Cerpen

Putri dari Bayang-Bayang

69
×

Putri dari Bayang-Bayang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Nisa hanya ingin hidup biasa. Namun stigma membuatnya tumbuh dalam sunyi yang tak ia pilih.

Cerpen oleh Aji Damanuri

Tagar.co – Namaku Nisa. Aku adalah satu-satunya anak dari lelaki bernama Jarkoni—nama yang bagi banyak orang terdengar seperti ancaman, seperti noda yang tak boleh disentuh. Aku memanggilnya Ayah. Dan mungkin itulah kesalahanku yang paling besar di mata dunia.

Ayahku tidak lahir dari keluarga terpandang. Ia tumbuh dari lorong kemiskinan yang dianggap biasa saja oleh masyarakat sekitar—kemiskinan yang tak lagi memancing empati karena terlalu lazim untuk ditangisi.

Baca juga: Kenyang dari Sampah Masjid

Sejak kecil, Ayah telah belajar satu pelajaran pahit: menjadi miskin berarti menjadi tak terlihat. Ia ada, tetapi seolah tak pernah benar-benar dihitung.

Ia bekerja serabutan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan tubuh kurus dan mimpi yang jarang ditanyakan orang. Tak ada yang memeluknya ketika ia lelah. Tak ada yang menyemangatinya ketika ia gagal. Dunia mengajarinya bertahan, bukan berharap.

Lalu Ayah menikah dengan Ibuku. Dari pernikahan itu, hidupnya sedikit terangkat. Tidak kaya, tetapi cukup—cukup untuk merasa menjadi manusia. Ia punya keluarga, punya pekerjaan tetap, dan punya alasan untuk pulang setiap sore. Aku lahir di masa itu, masa ketika Ayah masih percaya bahwa kerja keras akan selalu berbuah baik.

Rumah kami kecil, tetapi hangat. Ayah pulang membawa lelah, lalu duduk di sampingku sambil bertanya pelajaran apa yang kupelajari hari itu. Ibuku tersenyum, menyiapkan teh, dan dunia terasa jinak. Untuk pertama kalinya, Ayah merasa diakui—bukan oleh masyarakat, melainkan oleh hidup itu sendiri.

Lalu datang hari-hari gelap itu. Corona.

Kata yang terdengar ilmiah dan jauh itu merenggut Ibuku lebih dulu, lalu adikku. Aku masih hidup—entah karena doa siapa. Namun Corona bukan hanya mencuri nyawa. Ia juga meninggalkan luka lain yang lebih sunyi: utang menggunung dari biaya pengobatan yang terlalu mahal bagi keluarga seperti kami.

Baca Juga:  Tiket Terakhir Menuju Pulang

Ayah menjual apa saja yang bisa dijual: motor, perabot, bahkan cincin kawin Ibuku. Tetapi tetap tak cukup. Utang itu menempel seperti bayangan. Dan ketika duka belum sempat sembuh, perusahaan tempat Ayah bekerja ikut ambruk. Ia di-PHK—bukan karena malas, melainkan karena dunia sedang runtuh bersama-sama.

Sekali lagi, Ayah tercecer.

Keluarga besarnya juga miskin. Mereka tak mampu menolong. Tetangga menjaga jarak—bukan karena takut tertular virus, melainkan karena takut tertular beban. Tak ada yang mau memberi utang.

“Percuma,” kata mereka dalam diam, “Jarkoni tidak akan bisa mengembalikan.”

Kepercayaan adalah barang mahal bagi orang miskin, dan Ayah tak pernah benar-benar memilikinya.

Sejak saat itu, Ayah berubah perlahan, seperti pohon yang akarnya digerogoti tanpa terlihat. Ia lebih banyak diam. Matanya kosong. Tangannya gemetar saat memegang foto-foto lama. Masyarakat menyebutnya kuat karena ia tak menangis di depan umum. Mereka tak tahu, setiap malam Ayah menangis dalam sunyi, memeluk udara kosong. Aku mendengarnya dari balik pintu—tangis yang ditelan gelap.

Untuk bertahan hidup, membiayai sekolahku, dan membayar utang yang terus mengejar, Ayah mengambil jalan yang tak pernah ia bayangkan. Ia masuk ke dunia terminal—dunia yang kasar, tetapi jujur dengan caranya sendiri. Dunia yang tak bertanya masa lalu, asal kau sanggup bertahan.

Ayah menjadi preman.

Sejak itu, hidupku ikut berubah. Di sekolah, bisik-bisik menjadi teman setiaku.

Baca Juga:  Bobby, Anak Istimewa yang Menghadirkan Makna Syukur

“Itu anaknya preman.”

“Hati-hati sama dia.”

Aku tak pernah berkelahi. Tak pernah mencuri. Namun dosa Ayah seolah mengalir di darahku. Aku dikucilkan tanpa diadili.

Guru-guru memandangku dengan curiga yang sopan. Tetangga tersenyum, tetapi menarik anaknya menjauh. Undangan ulang tahun tak pernah sampai ke tanganku. Aku belajar lebih cepat dari usiaku bahwa dunia sering kali menghukum bukan karena kesalahan, melainkan karena hubungan darah.

Setiap kali Ramadan tiba, luka itu terasa lebih perih. Musala di ujung gang selalu ramai oleh suara tadarus anak-anak. Aku pernah menjadi bagian dari mereka. Sekarang aku duduk di sudut rumah, mendengar ayat-ayat itu seperti rindu yang tak boleh kupeluk.

Kadang aku melihat Ayah dari kejauhan—duduk sendirian, botol di tangan, wajahnya keras seperti batu. Namun aku tahu, di balik itu hatinya hancur. Ayah tak pernah ingin menjadi orang yang ditakuti. Ia hanya ingin bertahan.

Aku ingin berteriak pada dunia: Ayahku bukan monster. Ia hanya lelaki yang patah terlalu dalam, terlalu sering, tanpa ada yang menyambutnya saat jatuh. Namun siapa yang mau mendengar anak penjahat?

Aku pernah bertanya, “Ayah, kenapa orang-orang membenci kita?”

Ia terdiam lama. Lalu berkata lirih, “Karena Ayah gagal jadi baik di mata mereka.”

Aku ingin bilang bahwa Ayah tetap baik di mataku. Namun kata-kata itu tertahan. Aku tahu Ayah menanggung rasa bersalah yang terlalu berat untuk ditambah.

Pada malam-malam tertentu, aku mendengar Ayah berbicara sendiri. Bukan kepada manusia—kepada Tuhan. Suaranya parau, penuh rintih. Ia menyesali hidupnya, bukan karena takut neraka, tetapi karena merasa telah menyeretku ke dunia yang keras. Aku pura-pura tidur, tetapi setiap katanya menusuk.

Baca Juga:  Di Balik Tangis Zafran, Ada Doa yang Tak Pernah Putus

Masyarakat di sekitar kami permisif. Mereka membiarkan luka tumbuh, lalu terkejut ketika ia berubah menjadi kejahatan. Mereka menutup mata pada kemiskinan, pada kesedihan, pada utang, pada manusia yang jatuh—lalu ramai-ramai mengutuk hasil akhirnya.

Aku tumbuh dengan pertanyaan yang tak pernah selesai: apakah seseorang ditakdirkan jahat karena pilihannya, atau karena tak ada tangan yang mau menggenggamnya saat ia jatuh? Dan mengapa anak-anak harus ikut menanggung dosa orang tuanya?

Aku belajar menundukkan kepala.
Belajar berjalan cepat agar tak disapa.
Belajar diam agar tak disalahkan.

Namun di dalam dada, ada api kecil yang tak mau padam: harapan.

Bahwa suatu hari Ayah akan pulang tanpa bau alkohol, duduk bersamaku, dan kami akan mendengar azan tanpa rasa perih.

Aku masih percaya kepada Tuhan, meski sering merasa dunia tak percaya kepadaku. Setiap kali aku mendengar ayat-ayat suci, aku berdoa bukan agar Ayah dihukum, melainkan agar ia dipeluk.

Aku berdoa agar masyarakat belajar bahwa empati bukan kelemahan—bahwa satu uluran tangan bisa menyelamatkan satu jiwa, dan mungkin satu generasi.

Jika kelak aku menjadi apa pun di dunia ini, aku ingin dikenal bukan sebagai anak Jarkoni si penjahat, melainkan sebagai manusia yang selamat dari kebencian. Dan jika suatu hari Ayah kembali, meski tertatih, aku akan menjadi orang pertama yang berdiri di depannya, menggenggam tangannya, dan berkata:

“Pulanglah, Yah. Aku masih di sini. Kita masih manusia.”

Inilah curhatanku.
Putri dari bayang-bayang—
yang belajar bahwa kejahatan sering lahir
bukan dari hati yang hitam,
melainkan dari luka yang dibiarkan sendirian. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…