Opini

Refleksi Dua Tahun Topan Al-Aqsa: Dari Jogokariyan untuk Palestina Merdeka

46
×

Refleksi Dua Tahun Topan Al-Aqsa: Dari Jogokariyan untuk Palestina Merdeka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik.com premium

Topan Al-Aqsa telah mengguncang dunia. Dua tahun sudah sejak 7 Oktober 2023, gema perlawanan itu terus menyalakan semangat di hati umat. Dari Gaza hingga sudut kampung di Yogyakarta, ada keyakinan yang sama: perjuangan Palestina adalah bagian dari perjuangan kita.

Oleh Muhammad Falakhul Insan, Remaja Masjid Jogokariyan Yogyakarta

Tagar.co – Jika kita benar-benar ingin Palestina merdeka, salah satu usaha wajib ialah belajar tentangnya. Belajar untuk memahami sejarahnya. Tentu, termasuk kisah panjang perjuangannya.

Isu Palestina adalah persoalan besar. Maka, untuk memahaminya, kita perlu belajar. Jika tidak dipelajari dengan saksama, bisa jadi kita terjebak pada arus informasi yang salah. Sebab, sebagaimana isu besar lainnya, ada pihak-pihak yang tidak ingin dunia tahu kebenarannya.

Dari Jogokariyan untuk Palestina

Saya tumbuh dan tinggal di Kampung Jogokariyan, sebuah kampung sederhana di salah satu sudut Yogyakarta. Posisi ini saya syukuri. Edukasi tentang Palestina sudah lama dilakukan di masjid kami, Masjid Jogokariyan, sejak awal tahun 2000-an.

Baca juga: Dua Tahun Topan Al-Aqsa: 11 Pencapaian Strategis Menuju Palestina Merdeka

Hampir dapat dipastikan, jemaah Masjid Jogokariyan, baik yang masih belia apalagi yang sudah sepuh, pernah mendapatkan edukasi seputar Palestina dan perjuangan rakyatnya. Masjid kami sering kedatangan para ahli dalam bidang sejarah, hubungan internasional, dan penelitian tentang Palestina.

Baca Juga:  Siklus Sejarah di Balik Prediksi Keruntuhan Israel

Tak jarang hadir pula para dokter, relawan kemanusiaan, dan jurnalis yang menyaksikan langsung keadaan di lapangan. Kadang kami terpikir, “Dengan ilmu dan akses pengetahuan yang Allah titipkan, apa yang sudah kami lakukan untuk membantu perjuangan ini?”

Tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari pelajaran berharga yang pernah kami dapatkan—dari para asatiz, peneliti, dokter, jurnalis, dan mereka yang benar-benar terjun dalam perjuangan ini.

Semoga risalah ini menjadi kontribusi kecil yang dapat menguatkan kita untuk terus belajar tentang Palestina, sebagai bentuk dukungan menuju kemerdekaannya.

Perspektif Indonesia

Kita, bangsa Indonesia, sebenarnya dekat dan terkait dengan isu Palestina. Kita sama-sama pernah merasakan penjajahan. Kita tahu bagaimana rasanya kehilangan Tanah Air, kebebasan, dan kehormatan.

Hari-hari ini, saudara-saudara kita di Palestina menghadapi hal yang sama. Mereka berjuang, mereka melawan. Mereka pun menginginkan perdamaian—namun sering kali dikhianati dalam perjanjian.

Coba ingat kisah Pangeran Diponegoro yang dijanjikan perundingan, tetapi justru ditangkap. Namun, sebelum itu, renungkan: “Mengapa Belanda mengajak berunding? Tak lain karena mereka kewalahan menghadapi perlawanan rakyat.”

Baca Juga:  Siklus Sejarah di Balik Prediksi Keruntuhan Israel

Belum lama ini, penjajah menawarkan proposal “perdamaian” dengan syarat Palestina tidak boleh memiliki kekuatan militer. Senada dengan itu, beberapa negara Barat juga bersedia mengakui negara Palestina dengan syarat tidak adanya faksi perjuangan militer yang kini menguasai Gaza.

Hal itu seperti memposisikan Palestina sebagai wilayah di bawah kekuasaan penjajah yang sewaktu-waktu bisa bertindak sewenang-wenang tanpa perlawanan. Lebih parah lagi, kelompok sayap kanan penjajah bahkan menolak solusi dua negara. Mereka ingin “Greater Israel” yang mencakup wilayah lebih luas dari sekadar Palestina.

Perspektif Keimanan

Sebagai seorang Muslim, kita memiliki tiga masjid suci: Masjidilharam, Masjid Nabawi, dan Masjidilaqsa. Ketiganya mulia dan wajib kita muliakan.

Kalau Masjidil Aqsa bukan tempat yang istimewa, mengapa ‘Umar ibn Al-Khattab Ra. atas wasiat Rasulullah Saw. rela menempuh perjalanan jauh untuk membebaskannya? Kalau Masjidilaqsa bukan tempat yang istimewa, mengapa Rasulullah Saw. mewasiatkan agar kita menziarahi, memuliakan, dan menyalakan cahayanya?

Hari ini, Allah sedang menguji kita. Masjid yang mulia itu—Masjidilaqsa—kini berada di bawah kekuasaan mereka yang terang-terangan menghalangi kaum Muslimin beribadah dan memakmurkannya.

Baca Juga:  Siklus Sejarah di Balik Prediksi Keruntuhan Israel

Bahkan, pernah ada tokoh politik sayap kanan penjajah yang sengaja masuk ke kawasan masjid dan menghinakannya. Kejadian itu memicu bentrokan dan gugurnya banyak Muslim yang membela masjid suci tersebut.

Pada akhirnya, kita perlu ingat bahwa penjajahan dan genosida ini bukan baru terjadi sejak 7 Oktober 2023, melainkan sudah berlangsung sejak berakhirnya Perang Dunia I dan semakin parah selepas Perang Dunia II.

Nyala Perjuangan

Seiring berjalannya perjuangan dan perlawanan, Allah tumbuhkan generasi yang hatinya terpaut pada Al-Qur’an. Merekalah yang menolak tunduk pada penjajahan, yang menjaga agar Masjidilaqsa tidak lagi direndahkan. Mereka tahu, perjuangan ini bukan sekadar tentang Tanah Air, melainkan tentang kehormatan dan kemuliaan masjid suci.

Topan Al-Aqsa bukan sekadar peristiwa, melainkan gerakan. Sebuah gerakan agar umat ini terbangun dari tidur lelapnya, tidak lagi diam ketika masjid sucinya direndahkan.

Topan Al-Aqsa adalah panggilan untuk kita. Panggilan agar kita terus berjuang sampai Al-Aqsa dan Palestina merdeka. Allahuakbar! (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni