
Gerakan kesejahteraan umat telah berhasil dimulai Ustaz Muhammad Jazir di Masjid Jogokariyan Yogya. Keberhasilan ini menjadi contoh masjid-masjid di nusantara.
Oleh Qosdus Sabil, Anggota Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah.
Kita kehilangan tokoh dakwah di negeri ini. Di akhir tahun ini, satu kader utama Muhammadiyah, Ustaz Muhammad Jazir, Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Yogyakarta wafat.
Sosok yang telah mengabdikan hidupnya untuk memakmurkan masjid, menghidupkan jemaah, dan menanamkan nilai keikhlasan dalam setiap langkah perjuangan
Berita duka berpulangnya Ustaz Jazir tersebar di beberapa grup WhatsApp, pada Senin (22/12/2025).
Kisah sukses Masjid Jogokariyan tidak bisa dilepaskan dari kegigihan dakwah Ustaz Jazir. Gerakan masjid memakmurkan jemaaah dicontoh masjid-masjid di tanah air.
Kini, manajemen masjid yang ramah terhadap anak, kaum mustadh’afin dan para lansia menjadi prioritas layanan.
Di samping tentu saja tetap serius menggarap segmen pemuda dan ibu-ibu yang secara organik selama ini banyak menghidupkan masjid dengan berbagai macam kegiatan dakwah.
Masjid sebagai basis kaderisasi sejak dini. Anak diajari membaca dan berakhlak dengan benar sesuai tuntunan Nabi.
Masjid disiapkan bagi semua lapisan masyarakat, termasuk untuk penyandang disabilitas. Sehingga masjid tidak hanya diisi oleh shaf para orang tua.
Adalah lumrah saja jika kalangan orang tua rajin ke masjid. Tidak lagi istimewa. Mereka telah menjalani fase akhir kehidupan, sehingga telah tumbuh kesadaran pribadi untuk menyongsong akhir kehidupan yang indah dan husnulkhatimah.
Menjadi istimewa jika masjid dihidupkan oleh para pemuda. Di tangan pemuda, masa depan kemakmuran masjid akan terjaga.
Masjid Ramah Perempuan
Masjid jangan lagi alergi dengan keberadaan ibu-ibu. Sehingga seringkali masjid berlaku tidak adil kepada mereka.
Hanya sedikit ruang disekat yang tersedia buat mereka. Saat salat Jumat, mayoritas masjid tidak menyediakan ruang untuk kalangan perempuan.
Apalagi saat datang masa iktikaf di akhir Ramadan, nyaris semuanya adalah laki-laki, karena masjid tidak memberikan layanan untuk kaum perempuan. Perempuan hanya dianggap masyarakat kelas dua.
Padahal jika mengacu kepada sirah nabawiyah, maka perempuan juga jemaah lima waktu ke masjid.
Perempuan juga ikut hadir salat dan mendengarkan khotbah Jumat. Saat Ramadan, perempuan juga ikut iktikaf.
Islam memberikan kesempatan dan hak yang sama. Keutamaan perempuan jemaah ke masjid sama dengan keutamaan laki-laki. Hanya derajat kewajibannya sedikit berbeda.
Jika laki-laki disunahkan salat jemaah ke masjid, maka hal yang sama juga berlaku bagi perempuan. Namun, perempuan lebih banyak memiliki keringanan jika memiliki halangan untuk datang salat di masjid.
Penulis ingin mengkritisi persoalan keutamaan perempuan salat jemaah dan mendengarkan ceramah atau khotbah di masjid.
Sangat penting para perempuan ikut berjemaah dan memahami ilmu agama dengan baik. Karena di tangan perempuan yang pertama kali mendidik generasi umat.
Perempuan wajib ke masjid, karena mereka menjadi the first hands to shape our generations.
Begitu strategisnya keberadaan masjid bagi perempuan, Aisyiyah bahkan memelopori dan mendirikan musala Aisyiyah yang diperuntukkan khusus untuk perempuan.
Supaya pembinaan kaum perempuan dapat dilaksanakan dengan lebih intensif, dan menyentuh kebutuhan dasar perempuan.
Masjid Makmur dan Memakmurkan
Berikutnya, gerakan masjid melakukan pemberdayaan ekonomi umat. Makmur dan memakmurkan warga.
Jika hanya masjid yang makmur, sementara jemaahnya masih banyak yang dililit persoalan kehidupan, maka keberadaan misi dakwah masjid patut dipertanyakan.
Masjid bukan urusan akhirat saja. Karena doa yang diajarkan Nabi adalah untuk kebaikan di dunia dan akhirat. Rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil-ākhirati ḥasanah wa qinā ‘ażāban-nār.
Masjid menjadi solusi kehidupan umat. Masjid tidak berhenti hanya memberi makan siang saat Jumat. Masjid juga menjadi lembaga baitulmal wat tamwil.
Memberikan jalan keluar buat kaum yang butuh modal usaha. Masjid menjadi penyelamat mereka yang terlilit utang.
Masjid menjadi penjamin beasiswa bagi kelangsungan pendidikan anak-anak yatim dan fakir miskin.
Masjid menjadi penggerak roda perekonomian umat. Ayat fa idzaa qudiyatish shalātu fantashirū fil-ardhi wabtaghū min fadhlillah… Apabila salat telah ditunaikan, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah.
Ayat ini harus dimaknai bahwa masjid dan pasar sebagai bagian integral perencanaan tata ruang wilayah.
Masjid dan pasar, juga pusat pemerintahan dan pendidikan, harus berada dalam zona yang berdekatan. Sehingga menimbulkan pergerakan yang saling mendukung dan menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.
Filosofi ini diambil dalam master plan pembangunan kota-kota masa pemerintahan kekhalifahan, dan diadaptasi dalam perencanaan pembangunan masa kerajaan Islam di nusantara.
Jejak peradaban tersebut masih bisa kita temukan di berbagai kota. Cirinya ditandai juga dengan keberadaan alun-alun besar sebagai pusat berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan.
Alun-alun menjadi pemersatu matra masjid-pasar-pusat pemerintahan dan pendidikan.
Dulu, alun-alun menjadi tempat konsolidasi pasukan. Kini alun-alun menjadi tempat upacara kesiapan aparat pemerintahan.
Alun-alun berfungsi sebagai kawasan penyangga utama, saat masjid sudah tidak sanggup menampung jemaah, terutama saat salat Jumat atau salat hari raya.
Alun-alun juga menjadi area pendukung pasar, ketika transaksi jual beli –terutama ketika panen raya—menjadikan kapasitas ruang pasar tidak lagi mencukupi.
Alun-alun menjadi area berolahraga murid sekolah, juga menjadi lokasi berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat sebagai ruang berinteraksi.
Untuk keselarasan itu semua, keberadaan masjid dengan segala programnya menjadi penentu apakah dakwah telah menyentuh kepada semua sisi kehidupan masyarakatnya.
Basis Kampanye Pengelolaan Sampah
Saat kota Yogyakarta mengalami masalah pelik terkait pengelolaan sampah di akhir tahun 2023, penulis sempat berkomunikasi dengan Allahuyarham Ustaz Jazir.
Penulis menyampaikan tentang Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi) sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah berbasis masjid dan masyarakat.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif MUI melalui Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLHSDA MUI). Penulis aktif terlibat di dalamnya.
Gradasi mendorong masyarakat untuk memilah sampah dari rumah dan menyedekahkannya melalui masjid sebagai bentuk kontribusi sosial dan ibadah lingkungan.
Sedekah sampah diarahkan sebagai sikap sadar lingkungan yang bermotif religius, bukan sekadar kegiatan kebersihan, dan menjadi bagian dari program Eco Masjid yang digalakkan oleh MUI dan masjid masjid di berbagai daerah.
Penulis juga menyampaikan tentang teknologi bioreaktor kapal selam, model pengolahan sampah, karya Doktor Muhammad Sobri.
Seorang alumni IMM, doktor teknologi peternakan dari IPB. Alhamdulillah, disambut baik dan segera menindaklanjutinya diterapkan di Masjid Jogokariyan, melengkapi program bank sampah yang sudah terlebih dahulu ada.
Sehingga dari pengolahan sampah tersebut masjid bisa mandiri energi. Termasuk kampanye energi ramah lingkungan melalui wakaf panel surya, sehingga masjid juga memperoleh manfaat ekonomi dari penjualan kelebihan energi listrik yang dihasilkan.
Basis Perjuangan Dakwah
Ustaz Jazir kita kenal sebagai kader Muhammadiyah yang telah mendedikasikan hidupnya untuk gerakan dakwah berbasis masjid.
Sekarang sudah banyak masjid Muhammadiyah, bahkan masjid-masjid yang lain, ikut mengadaptasi manajemen pengelolaan masjid dengan pola pengelolaan masjid ala Jogokariyan.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah sejak Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta 2022, menjadikan pembinaan masjid sebagai satu kesatuan dalam pembinaan cabang dan ranting.
Kehadiran Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) menjadi babak penting kesadaran Muhammadiyah dalam penataan gerakan berbasis masjid.
Satu hal yang masih perlu mendapatkan perhatian serius Muhammadiyah adalah bagaimana menjadikan warga dan pimpinan persyarikatan aktif terlibat sebagai jemaah masjid.
Masih banyak pimpinan persyarikatan yang belum aktif salat lima waktu di masjid. Masih ada pula pimpinan Muhammadiyah yang tidak fasih bacaannya saat menjadi imam salat.
Fenomena ini merata dari ranting hingga pusat. Inilah sisi-sisi yang perlu mendapatkan perhatian serius dari program pembinaan masjid: pembinaan bacaan Al-Quran untuk para pimpinan dan anggota Muhammadiyah secara luas.
Karena banyak di antara mereka yang masuk menjadi anggota dan terpilih sebagai pimpinan, tidak memiliki basic penguasaan ilmu agama dan bacaan Al-Quran yang baik.
Semoga kita dapat meneladani dan melanjutkan jejak dakwah Ustaz Muhammad Jazir, sehingga keberadaan masjid benar-benar menjadi basis perjuangan dakwah, sekaligus menjadikan masjid sebagai masjid yang makmur dan memakmurkan. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto










