Opini

Saat Bantuan Menjadi Beban: Realitas Kelam Baju Bekas di Lokasi Bencana

60
×

Saat Bantuan Menjadi Beban: Realitas Kelam Baju Bekas di Lokasi Bencana

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Niat baik tak selalu berakhir baik. Di lokasi bencana, tumpukan baju bekas kerap justru memperberat kerja relawan dan melukai martabat para penyintas.

Oleh Yekti Pitoyo, Aktivis Filantropi

Tagar.co – Bencana selalu memanggil empati. Setiap kali musibah datang—banjir, gempa, longsor, kebakaran—solidaritas publik bangkit nyaris serentak. Dari rumah-rumah warga, kantor, komunitas, hingga lembaga-lembaga sosial, bantuan mengalir deras menuju lokasi terdampak.

Salah satu bentuk bantuan yang paling mudah dikumpulkan adalah pakaian bekas yang disebut masih layak pakai.

Niat di baliknya tentu mulia. Namun, realitas di lapangan sering kali menghadirkan wajah yang berbeda.

Baca juga: Upah, Keadilan, dan Amanah dalam Muamalah Syariah

Di posko-posko bencana, relawan kerap berhadapan dengan gunungan karung berisi pakaian yang datang tanpa seleksi. Jumlahnya melimpah, jenisnya acak, dan kondisinya tidak jarang jauh dari kata pantas.

Dalam situasi darurat yang serba terbatas—waktu, tenaga, ruang, dan logistik—relawan harus menyisihkan jam-jam berharga hanya untuk memilah baju demi baju, sementara kebutuhan mendesak para penyintas terus menunggu.

Baca Juga:  Dari Kuitansi Digital hingga Laporan SDGs, Simziska Perkuat Tata Kelola Lazismu Daerah

Di antara tumpukan itu, ditemukan pakaian robek, kusam, bahkan berbau. Ada pula jas, gaun  pesta, dan pakaian dengan ukuran ekstrem yang hampir mustahil digunakan di pengungsian. Seolah-olah lokasi bencana menjadi ruang akhir bagi barang-barang yang sudah tidak lagi kita inginkan di rumah.

Di titik inilah bantuan mulai berubah wajah.
Dari upaya meringankan, justru menjadi beban baru.

Padahal, penyintas bencana bukan sekadar penerima bantuan. Mereka adalah manusia bermartabat yang sedang kehilangan rumah, rasa aman, anggota keluarga, bahkan masa depan yang pernah mereka bayangkan.

Memberi bantuan tanpa pertimbangan dan tanpa empati terhadap kondisi psikologis mereka berisiko menambah luka yang tak terlihat.

Apa yang tidak lagi pantas kita pakai, sejatinya juga tidak pantas kita berikan.

Lebih jauh, penumpukan pakaian bekas menimbulkan persoalan logistik yang serius. Gudang darurat cepat penuh. Distribusi bantuan terhambat. Energi relawan tersedot untuk mengelola barang yang sebenarnya bukan prioritas.

Tidak sedikit pakaian itu akhirnya berakhir sebagai limbah, menambah persoalan lingkungan di tengah krisis kemanusiaan.

Baca Juga:  Hidup di Negeri Rawan Bencana: Siaga untuk Selamat, Ikhtiar Kolektif Bangun Ketangguhan

Sementara itu, kebutuhan paling mendesak para penyintas sering kali bukan pakaian, melainkan makanan siap santap, air bersih, selimut, obat-obatan, perlengkapan bayi, dan layanan kesehatan. Ironisnya, kebutuhan-kebutuhan vital itu justru sering tertutupi oleh banjir barang yang tidak relevan.

Fenomena ini mengingatkan kita pada satu hal penting: kepedulian tidak cukup berhenti pada niat baik; ia menuntut kesadaran, pengetahuan, dan tanggung jawab.

Bantuan yang tepat guna adalah bantuan yang menjawab kebutuhan nyata. Mengikuti informasi resmi posko, berkoordinasi dengan lembaga kemanusiaan, atau menyalurkan donasi melalui institusi tepercaya sering kali jauh lebih efektif daripada mengirim apa yang tersisa di lemari kita.

Dalam situasi bencana, empati sejati bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang memahami apa yang sungguh dibutuhkan oleh mereka yang sedang berjuang untuk bangkit kembali. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni