
Dalam kehangatan Syawal, para guru SD Muhammadiyah 21 Surabaya menjelajah ruang dan kenangan. Bukan sekadar temu kangen, tetapi perajutan ulang makna persaudaraan dan semangat mendidik yang tulus.
Tagar.co – Langit cerah menaungi Rungkut pagi itu, seolah ikut menyambut langkah-langkah penuh rindu yang menapaki Jalan Raya Putra Bangsa III No. 1.
Rumah saya yang sederhana—tempat tinggal sejak menerima amanah baru sebagai Kepala SD Muhammadiyah 10 Surabaya—menjadi titik temu bagi sahabat-sahabat lama dari SD Muhammadiyah 21 (SDM 21) Surabaya.
Rabu, 10 April 2025, menjadi lebih dari sekadar momen Syawalan. Ia menjelma menjadi ruang penyambung rasa dan perajut kenangan. Selama hampir dua dekade—sejak 2004 hingga Oktober 2023—saya menjadi bagian dari keluarga besar SDM 21. Dan meski kini tak lagi berada di sana, ikatan itu rupanya tak mudah pupus. Bahkan kian terasa mendalam saat menyambut mereka kembali di rumah ini.
Salah satu yang hadir adalah sahabat sekaligus kolega lama, Priyo Sasongko, Kepala SDM 21 saat ini. Kami seangkatan, tumbuh bersama sebagai pendidik, berbagi suka dan duka selama belasan tahun. Maka ketika ia melangkah masuk, yang terasa bukan kunjungan kerja, melainkan kedatangan seorang saudara.

Tawa-tawa pun mengalir. Obrolan yang semula ringan menjelma pengingat akan masa-masa penuh perjuangan dan harapan. Kami duduk bersila di ruang tamu, mengelilingi hidangan sederhana: bakso, kikil, dan es kopyor merah yang dinginnya menyegarkan seperti silaturahmi itu sendiri—tampak biasa, namun sarat makna.
“Saya sangat bersyukur bisa kembali bertemu teman-teman seperjuangan,” kata saya, yang sempat terdiam, menahan haru. “Padahal ini acara spontan. Semoga tahun depan lebih banyak yang bisa hadir.”
Miftachul Chasanah DM, guru SDM 21 yang turut hadir, menyampaikan, “Momen ini sungguh berkesan. Rasanya seperti pulang ke rumah. Semua tawa, canda, dan kebersamaan mengingatkan saya pada indahnya perjalanan menjadi guru. Saya merasa lebih semangat lagi setelah bertemu orang-orang hebat ini.”
Sementara itu, Devi Falachiyah dari tim humas sekolah menambahkan, “Syawalan ini bukan hanya tentang bertemu, tapi menjaga semangat kolektif kita sebagai pendidik. Terima kasih atas sambutan hangatnya, Pak Anam. Ini jadi penguat semangat kami untuk terus menebar kebaikan dan ilmu.”

Langkah Silaturahmi yang Terus Berlanjut
Setelah pertemuan di Rungkut, Safari Syawalan kami lanjutkan ke kediaman Bu Nita Oktavianti, guru kelas lima yang tinggal di Apartemen Dian Regency, Keputih. Senyumnya yang tenang dan ramah menjadi sambutan hangat bagi kami semua.
Langkah kami juga menyapa sejumlah tokoh penting dalam perjalanan sekolah: K.H. Mahsun Jayadi (mantan Ketua PDM Surabaya); H. Zaenal Ishom; H. Maryoto (Ketua PCM Semampir), Djajadi (mantan Bendahara SDM 21), serta para ketua RW, RT, dan tetangga sekitar sekolah yang selama ini turut menopang kehidupan lembaga dari sisi sosial.
Agenda ini bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah medium untuk merawat jaringan, mempererat simpul-simpul kebersamaan yang sering kali terlupakan di tengah kesibukan harian. Setiap rumah yang kami datangi memberi semangat baru—sebuah pengingat bahwa pendidikan tidak tumbuh dari ruang kosong, tetapi dari jejaring yang hidup dan saling menguatkan.
Bagi saya pribadi, Syawalan kali ini adalah penegas bahwa silaturahmi bukan hanya jembatan emosional, melainkan sumber energi. Energi untuk terus belajar, memberi, dan mencintai pekerjaan sebagai pendidik. Dan selama energi itu dijaga, insyaallah jalan dakwah melalui pendidikan akan terus menyala, penuh harapan dan kebaikan. (#)
Jurnalis M. Khoirul Anam Penyunting Mohammad Nurfatoni












