
SD Muhammadiyah 2 Krian (Mukrida) Sidoarjo kembali menggelar Rihlah Pesantren. Kali ini, 40 siswanya merasakan langsung suasana Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar, Karangploso, Kabupaten Malang.
Tagar.co – SD Muhammadiyah 2 Krian (SD Mukrida) Sidoarjo, Jawa Timur, kembali mengajak siswanya menapaki jejak kehidupan santri. Sebanyak 40 siswa kelas VI bersama tujuh guru pendamping berkunjung ke Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar, Karangploso, Kabupaten Malang, Selasa (7/10/2025).
Program tahunan bertajuk Rihlah Pesantren ini telah menjadi tradisi sekolah. Setiap tahun lokasi kegiatan berganti—mulai dari Lamongan, Sidoarjo, hingga Mojokerto—agar siswa merasakan suasana yang berbeda dan mengenal lebih luas ragam pesantren di Jawa Timur.
Rombongan tiba sekitar pukul 09.10 WIB dan langsung disambut hangat oleh Direktur Pesantren, Drs. K.H. Suprat, M.Ed., bersama dewan asatizah.
Para siswa tampil rapi dengan seragam ungu khas Mukrida. Putri mengenakan gamis panjang ungu lembut berpadu kerudung bermotif kotak kecil senada, sementara putra memakai baju koko ungu dengan peci hitam. Seragam serasi itu membuat rombongan mudah dikenali sekaligus menambah semarak suasana kunjungan.

Acara pembukaan di aula utama diwarnai penampilan musikalisasi puisi santriwati, mencairkan suasana sekaligus memberi kesan hangat sejak awal. Dalam sambutannya, Kepala SD Mukrida, Nanang Roufuul Akbar, S.Pd.I., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari visi sekolah yang islami.
“Tujuan dari rihlah pesantren ini yaitu mengenalkan sejak dini putra-putri kita kepada lingkungan pesantren,” ujarnya. Ia berharap, separuh lulusan SD Mukrida kelak dapat melanjutkan pendidikan di pesantren, sehingga nilai-nilai religius dan kemandirian bisa terus tumbuh.
Selama kurang lebih tiga jam, siswa diajak menyusuri berbagai sudut pesantren. Mereka melihat langsung asrama, ruang belajar, lapangan olahraga, hingga masjid. Dialog kecil dengan santri yang mereka temui membuat kunjungan terasa lebih hidup. Antusiasme terlihat jelas—ada yang kagum dengan kedisiplinan, ada pula yang penasaran dengan aktivitas harian di pondok.
Kegiatan ditutup dengan makan siang bersama dan sesi foto kenang-kenangan. Sebelum kembali ke Krian, rombongan juga singgah di Masjid Muhammad Cheng Hoo Malang, menutup perjalanan dengan nuansa spiritual yang kuat.
Lebih dari sekadar agenda sekolah, rihlah ini menjadi pengalaman belajar yang membekas. Siswa bukan hanya mengenal kehidupan pesantren, tetapi juga membawa pulang nilai-nilai kesederhanaan, kemandirian, dan semangat menuntut ilmu ala santri.
Jurnalis Bayu Krisna Adji Penyunting Mohammad Nurfatoni












