Cerpen

Tiket Terakhir Menuju Pulang

79
×

Tiket Terakhir Menuju Pulang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Di ujung Ramadan, Hilda hanya punya dua pilihan: tetap bertahan dalam hidup yang membuatnya kehilangan arah, atau pulang—tanpa ongkos, tanpa kepastian. Sebuah pertemuan tak terduga di terminal mengubah segalanya, dan untuk pertama kalinya, ia belajar bahwa pulang tidak selalu tentang tempat.

Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB

Tagar.co – Senja Ramadan meredup di langit Kabupaten Rempah. Aspal masih basah oleh sisa hujan sore; lampu jalan memantul di genangan, berpendar seperti cahaya yang kelelahan.

Di kamar kos sempit berukuran tiga kali tiga meter, Hilda duduk di tepi ranjang. Kipas angin berdecit pelan. Udara lembap menempel di kulit.

Ia membuka dompetnya.
Beberapa lembar uang lusuh.

Dihitung.
Diulang.
Tetap sama.

“Cukup nggak ya… buat pulang…” gumamnya.

Ia tahu jawabannya.

Tidak.

Klik dan baca: Kumpulan cerpen Mochammad Nor Qomari

Hilda adalah seorang LC di Pink Karaoke. Malam-malamnya biasa dipenuhi musik keras, lampu warna-warni, dan tawa yang dipaksakan. Tapi Ramadan menutup semuanya. Pintu tempat itu terkunci. Lampunya padam.

Penghasilannya ikut padam.

Awalnya ia merasa masih aman. Tabungan kecilnya cukup—katanya. Tapi hari demi hari berjalan, dan uang itu habis perlahan: untuk makan, untuk bayar kos, untuk sekadar bertahan.

Ia mencoba meminjam.

“Maaf ya, Hil… aku juga lagi seret.”

Ia menghubungi pelanggan lama.

“Nanti ya… lagi puasa.”

Jawaban singkat. Tanpa ruang.

Hilda hanya tersenyum tipis.
Lalu diam.

Sore itu, ia berdiri di depan kos saat dua bocah lewat. Kecil, kurus, mungkin belum genap sepuluh tahun. Mereka membawa plastik berisi tisu dan permen.

Baca Juga:  Jalan Pulang

“Permen, Kak… tisu, Kak…”

Suara mereka riang. Terlalu riang untuk hidup yang tampak berat.

Keringat mengalir di pelipis mereka. Tapi senyum itu tetap ada.

Hilda memperhatikan lama.

Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.

“Anak sekecil itu…” bisiknya pelan, “…bisa cari uang halal…”

Kalimat itu menggantung.

Ia menelan ludah.
Menunduk.

“Terus aku…?”

Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa susah—
tapi juga merasa… salah.

Hari-hari terakhir Ramadan datang seperti bayangan panjang.

Uangnya habis.

Benar-benar habis.

Pemilik kos mulai menagih. Nada bicaranya masih halus, tapi cukup untuk membuat Hilda tak bisa tidur.

Akhirnya ia memutuskan pulang.

Apa pun yang terjadi.

Perjalanannya berhenti di Terminal Sukomuda.

Terminal itu ramai, tapi terasa dingin. Bau solar, asap kendaraan, dan gorengan basi bercampur di udara. Pengumuman samar terdengar dari pengeras suara yang serak.

Hilda duduk di bangku besi. Tas kecil dipeluk erat.

Matanya mengikuti bus yang datang dan pergi.

Sebuah bus berhenti.

“Jati Ekspres… Karang Jati…”

Ia menegakkan badan.
Lalu kembali lemas.

Tangannya mengepal.

Kalau naik… ia tak punya ongkos.

Kalau tidak… ia tak punya tempat kembali.

Ia menunduk.

“Kenapa hidupku sampai begini…” bisiknya.

Seorang ibu duduk di sampingnya. Wajahnya teduh, tapi tidak sempurna—ada garis lelah di matanya.

“Mbak… mau ke mana?” tanyanya pelan.

Hilda menoleh.

“Karang Jati, Bu…”

Baca Juga:  Didukung Wakil Bupati, Foto Siswa Spemdalas Jadi Sarana Belajar Sejarah

“Itu busnya, Mbak.”

“Iya… saya tahu…”

Hilda berhenti. Rahangnya mengeras. Ia mencoba menahan.

Namun gagal.

“Saya nggak punya ongkos, Bu…”

Suaranya pecah.

Ia menutup wajah. Bahunya bergetar.

Beberapa detik ia berusaha menahan diri—
lalu runtuh sepenuhnya.

Ia bahkan tidak sadar kapan ia memeluk ibu itu.

“Maaf… saya… saya capek…” katanya terputus-putus.

Ibu itu terdiam sejenak. Tangannya sempat kaku—seolah tak menyangka.
Lalu perlahan ia membalas pelukan itu.

“Sudah… nggak apa-apa…”

Hilda menangis lama.

Di sela-sela itu, kata-kata keluar sendiri—tentang pekerjaannya, tentang hidupnya, tentang rasa bersalah yang baru ia sadari.

“Saya nggak pernah salat… nggak pernah puasa…” katanya lirih.

Ia menunggu dihakimi.

Dimarahi. Dijauhi.

Namun ibu itu hanya menarik napas pelan.

“Saya juga dulu pernah jauh,” katanya.

Hilda menoleh, sedikit terkejut.

Ibu itu tersenyum tipis.

“Nggak semua orang langsung baik, Mbak.”

Hilda terdiam.

Ada kehangatan yang berbeda dari kalimat itu. Tidak tinggi. Tidak menggurui.

Manusiawi.

“Ayo… ke musholla,” ajaknya.

Musala kecil di sudut terminal itu sunyi. Lantainya dingin. Lampu putih menggantung redup.

Hilda ragu di depan tempat wudu.

Tangannya berhenti di udara.

“Aku pantas nggak ya…” gumamnya.

Ia hampir mundur.

Namun ibu itu sudah lebih dulu membasuh tangan.

Hilda menarik napas.

Lalu mengikuti.

Air menyentuh wajahnya. Dingin. Mengalir.
Ada sesuatu yang aneh—seperti membersihkan bukan hanya kulit.

Salat itu terasa panjang.

Gerakannya kaku. Bacaan terputus-putus. Beberapa kali ia salah.

Ia ingin berhenti.

Namun ia bertahan.

Baca Juga:  Secangkir Kopi di Ujung Senja

Ada sesuatu di dalam dadanya yang tidak ingin pergi lagi.

Selesai salat, mereka duduk.

Ibu itu membuka tasnya. Mengeluarkan jilbab hitam sederhana.

“Kalau kamu mau…”

Hilda menatapnya lama.

Tangannya gemetar saat menerima.

“Apa saya pantas?” suaranya hampir hilang.

Ibu itu tidak langsung menjawab.

Ia hanya merapikan ujung jilbab itu pelan.

“Kadang kita nggak perlu merasa pantas dulu untuk mulai,” katanya.

Kalimat itu sederhana. Tapi menancap.

Air mata Hilda jatuh lagi.

Kali ini… berbeda.

Beberapa saat kemudian, ibu itu menyelipkan uang ke tangan Hilda.

“Ini buat pulang.”

“Bu… saya—”

“Saya juga pernah ditolong orang,” katanya pelan. “Sekarang gantian.”

Ia memberi secarik kertas.

“Kalau kamu mau kerja… coba ke sini.”

Hilda menggenggamnya erat.

Bus Jati Ekspres datang lagi.

Kali ini, Hilda berdiri.

Kakinya masih lemah. Tapi langkahnya tidak berhenti.

Sebelum naik, ia menoleh ke arah musala.

Ia diam sebentar.

Tangannya menyentuh jilbab di kepalanya.

Lalu ia naik.

Di dalam bus, Hilda duduk di dekat jendela. Lampu kota bergerak perlahan di luar.

Ia memeluk tasnya.

Tidak ada yang benar-benar berubah seketika.
Masalahnya belum selesai.
Hidupnya masih panjang.

Namun untuk pertama kalinya…

Ia merasa tidak sendirian.

Ia menatap ke luar.
Lalu menunduk pelan.

Bibirnya bergerak, hampir tak terdengar.

“Ya Allah…”

Kalimat itu belum sempurna.
Namun cukup untuk memulai.

Bus melaju menembus malam.

Dan di dalamnya, seseorang sedang belajar pulang. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni