Feature

Sepuluh Nama Tersisa Satu, dan Itu Kamu

51
×

Sepuluh Nama Tersisa Satu, dan Itu Kamu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Pelajaran hari itu tak tercatat di buku, tapi tertulis dalam air mata. Ketika cinta diuji dalam sepuluh nama, Yusuf hanya bisa memilih satu.

Cerpen oleh Nurkhan, Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo, Panceng, Gresik, Jawa Timur.

Tagar.co – Langit siang itu menggantung seperti tabir kelabu. Tak ada rintik hujan, tapi udara terasa basah — oleh kenangan, oleh pertanyaan-pertanyaan sunyi yang tak terucap.

Ruang kuliah Prof. Harun dipenuhi mahasiswa. Tak satu pun dari mereka menduga bahwa perkuliahan hari itu bukan tentang teori psikologi, melainkan tentang hati—tentang luka, kehilangan, dan siapa yang akan tetap tinggal ketika yang lain pergi.

Baca juga: Hafalan Terakhir untuk Ayah

Profesor tua itu melangkah pelan ke depan kelas, membawa sebatang spidol hitam. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, menembus dinding dada para mahasiswa yang masih mengeja makna hidup.

“Siapa yang bersedia ke depan?” tanyanya. Suaranya lembut, tapi menyusup dalam.

Yusuf mengangkat tangan. Ia bukan yang paling pintar, bukan pula yang paling menonjol. Tapi ada ketenangan di wajahnya—tenang seperti sungai yang menyembunyikan arus di dasar.

Baca Juga:  Jalan Pulang

“Silakan, Yusuf. Tulis di papan tulis sepuluh nama orang terdekat dalam hidupmu.”

Yusuf melangkah ke depan. Jemarinya sempat ragu, lalu mulai menulis: tetangga baik hati, sahabat lama, rekan kerja, paman yang banyak membantu, ayah, ibu, dua saudara kandung, anak kecil berusia empat tahun yang memanggilnya ayah, dan terakhir, istri—perempuan yang sejak awal menemaninya dari titik nol.

Sepuluh nama terjejer rapi di papan, seperti sepuluh musim yang pernah memberi warna dalam hidupnya.

“Sekarang, coret tiga nama. Bayangkan mereka menghilang. Siapa yang bisa kamu relakan lebih dulu?”

Yusuf terdiam. Perlahan ia mencoret nama tetangga, sahabat, dan rekan kerja.

Wajah-wajah di kelas mulai serius. Ini bukan lagi permainan.

“Coret dua lagi,” ujar Profesor.

Yusuf menatap papan. Lama. Lalu mencoret nama pamannya dan salah satu saudara kandung.

Tinggal lima nama. Nafas Yusuf makin berat.

“Coret dua lagi.”

Dengan tangan gemetar, Yusuf mencoret nama ayahnya… lalu saudara kandung yang satu lagi. Kini hanya tersisa tiga nama: ibu, anak, dan istri.

Kelas senyap. Ketegangan menjalar ke seluruh ruangan. Ada yang menunduk. Ada yang mulai berkaca-kaca.

Baca Juga:  Putri dari Bayang-Bayang

“Coret satu lagi,” kata Profesor.

Yusuf menahan napas. Spidol di tangannya seperti beban. Lalu, dengan isakan yang ditahan, ia mencoret nama ibunya.

Seorang mahasiswi di pojok menunduk, menahan tangis. Tapi semua masih menunggu.

“Coret satu lagi.”

Waktu seperti membeku. Yusuf kini menatap dua nama: anak dan istri. Darah dan cinta. Daging dan jiwa. Mana yang akan ditinggalkan?

Tangannya bergetar. Ia mencoret nama anaknya.

Dan saat itu, tangisnya pecah. Ia menutup wajah, menenggelamkan kepala di lengan. Tangis yang tidak bisa dibendung—seolah mencairkan beban yang selama ini dipikul diam-diam oleh seorang lelaki yang terlihat kuat di luar.

Profesor membiarkan suasana itu menggantung. Ia tahu, ada pelajaran yang hanya bisa disampaikan oleh tangisan.

Setelah cukup lama hening, suara Profesor terdengar, pelan dan dalam:

“Kamu tidak memilih orang tuamu. Tidak pula anakmu. Tapi kenapa kamu memilih istrimu?”

Yusuf menatap papan tulis yang kini hanya menyisakan satu nama.

“Ibu saya,” katanya pelan, “akan pergi mendahului saya, menua, dan kembali kepada Tuhan. Anak saya… akan tumbuh dewasa, menemukan dunianya sendiri, dan suatu hari… ia juga akan pergi.”

Baca Juga:  "Ia Sudah Memaafkanmu. Tapi Kamu Tidak Pernah Tahu"

Ia menghela napas panjang. “Tapi istri saya… dia yang memilih saya, dari sekian banyak pria. Dia yang bertahan saat saya tak punya apa-apa. Dia yang memeluk saya saat gagal, dan mencium tangan saya saat berhasil.”

Suasana kelas berubah. Tak ada suara, tapi maknanya terasa penuh.

“Orangtua adalah anugerah dari Tuhan. Anak adalah titipan-Nya. Tapi istri… adalah pilihan saya. Dan dia pun memilih untuk tetap tinggal, dalam suka dan derita, dalam sehat dan sakit, dalam gelap dan terang.”

Tangis Yusuf masih mengalir. Tapi kali ini bukan tangis sedih. Ini adalah tangis kesadaran. Tangis penghormatan.

Hari itu, para pria di ruangan itu belajar mencintai lebih dalam. Dan para wanita merasa lebih dihargai dari sebelumnya.

Dan Yusuf? Ia pulang ke rumah. Mencium kening istrinya yang sedang menyiapkan makan malam, lalu membisikkan satu kalimat:

“Dari sepuluh nama dalam hidupku, hanya kamu yang kupilih… untuk tetap tinggal.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni