Telaah

Saat Kebaikan Dilupakan, Langit Tetap Mencatat

37
×

Saat Kebaikan Dilupakan, Langit Tetap Mencatat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Jangan berhenti berbuat baik hanya karena dilupakan manusia. Ingatlah, setiap kebaikan kita dicatat langit, dibalas Allah, meski tak selalu dihargai di bumi.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Hujannya deras, anginnya kencang. Dalam kegentingan itu, payung menjadi sahabat paling setia. Ia tak berucap, tak mengeluh, tak meminta bayaran. Ia hanya membuka diri, menampung lebatnya langit agar penggunanya tetap kering dan aman.

Tapi ketika hujan reda, langit kembali cerah, dan angin hanya tinggal bisikan lembut di daun-daun, payung itu terasa merepotkan—digulung, disimpan, bahkan ditinggalkan di sudut yang sepi. Begitu pun kita.

Baca juga: Cahaya Ilmu Agama: Menuntun Hidup, Menyelamatkan Generasi

Manusia sering kali menjadi “payung” bagi orang lain—melindungi, membantu, dan menjadi tempat bergantung dalam kesulitan. Namun, setelah badai hidup orang lain reda, kita bisa saja dilupakan, disisihkan, atau bahkan dibuang dari hidup mereka, seakan jasa kita tak pernah ada. Betapa miripnya kita dengan payung: berharga ketika dibutuhkan, tak dianggap saat dirasa tak lagi berguna.

Namun, apakah ini alasan untuk berhenti berbuat baik? Berhenti membantu? Berhenti menjadi payung untuk hujan orang lain?

Baca Juga:  Ketika Azan dan Langit Tidak Sepakat

Tentu tidak. Karena sesungguhnya, dalam timbangan Allah, tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia. Bahkan jika manusia lupa, Allah tidak pernah alpa.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah (biji sawi), dan jika ada kebaikan, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An-Nisa: 40)

Kebaikan sejati adalah yang dilakukan tanpa pamrih. Yang dilakukan bukan untuk dipuji atau dibalas, tetapi semata karena iman kepada balasan Allah yang pasti datang, meski bukan dari tangan orang yang kita tolong.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa melepaskan satu kesusahan dari seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.” (HR. Muslim)

Dalam hadis ini kita diajarkan bahwa menjadi solusi bagi penderitaan orang lain adalah investasi untuk kebahagiaan kita sendiri di akhirat kelak. Maka, walau tak dibalas hari ini, jangan berhenti berbuat baik.

Baca Juga:  Hisab Digital: Ketika Layar Menjadi Saksi Amal Manusia

Sungguh, manusia bisa saja lupa. Tapi langit mencatat. Malaikat menulis. Allah Maha Tahu.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapat (balasannya) di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 110)

Jangan menjadi baik karena ingin diingat. Jadilah baik karena kita ingin dikenang di langit, meski dilupakan di bumi. Karena pada akhirnya, semua pengakuan manusia tak akan ada artinya dibandingkan satu pujian dari Allah di akhirat kelak.

Kita mungkin seperti payung—dibutuhkan lalu dilupakan. Tapi jika payung itu tak pernah ada, seseorang akan basah kuyup dalam penderitaan. Maka tetaplah menjadi payung. Biarlah kita dianggap merepotkan di saat tenang, asal kita hadir di saat hujan deras kehidupan mengguyur orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Baca Juga:  Jika Bangsa Ini Mau Muhasabah

Tidak semua orang akan ingat siapa yang pernah menyelamatkannya. Tapi Allah tahu siapa yang menjadi perantara pertolongan-Nya. Maka teruslah menjadi payung meski hanya dipakai sesaat, karena yang kita kejar bukan ucapan terima kasih manusia, tetapi rida dari Tuhan semesta alam.

Dan ketahuilah, di akhirat kelak, ada pula payung yang jauh lebih agung—naungan dari Allah Ta‘ala ketika tak ada naungan selain dari-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ ٱللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

“Tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tiada naungan selain naungan-Nya…” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Mungkin kita akan menjadi salah satunya karena kebaikan yang tak pernah diminta balasan. Maka teruslah berbuat baik. Jangan menyesal pernah menjadi payung yang melindungi. Karena di balik setiap kebaikan yang kita rasa tak dihargai, ada pelukan dari Allah yang menanti.

Semoga kita selalu menjadi hamba yang tidak hanya dicintai manusia di saat butuh, tetapi dicintai Allah dalam setiap keadaan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni