Cerpen

Seekor Nyamuk dan Kroninya

72
×

Seekor Nyamuk dan Kroninya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Seekor nyamuk yang kecil ternyata mampu membuka percakapan besar tentang kesehatan, lingkungan, kehidupan desa–kota, bahkan tentang kekuasaan dan kebijakan.

Cerpen oleh Qosdus Sabil

Tagar.co – Tidak seperti biasanya, pagi ini saya merasa sangat lelah. Sepanjang malam, serbuan nyamuk seolah tidak pernah berhenti. Raket nyamuk yang saya gunakan hingga kehabisan baterai, sementara nyamuk-nyamuk tidak kunjung habis.

Mungkin karena beberapa hari terakhir tidak hujan sejak hujan terakhir pada malam tahun baru, sehingga telur-telur nyamuk menetas sangat cepat dalam jumlah yang begitu dahsyat.

Baca cerpen lainnya: Lak Bulu

Nyamuk hanyalah seekor hewan kecil. Namun, ia menjadi salah satu penyebab kematian terbesar. Penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk membunuh ratusan ribu hingga jutaan orang setiap tahun di seluruh dunia. Gigitan nyamuk menyebabkan penularan malaria, demam berdarah, zika, hingga chikungunya.

Pekan ini, di grup WhatsApp jemaah masjid kompleks tempat kami tinggal, terpantau ada empat orang yang secara bersamaan harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Keluhannya sama: badan terasa lemas, demam, dan tulang-tulang terasa linu.

Itu semua mengarah pada indikasi adanya serangan chikungunya, dengan gejala demam tinggi mendadak, nyeri sendi hebat—terutama pada tangan, pergelangan, lutut, dan kaki—hingga sulit berjalan atau menggenggam, serta badan lemas dan pegal-pegal.

Sementara itu, berdasarkan pendataan RW, laporan keluhan wabah chikungunya ini juga dirasakan oleh beberapa warga lain. Hanya saja, mereka memilih berobat jalan dan tidak sampai harus rawat inap di rumah sakit.

Saya yang kini menetap di pinggiran kota Jakarta sejenak teringat sebuah lagu masa kecil, lagu penuh ledekan khas orang desa terhadap ketidaknyamanan Jakarta.

Baca Juga:  Antrean yang Menyimpan Luka

Masih teringat saat Kak Yanto, Kak Ramli, Kak Budi, Mbak Siti, atau Mbak Hasanah berangkat merantau ke Jakarta. Setiap kali ada warga kampung mengantar keluarganya naik kereta api dari stasiun, selalu diakhiri dengan lagu ini:

Jreng jring kapal udara
numpak sepor mudun Jakarta
Jakarta akeh lamuke
tukang becak akeh duwike
duwike satus selawe
gawe tuku onde-onde
onde-onde isine kacang
weteng gede njaluk dicancang

Lagu ini diawali dengan kontradiksi: jreng jring kapal udara, numpak sepor mudun Jakarta—ingin hati naik pesawat, realitanya hanya naik kereta. Jika dari pesawat memang tepat disebut “turun”. Namun jika naik kereta, mungkin lebih tepat disebut “melompat”.

Sejak dahulu, Jakarta dikenal sebagai kota yang banyak nyamuknya (Jakarta akeh lamuke). Mungkin karena kotanya dahulu semrawut dan kotor, sungai-sungainya penuh sampah dan berbau tidak sedap. Hingga kini, anggapan itu masih berlaku. Gemerlap Jakarta semakin nyata, tetapi nyamuknya tetap banyak.

Kemudian, tukang becak akeh duwike (tukang becak banyak uangnya). Saat itu, menjadi tukang becak dianggap jalan pintas orang desa tanpa ijazah dan keterampilan untuk memperoleh uang. Becak menjadi alat transportasi privat yang relatif mahal dibandingkan angkot atau bus kota. Cukup beberapa kali menarik becak, seseorang bisa mendapatkan uang—dengan catatan penumpang ramai.

Lucunya, setelah disebut banyak uang, ternyata uangnya terbatas: duwike satus selawe (seratus dua puluh lima), hanya cukup membeli onde-onde. Onde-onde isine kacang, weteng gede njaluk dicancang—sebuah candaan yang benar-benar absurd.

Baca Juga:  Saat Nasihat Orang Tua Kalah oleh Cahaya Layar

Sekilas, gambaran polos dan konyol kawan-kawan kecil kembali terlintas. Wajah lucu Rofik dengan gaya ikonik seperti artis dangdut A. Rafik. Ia tampak gembira melepas kepergian kakaknya merantau, sementara ibu dan keluarganya berlinangan air mata. Dalam benaknya, pergi ke Jakarta berarti segera memiliki banyak uang.

Saya juga teringat wajah konyol Edi. Tubuhnya kekar, perutnya sedikit buncit, sering meronta ingin ikut Mbak Siti naik kereta. Sebagai anak lelaki tertua, ia ingin menggantikan peran bapaknya yang meninggal akibat tabrak lari. Ia ingin menjaga Mbaknya dari rumor buruk ibu kota: Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota.

Candaan khas desa menggambarkan kota sebagai tempat hidup keras: semua serba uang, gotong royong minim, biaya pendidikan dan kesehatan tinggi, bahkan buang air kecil pun harus bayar. Untuk hidup layak sulit, untuk mati pun mahal. Itulah sebabnya banyak pendatang memilih dimakamkan di kampung halaman.

Namun, bukankah semua wilayah tropis memang berpotensi banyak nyamuk, baik kota maupun desa? Termasuk kampung saya di jalur Pantai Utara Jawa. Perbedaannya hanya persepsi bahwa desa lebih bersih dan asri. Nyamuk tetap sama banyaknya—sami mawon, alias sama saja.

Saat muda dulu, tidur di langgar atau masjid, kami mengolesi tubuh dengan minyak tanah sisa lampu teplok untuk mengusir nyamuk. Jika tak mempan, tikar dijadikan selimut. Nyamuk desa ukurannya besar; sarung pun masih tembus sengatannya. Bedanya, nyamuk desa menyerang senyap, nyamuk kota berisik berdengung mengganggu.

Baca Juga:  Mahar dari Sampah Masjid

Badan berlumur debu menjadi pilihan daripada semalaman tidak tidur. Risikonya, bangun pagi harus mandi besar agar tidak gatal.

Bahkan, raja sombong Namrud yang mengaku tuhan pun mati karena seekor nyamuk.
Al-Qur’an menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan. Tuhan tidak malu menjadikan nyamuk sebagai contoh kebesaran-Nya. Ilmu modern pun belum mampu mengungkap seluruh rahasia di balik makhluk kecil ini.

Sebaliknya, manusia tanpa bimbingan wahyu justru berpikir bagaimana menjadikan nyamuk sebagai potensi bisnis. Bayangkan besarnya perputaran uang industri obat nyamuk: bakar, semprot, hingga losion. Industri ini menciptakan lapangan kerja luas. Riset mahal dilakukan demi kenyamanan hidup manusia.

Tren kini mendorong penggunaan obat nyamuk ramah lingkungan berbahan herbal. Sebab, bahan kimia menimbulkan residu dan nyamuk kian kebal terhadap pestisida.

Edi akhirnya tinggal kembali di desa. Ia kini membudidayakan nyamuk hingga menjadi jentik sebagai komoditas bisnis baru yang menguntungkan. Ia hidup tenteram setelah “mengatasi” nyamuk.

Rofik pun demikian. Lulus sebagai sarjana teknik mesin, bekerja di pabrik besar ibu kota, lalu mengundurkan diri dari jabatan manajer. Kebijakan pemerintah, katanya, sering berubah menjadi nyamuk yang mengisap laba perusahaan—dan perusahaan pun mengisap darah karyawan.

Saat bertemu, ia berkata, “Sekarang nyamuk-nyamuk makin betah tinggal di sekitar istana. Mereka memakai setelan jas dan dasi. Parfum mewah. Bahkan Baygon pun menyerah.”

Ciputat, 23 Rajab 1447

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…