Feature

Pesan Terakhir Ustaz Jazir: Dakwah Kreatif hingga Ujung Usia

×

Pesan Terakhir Ustaz Jazir: Dakwah Kreatif hingga Ujung Usia

Sebarkan artikel ini
Sabtu 3 Desember 2022 di Masjid Jogokariyan Jogjakarta, bakda Subuh. Dari kiri: penulis, Ustadz Jazir, dan dr. Jamaluddin, Sp.M.(K)

Ustaz Jazir memiliki banyak nilai lebih. Yang paling tampak adalah dedikasinya dalam memakmurkan Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Setelah wafat pada 22 Desember 2025, semakin banyak jejak kebaikannya terungkap. Ternyata, sifat kreatif dan keterbukaannya tetap ia bawa hingga hari-hari terakhir kehidupannya. Seperti apa kisahnya?

Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya.

Tagar.co – Tak banyak yang seperti Muhammad Jazir. Di sebagian hari-hari akhirnya, ia secara kreatif dan terbuka menyampaikan semacam wasiat atau pesan akhir. Cukup banyak yang beliau sampaikan. Semuanya penting.

Di antaranya, Ustaz Jazir mengatakan bahwa alam barzah yang akan didiaminya setelah wafat penuh kenikmatan. Hal itu ia sampaikan pada 26 November 2025 sambil berbaring di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Cara penyampaiannya, seperti performa beliau sehari-hari, tegas dan penuh senyum.

Baca juga: Kiai Muhammad Jazir, Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Yogyakarta Wafat

Jazir ingin, jika ia wafat, dirinya sudah memberitahukan bahwa perjalanan menuju alam barzah itu tidak mengerikan, tidak menakutkan, dan tidak menyakitkan. Kemudian kita tahu, setelah 45 hari sakit, Jazir, sang pejuang dakwah, wafat pada Senin, 22 Desember, sekitar pukul 04.00.

Sang Penggerak

“Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Sungguh kita semua milik Allah dan kepada-Nya kita semua akan kembali. Ayahanda kami tercinta dan tersayang, Muhammad Jazir ASP, pagi ini berpulang ke hadirat Allah Swt. Selama sakit, beliau terus berpesan untuk meneruskan perjuangan menghadirkan peradaban masjid.”

Paragraf di atas merupakan bagian dari berita yang dikirim oleh Shofwan Al Banna, putra almarhum Ustaz Jazir, pada Senin pukul 05.44 di sebuah grup WhatsApp yang juga saya ikuti. Kami menunduk, berduka. Kami mendoakan Ustaz Jazir, sosok pejuang dakwah yang istikamah sejak usia sangat muda.

Tak lama kemudian, di berbagai grup WhatsApp yang saya ikuti, beredar berita yang sama. Berbagai doa dan catatan positif bermunculan, dari mereka yang sekadar tahu siapa Ustaz Jazir hingga tokoh nasional.

Baca Juga:  Titik Temu Jazir, Isa Anshary, dan Natsir

Pada Senin itu, Laznas Nurul Hayat menyebarkan selebaran ucapan duka cita atas wafatnya Ustaz Jazir, Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Di selebaran tersebut terdapat kesaksian bahwa di setiap langkah Ustaz Jazir selalu ada dakwah. Almarhum menjadi inspirasi perjuangan pergerakan masjid, tidak hanya di Jogokariyan dan Yogyakarta, tetapi juga di Indonesia bahkan dunia.

Di hari yang sama, Prof. Haedar Nashir menyampaikan kesaksiannya. “Almarhum adalah kader Muhammadiyah yang tekun, gigih, dan memiliki komitmen kuat dalam menggerakkan dakwah Perserikatan. Kiprahnya dalam membangun dan mengembangkan Masjid Jogokariyan menjadi teladan gerakan masjid di Indonesia. Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan keluarga besar Persyarikatan, kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya.”

Baca juga: Muhammad Jazir Wafat, PP Muhammadiyah Sampaikan Duka

Esoknya, Selasa, 23 Desember 2025, pembicaraan tentang Ustaz Jazir masih berlangsung luas di tengah masyarakat. Misalnya, Dr. Dhimam Abror Djuraid dalam sebuah grup WhatsApp penulis dan jurnalis menulis, “Jejak perjuangan almarhum insyaallah membawanya ke Jannatun Na‘im.”

Artikel atau obituari tentang Ustaz Jazir pun banyak beredar. Salah satunya tulisan Ady Amar dengan judul Duka Itu Bernama Al-Ustaz Muhammad Jazir ASP.

Tidak setiap hari bangsa ini menoleh serentak karena satu kabar duka. Namun ketika Al-Ustaz Muhammad Jazir ASP wafat—Senin, 22 Desember 2025—umat seperti serentak diliputi rasa kehilangan yang sangat. Bukan karena ia tokoh yang kerap tampil, melainkan karena ia alim yang bekerja dalam diam—dan diam-diam telah menghidupkan banyak hal.

Banyak Karya

Siapa Muhammad Jazir yang lahir pada 28 Oktober 1962 itu? “Almarhum genap menyelesaikan khidmah perjuangan di usia 63 tahun sebagaimana usia Rasulullah Saw,” tutur Ustaz Salim A. Fillah dengan nada haru.

“Hari ini kita kehilangan seorang bapak dan seorang guru yang gigih dalam usaha memakmurkan masjid. Sepanjang hidupnya, Ustaz Jazir telah mengisinya dengan berbagai kelelahan di jalan Allah.”

Paragraf tersebut merupakan bagian dari sekitar sepuluh menit sambutan Ustaz Salim bakda salat Zuhur, sebelum jenazah diusung ke Pemakaman Karangkajen, Yogyakarta, yang tidak jauh dari Masjid Jogokariyan.

Baca Juga:  Warisan Ustaz Jazir: Njogokaryan Njogonegoro

Dalam kesempatan itu, Ustaz Salim memberikan kesaksian tentang jalan panjang perjuangan dakwah Sang Guru. Salah satunya, Ustaz Jazir adalah pemilik ide penulisan Metode Membaca Al-Qur’an yang kemudian diberi nama Iqra’.

Buku Iqra’ yang ditulis As‘ad Humam, sahabat Ustaz Jazir, kini digunakan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara.

Begitu pula dalam menggerakkan kemakmuran Masjid Jogokariyan. Spiritnya menginspirasi banyak masjid di Indonesia dan dunia.

Yogya Istimewa

Saya, alhamdulillah, sudah tak terhitung berapa kali berkunjung ke Masjid Jogokariyan. Hal itu karena setiap tahun selalu ada kegiatan saya di Yogyakarta. Terlebih, enam buku saya diterbitkan Pro-U Media yang beralamat di Jalan Jogokariyan Nomor 41—sekitar 75 meter dari masjid.

CEO Pro-U Media, almarhum Fanni Rahman, adalah salah satu kader terbaik Ustaz Jazir dan pernah menjadi Ketua Takmir Masjid Jogokariyan.

Baca juga: Warisan Ustaz Jazir: Njogokaryan Njogonegoro

Karena sering berkunjung, banyak pengurus masjid yang saya kenal, termasuk Ustaz Jazir dan Muhammad Rizqi Rahim, Ketua Takmir.

Dengan Ustaz Jazir saya cukup dekat. Kali pertama kami berkenalan selepas salat Subuh di Masjid Jogokariyan. Biasanya bakda Subuh beliau tidak langsung pulang ke rumahnya yang hanya sekitar 100 meter dari masjid.

Kedekatan kami terjalin karena dua hal: persahabatan saya dengan almarhum Fanni Rahman dan kesamaan latar belakang sebagai alumni PII (Pelajar Islam Indonesia).

Dai Kreatif

Suatu bakda Subuh di masa pandemi Covid-19, saya berbincang panjang dengan Ustaz Jazir tentang program pemberian voucher Rp10.000 kepada jemaah Subuh setiap Sabtu dan Ahad untuk dibelanjakan di Pasar Rakyat sepanjang Jalan Jogokariyan.

Program itu berhasil menghidupkan kembali semangat berjemaah sekaligus menggerakkan ekonomi warga.

Saya menyimpulkan, gagasan seperti itu hanya lahir dari pendakwah yang kreatif, dari dai yang benar-benar memahami kondisi umat.

Pemimpin Terbuka

Pada Jumat, 2 Desember 2022, saya di Jogokariyan bersama seorang sahabat, dr. Jamaluddin, Sp.M.(K). Saya mengusulkan agar beliau mengisi kuliah Subuh tentang “Mata dalam Pandangan Islam”. Usul itu saya sampaikan kepada Ustaz Jazir.

Baca Juga:  Kiai Muhammad Jazir, Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Yogyakarta Wafat

Tanpa ragu, beliau menjawab, “Boleh, silakan.”

Bagi saya, sikap itu sangat mengesankan. Ia mencerminkan kepercayaan dan keterbukaan seorang pemimpin dakwah sejati.

Serasa Masih

Demikianlah, sekadar catatan ringan tentang Allahyarham Ustaz Jazir. Meski tidak sering bertemu—karena saya tinggal di Sidoarjo—saya menyimpan sejumlah kenangan manis tentang almarhum. Terutama kesan bahwa Ustaz Jazir adalah sosok yang kreatif dan terbuka.

Hal itu, antara lain, tercermin dalam sebuah video berisi pesan terakhir beliau yang patut terus diingat. Video tersebut menjadi contoh nyata sikap kreatif sekaligus keterbukaan almarhum. Kreatif, karena video itu dibuat atas permintaan Ustaz Jazir sendiri. Terbuka, karena di dalamnya beliau menyampaikan kalimat yang begitu menenteramkan:

“Jangan susah, saya di alam barzah itu nikmat. Saya di alam barzah yang membahagiakan.”

Kata-kata itu disampaikan dengan senyum—tenang, jernih, dan penuh keyakinan.

Apa pun itu, meskipun Ustaz Jazir telah wafat, bagi banyak orang “kehadirannya” insya Allah masih akan terus dapat dirasakan.

Pertama, melalui Masjid Jogokariyan yang fenomenal dan kini dikenal sebagai salah satu masjid percontohan. Keberhasilan dan karakter masjid tersebut tak lepas dari sentuhan tangan serta visi besar almarhum.

Kedua, melalui karya-karya tulisnya, terutama buku berjudul Manifesto Masjid Nabi: Rumah Allah yang Memihak Rakyat. Di dalamnya bergetar semangat dakwah yang membara dari sang penggerak, Muhammad Jazir ASP, sekaligus bertaburan pelajaran bermutu tentang bagaimana memajukan—lebih tepatnya, memakmurkan—masjid.

Ketiga, melalui tekad banyak orang yang terwakili oleh doa Ustaz Salim A. Fillah saat melepas jenazah Ustaz Jazir di Masjid Jogokariyan:

“Ya Allah, beri kami kekuatan dan taufik untuk melanjutkan perjuangan beliau.”

Akhirnya, memang Ustaz Jazir telah wafat, tetapi semangat dakwahnya yang tak pernah padam, insya Allah, akan terus membersamai umat. Ide-ide pemakmuran masjidnya akan selalu menginspirasi, terutama para pengurus Rumah Allah.

Allahu Akbar. Alhamdulillah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni