Telaah

Ihsan kepada Tawanan dan Kaum Lemah

69
×

Ihsan kepada Tawanan dan Kaum Lemah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di bulan Ramadan yang penuh ampunan, umat diajak meneladani ihsan kepada tawanan sebagai wujud akhlak mulia. Kepedulian yang tulus bukan hanya menghibur yang lemah, tetapi juga membuka pintu hidayah.

Oleh: Muhammad Damanhurialias Ustaz Dayak, Ketua Yayasan Kejayaan Mualaf Indonesia dan Ketua Umum Lembaga Majelis Taklim Mualaf Kalimantan Barat. Bersama Muallaf Kita Mampu!

Tagar.co – Ahad, 1 Maret 2026 bertepatan dengan 11 Ramadan 1447 menandai langkah kita memasuki fase kedua bulan suci. Tanpa terasa, sepuluh hari pertama Ramadan telah berlalu. Kini umat Islam berada pada sepuluh hari pertengahan—fase magfirah—masa ketika Allah Swt. membukakan pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon ampun.

Kata magfirah berasal dari akar kata gafara yang berarti menutup, mengampuni, dan memaafkan. Makna ini memberi pesan mendalam bahwa pada fase ini Allah tidak sekadar menghapus dosa, tetapi juga menutup aib hamba-Nya dengan kasih sayang-Nya. Karena itu, momentum pertengahan Ramadan seharusnya menjadi ruang muhasabah sekaligus penguatan amal saleh.

Baca juga: Ihsan kepada Janda dan Fakir Miskin

Baca Juga:  Ketika Kelembutan Menjadi Jalan Ihsan

Dalam rangka memperdalam keilmuan, kajian Ramadan kali ini melanjutkan pembahasan Kitab Syajaratul Ma’arif, Bab 11 tentang Ihsan dengan Akhlak dan Perbuatan. Pada hari ke-11 Ramadan ini, fokus pembahasan diarahkan pada subbab penting: ihsan kepada tawanan.

Al-Qur’an memberikan panduan yang jelas tentang hal ini. Allah Swt. berfirman: “Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka, dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan.” (Muhammad: 4)

Ayat lain menegaskan nilai kemanusiaan yang tinggi: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (Al-Insan: 8)

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam menempatkan tawanan tetap dalam bingkai kemuliaan manusia. Bahkan dalam situasi konflik sekalipun, prinsip ihsan—berbuat baik secara optimal—tetap harus ditegakkan.

Teladan Nabi Muhammad Saw. memperkuat pesan ini. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw. bersabda, “Lepaskanlah Sumamah.”

Perintah singkat ini sarat makna: Rasulullah Saw. tidak hanya mempertimbangkan aspek hukum, tetapi juga sisi kemanusiaan dan dakwah.

Baca Juga:  Ihsan, Bersegera Pulang pada Keluarga

Ihsan kepada tawanan pada hakikatnya adalah upaya menghibur mereka yang sedang tertimpa musibah—orang-orang yang kehilangan kebebasan dan sering kekurangan perhatian.

Sikap welas asih seperti ini memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah karena menjawab kebutuhan yang sangat mendesak dari mereka yang sedang berada dalam kondisi lemah.

Lebih jauh, perlakuan yang penuh ihsan juga memiliki dimensi dakwah yang kuat. Kebaikan yang tulus dapat melunakkan hati, membuka pintu hidayah, bahkan menjadi jalan seseorang mengenal Islam dengan lebih jernih.

Sejarah telah mencatat bagaimana banyak hati tersentuh bukan oleh kekuatan, melainkan oleh akhlak mulia.

Memasuki fase magfirah ini, pelajaran tentang ihsan kepada tawanan mengingatkan bahwa Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga penguatan kepekaan sosial dan kemanusiaan. Spirit pengampunan dari Allah seharusnya memantul dalam perilaku kita kepada sesama.

Semoga pelajaran Ramadan di fase kedua ini membawa manfaat, memperluas wawasan, dan menumbuhkan akhlak ihsan dalam kehidupan sehari-hari. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni