan mimpi masa depan, dilanjutkan jingle kreatif yang membuat seluruh ruangan kembali riuh oleh keceriaan.
Melalui kegiatan ini, sekolah menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga dapat dikemas dalam pengalaman nyata yang menginspirasi, menyenangkan, dan membangun kepercayaan diri peserta didik. Assembly Learning bertema “Cita-Citaku” menjadi bukti bahwa belajar bisa sangat bermakna ketika kreativitas dan kolaborasi menjadi bagian dari prosesnya. (#)
Jurnalis Ahmad Mahmudi Penyunting Mohammad Nurfatoni












