
Antrean obat yang panjang membuka kisah tentang empati, prosedur kaku, dan manusia-manusia lelah yang terjebak di dalam sistem yang tak selalu ramah pada rasa sakit.
Cerpen oleh Mawadatus Salma Failasufa
Tagar.co – Pagi itu, jam dinding di ruang tamu berdetak lebih keras dari biasanya, seolah mengetuk-ngetuk kesabaranku. Detiknya terdengar lebih nyaring. Atau mungkin hanya perasaanku saja yang membuat segala bunyi terasa berlebihan.
Ibuku terbaring di sofa. Selimut menutup hingga dadanya. Wajahnya pucat, keringat dingin belum juga mengering. Sejak Subuh, demamnya tak turun, seperti api kecil yang membandel dan enggan padam.
Baca juga: Makna Baru di Ruang Digital: Semantik Bahasa Gen Z
Dokter di klinik dekat rumah sudah memberinya resep obat. Katanya obat umum, mudah dicari, tak perlu ke rumah sakit besar.
“Beli di apotek biasa saja,” kata dokter itu santai.
Kalimat apotek biasa terdengar sederhana, ringan, hampir menenangkan. Terlalu sederhana, bahkan. Aku tak tahu bahwa kata itu akan membawaku pada antrean yang lebih panjang dari kesabaranku sendiri.
Aku mengambil motor, melipat resep, dan berangkat menuju Apotek Harapan Sejahtera, apotek kecil di pinggir jalan utama. Tempatnya tak besar, tapi hampir selalu ramai.
Dari luar, bangunannya tampak bersih dan rapi. Jujur saja, meyakinkan. Aku pikir, paling lama sepuluh menit, lalu pulang.
Nyatanya, aku salah.
Begitu masuk, udara dingin dari pendingin ruangan menyambut, bercampur bau obat yang khas—getir dan steril. Di depan meja kasir, antrean sudah mengular, seperti ular malas yang enggan bergerak.
Ada ibu-ibu menggendong anak. Ada bapak tua bertongkat. Ada seorang pemuda duduk sambil menahan batuk.
Di balik meja, seorang perempuan duduk tegak. Seragam putihnya licin tanpa kusut. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya datar, seperti tak pernah mengenal senyum. Namanya tertera jelas di dada: Rani.
“Resep,” katanya kepada pelanggan di depannya.
Nada suaranya bukan tinggi, bukan marah. Pendek dan tegas. Seperti pintu yang ditutup rapat tanpa dibanting, tetapi tetap terasa final.
“Ini, Mbak,” kata seorang ibu setengah baya. “Obat yang kemarin. Anak saya masih panas.”
Rani membaca resep cepat, lalu berkata, “KTP.”
Ibu itu terlihat bingung. “KTP? Ini kan obat anak.”
“Aturannya begitu,” potong Rani tanpa mengangkat wajah. “Perlu data.”
Ibu itu menghela napas, lalu menyerahkan KTP dari tasnya.
Rani mengetik sesuatu di komputer tua yang kipasnya berisik. Setelah itu ia berkata lagi, “Tunggu.”
“Berapa lama, Mbak?”
“Sekitar dua puluh menit.”
Keluhan mulai terdengar, pelan tetapi nyata. Antrean tak bergerak, sementara waktu terus berjalan.
Aku menggeser berat badan dari satu kaki ke kaki lain. Resep di tanganku mulai terasa lembap. Saat giliranku tiba, kesabaranku sudah menipis.
“Ini resepnya, Mbak,” kataku. “Obatnya parasetamol sama antibiotik.”
Rani membacanya sekilas.
“BPJS?”
“Enggak.”
“Bayar umum?”
“Iya.”
“KTP.”
Aku menyerahkan.
Ia mengetik lama. Terlalu lama untuk obat yang katanya umum.
“Berapa lama?” tanyaku akhirnya.
“Tiga puluh menit.”
Aku terdiam. Tiga puluh menit terasa seperti jarak antara harapan dan kepanikan.
“Tiga puluh menit?” kataku. “Mbak, ini obat biasa. Ibu saya lagi demam.”
Rani menatapku. Tatapannya tajam, tetapi kosong. Seperti jendela yang terbuka pada ruangan tanpa cahaya.
“Semua harus lewat prosedur,” katanya. “Kalau mau cepat, silakan cari apotek lain.”
Kalimat itu jatuh tanpa empati, tanpa basa-basi.
Dari belakang, suara-suara mulai naik, seperti ombak mencari karang.
“Selalu ribet di sini!”
“Beli obat doang kayak ngurus SIM!”
“Kasirnya judes amat!”
Aku merasakan panas naik ke kepala. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku keluar.
Di luar, aku duduk di motor. Tanganku gemetar. Bukan hanya karena marah, tetapi karena takut. Takut ibu di rumah makin parah.
Di parkiran, aku membuka ponsel.
Aku menulis. Panjang. Jujur. Emosional.
Tentang antrean panjang. Tentang kasir yang dingin. Tentang ribetnya beli obat di apotek “biasa”. Aku mengunggah foto antrean, menulis keterangan tanpa menyebut nama siapa pun—atau setidaknya, aku merasa begitu.
Aku menekan tombol unggah.
Dalam satu jam, notifikasiku meledak.
Puluhan komentar. Ratusan. Ribuan.
“Aku juga pernah!”
“Apotek itu emang nyebelin.”
“Viralkan saja biar kapok.”
“Semoga tokonya sepi.”
Aku membaca semuanya dengan perasaan campur aduk. Ada lega. Ada puas. Tetapi juga ada rasa tak nyaman yang samar.
Malamnya, ibu akhirnya minum obat dari apotek lain. Demamnya turun. Aku lega.
Namun unggahanku terus hidup.
Keesokan pagi, aku membuka media sosial dengan cemas. Unggahanku dibagikan ke grup-grup. Akunku disebut. Orang-orang mulai menyebut nama apotek itu terang-terangan.
Hari itu aku melewati apotek tersebut lagi. Aku melambatkan motor.
Sepi.
Tak ada antrean panjang. Tak ada ibu-ibu gelisah. Hanya satu dua orang duduk menunggu. Dari balik kaca, aku melihat Rani di meja kasir. Bahunya tampak turun. Wajahnya lebih pucat dari kemarin.
Entah dorongan apa, aku memarkir motor dan masuk.
Rani menoleh. Matanya bertemu denganku. Ia mengenaliku.
“Oh,” katanya singkat. “Kamu.”
Aku menelan ludah. “Iya, Mbak.”
Aku ingin marah. Ingin membela diri. Namun yang keluar justru, “Maaf.”
Rani terdiam sejenak, lalu tertawa kecil—tawa tanpa bahagia.
“Enggak apa-apa,” katanya. “Bukan pertama kali.”
“Maksudnya?”
“Viral,” katanya pelan. “Sudah sering. Ganti orang, ganti cerita.”
Aku duduk di kursi depan meja. Ia lalu bercerita—tentang SOP, tentang surat peringatan, tentang gaji yang sering terlambat, tentang ibu yang juga menunggunya di rumah.
“Kenapa harus seribet itu, Mbak?” tanyaku. “Orang cuma mau sembuh.”
Rani menatap layar komputer yang kosong. Lama. Lalu menarik napas panjang, seolah napas itu sudah ditahan berbulan-bulan.
“Aku cuma kasir,” katanya lirih. “Bukan pengambil keputusan.”
Ia diam sejenak, lalu melanjutkan, “Bukan pemilik. Bukan pembuat kebijakan.”
Aku terdiam.
“Kalau aku melewati satu langkah SOP,” katanya, “aku bisa kena surat peringatan. Tiga kali SP, aku dipecat.”
Nada suaranya datar, tetapi matanya basah.
“Setiap obat harus dicatat, difoto, diinput, disesuaikan stok. Bahkan parasetamol murah. Katanya buat audit.”
Dadaku terasa sesak.
“Orang berharap apotek ini sepi,” katanya lagi. “Atasan malah senyum. Katanya efisiensi. Tapi jam kerja kami dipotong. Insentif dihapus. Gaji sering telat.”
Aku menunduk.
“Aku juga punya ibu,” katanya lirih. “Aku tahu rasanya menunggu orang sakit di rumah.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari makian apa pun.
Aku ingin menarik unggahanku. Tetapi internet tidak mengenal kata kembali.
Di luar, spanduk kecil tergantung:
Pelayanan sesuai prosedur demi keamanan bersama.
Tulisan itu kini terasa seperti sindiran.
Aku pulang dengan pikiran penuh. Malamnya, aku menulis lagi. Kali ini berbeda. Aku menulis tentang SOP. Tentang kasir yang terjebak. Tentang sistem yang membuat manusia terlihat kejam.
Unggahan kedua itu tak seviral yang pertama. Tak ada ribuan komentar. Namun aku tetap membiarkannya ada.
Beberapa hari kemudian, apotek itu kembali ramai. Tidak lebih cepat, tidak lebih mudah, tetapi ada yang berubah.
Rani masih singkat. Masih tegas.
Namun kini, setiap pelanggan yang menunggu lama, ia berkata pelan,
“Maaf ya, agak lama.”
Dan aku paham.
Kadang yang paling sakit bukan penyakitnya, bukan antreannya, bukan kasirnya, melainkan sistem yang lupa bahwa di balik prosedur, ada manusia yang hanya ingin sembuh dan manusia lain yang hanya ingin bertahan hidup.
Hari-hari berlalu. Unggahan tentang apotek itu perlahan tenggelam oleh isu lain. Media sosial memang begitu—marah hari ini, lupa besok pagi. Tetapi bagiku, cerita itu tak pernah benar-benar selesai.
Setiap kali aku melewati apotek itu, mataku otomatis mencari antrean. Kadang panjang, kadang kosong. Kadang ada yang keluar sambil menggerutu, kadang ada yang diam pasrah.
Sistemnya tetap sama. Prosedurnya tak berubah. Seperti penyakit kronis yang tak pernah benar-benar disembuhkan, hanya dikontrol agar tidak terlihat parah.
Suatu sore, aku kembali ke apotek itu. Bukan karena darurat. Hanya membeli vitamin. Antreannya pendek. Rani masih di sana.
“Resep?” tanyanya singkat.
“Enggak, Mbak. Vitamin.”
Ia mengangguk. Tangannya bergerak cekatan di papan ketik. Tak ada senyum, tetapi juga tak ada dingin yang menusuk seperti dulu. Hanya rutinitas.
Aku memperhatikannya dari dekat. Lingkar hitam di bawah matanya. Cara bahunya sedikit membungkuk.
Ia terlihat seperti seseorang yang terlalu lama berdiri di tengah arus deras—lelah melawan, tetapi tak punya pilihan selain bertahan.
“Totalnya sekian,” katanya.
Aku menyerahkan uang, lalu berkata pelan, “Semoga Mbak baik-baik saja.”
Rani terdiam sepersekian detik. Lalu mengangguk kecil.
“Makasih.”
Satu kata. Tetapi terasa lebih jujur daripada ribuan komentar di media sosial.
Di luar, aku berdiri sejenak. Orang-orang berlalu-lalang, masing-masing membawa masalahnya sendiri. Ada yang sakit. Ada yang menunggu. Ada yang marah. Ada yang lelah.
Aku sadar, kemarin aku terlalu cepat menunjuk wajah yang terlihat—kasir di balik meja—tanpa bertanya siapa yang menarik benang di belakangnya. Aku ikut dalam keramaian yang gemar menyederhanakan masalah: mencari tokoh jahat, lalu selesai.
Padahal hidup tidak sesederhana itu.
Kasir yang judes bisa jadi manusia yang takut kehilangan pekerjaan. Antrean panjang bisa jadi hasil kebijakan yang lahir jauh dari meja kasir. Dan unggahan viral, meski terasa seperti keadilan, sering kali hanya memindahkan luka dari satu tangan ke tangan lain.
Malam itu, aku duduk di samping ibuku yang sudah jauh membaik. Ia tersenyum, menanyakan ke mana aku tadi.
“Ke apotek,” jawabku.
“Ribet lagi?” tanyanya sambil tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum. “Masih.”
Ibuku mengangguk pelan. “Sabar itu obat juga, Nak. Meski rasanya pahit.”
Aku menatapnya lama. Kata-katanya sederhana, tetapi menancap.
Sejak hari itu, aku lebih hati-hati memilih kata. Bukan karena takut viral, bukan karena takut hukum, melainkan karena aku tahu: di balik setiap prosedur yang menjengkelkan, ada manusia lain yang sama lelahnya denganku.
Antrean itu mungkin tak pernah benar-benar sembuh.
Sistemnya mungkin masih sakit.
Namun setidaknya aku belajar satu hal:
tidak semua yang terlihat kejam adalah pelaku, dan tidak semua kemarahan layak dijadikan tontonan.
Kadang, yang paling kita butuhkan bukan teriakan, melainkan pemahaman. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












