
Dalam saf yang rapat pada Subuh ketiga Ramadan, dua ibu yang lama saling menjauh akhirnya dipertemukan oleh sunyi—dan dari sanalah, hati yang beku perlahan mulai mencair.
Cerpen oleh Mochammad Nor Qomari, Guru SMP Muhammadiyah 12 GKB
Tagar.co – Sejak Oktober 2024, udara di Perumahan Griya Melati tak lagi sama bagi dua keluarga yang rumahnya saling berhadapan. Rupiah dan Kasminten, dua ibu yang dulu sering berbagi lauk dan cerita sore, kini memilih menutup pintu rapat-rapat. Sapaan diganti diam. Senyum berubah menjadi tatapan kosong.
Baca cerpen lainnya: Harga Cukur dan Harga Syukur
Tak ada yang benar-benar ingat bagaimana awalnya. Konon bermula dari salah paham soal iuran kebersihan dan jadwal ronda. Kalimat yang terucap dengan emosi melukai harga diri. Pesan WhatsApp yang disalahartikan memperkeruh keadaan. Sejak itu, keduanya tak lagi akur.
Imbasnya paling terasa pada anak-anak. Reno, anak ragil Rupiah yang berusia delapan tahun, dan Sandy, anak pertama Kasminten yang berusia tujuh tahun, dulu tak terpisahkan. Mereka biasa bermain bola di taman perumahan setiap sore. Tawa mereka menjadi musik kecil yang menghidupkan gang sempit itu.
Namun sejak konflik orang tua mereka, larangan turun.
“Reno, tidak usah main ke taman. Jangan dekat-dekat rumah Bu Kasminten,” ujar Rupiah suatu sore.
“Kenapa, Bu? Aku mau main sama Sandy,” protes Reno.
“Pokoknya tidak usah. Ibu tidak suka.”
Di rumah seberang, Sandy pun menerima kalimat serupa.
“Sandy, kamu mainnya di halaman saja. Tidak perlu ke taman,” kata Kasminten tegas.
“Tapi, Ma, Reno menunggu aku…”
“Kamu dengar Mama, ya.”
Taman perumahan pun sunyi. Bola plastik yang biasa melayang kini tergeletak kempis di pojok teras.
Ramadan datang membawa suasana berbeda. Malam-malam diisi tarawih. Waktu Subuh mulai ramai oleh langkah jemaah menuju Musala Al-Ikhlas. Namun, meski berada dalam satu saf salat selama dua malam pertama, Rupiah dan Kasminten tetap menjaga jarak.
Hingga Ramadan hari ketiga.
Pagi itu udara terasa lebih sejuk. Jam menunjukkan pukul 04.30. Musala Al-Ikhlas sudah hampir penuh. Rupiah datang lebih awal, membawa mukena putih bersih. Ia tak menyangka ketika melangkah masuk, tempat kosong di sebelahnya hanya satu. Beberapa detik kemudian, Kasminten berdiri tepat di sampingnya.
Mereka saling melirik sekilas. Ada kikuk yang menggantung. Namun tak mungkin berpindah tempat; saf sudah rapat.
“Allahu Akbar…”
Takbir seakan mengikis jarak yang selama ini mengeras. Dalam sujud yang lama, Rupiah merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Bukankah Ramadan bulan ampunan? Bukankah setiap malam ia memohon kelapangan hati?
Di rakaat terakhir, air mata tipis menggenang tanpa ia sadari.
Usai salat, jemaah tetap duduk. Pagi itu ada tausiah Subuh dari H. Ahmad, tokoh yang dihormati warga.
“Saudara-saudaraku,” suara H. Ahmad lembut namun tegas, “silaturahmi itu bukan sekadar berjabat tangan. Silaturahmi adalah keberanian menurunkan ego.”
Ia berhenti sejenak.
“Banyak rezeki tertahan bukan karena kurang usaha, tetapi karena hati kita sempit. Rasulullah mengajarkan, siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi.”
Rupiah menunduk. Kasminten mengusap ujung matanya.
“Ramadan adalah kesempatan memperbaiki hubungan. Jangan biarkan anak-anak belajar tentang permusuhan dari kita.”
Kalimat itu seperti mengetuk keras.
Di saf perempuan bagian belakang, Bu Saudah, ibu ketua RT, memperhatikan dua sosok yang duduk berdampingan namun membisu. Ia tahu, inilah momen yang ditunggu.
Selepas doa penutup, jemaah mulai berdiri. Bu Saudah segera mendekat.
“Bu Rupiah, Bu Kasminten,” sapanya hangat. “Alhamdulillah bisa berjemaah bersama pagi ini.”
Keduanya tersenyum kaku.
“Boleh Ibu minta waktunya sebentar?” lanjut Bu Saudah.
Mereka tak enak menolak.
Di serambi musala, cahaya matahari mulai mengintip. Suasana hening, hanya terdengar suara anak-anak mengaji di sudut ruangan.
Bu Saudah memandang keduanya bergantian. “Saya tidak tahu persis apa yang terjadi sejak Oktober lalu. Tapi saya tahu, lingkungan kita jadi terasa berbeda.”
Rupiah menunduk. Kasminten menarik napas panjang.
“Yang paling saya kasihan itu Reno dan Sandy,” lanjut Bu Saudah lembut. “Mereka jadi tidak boleh main bersama.”
Nama anak-anak itu membuat hati keduanya bergetar.
Rupiah lebih dulu bicara, suaranya pelan. “Saya… mungkin terlalu cepat tersinggung waktu itu.”
Kasminten menatapnya. “Saya juga tidak sabar. Harusnya bisa dibicarakan baik-baik.”
Sunyi sesaat.
Lalu Rupiah berkata lirih, “Maafkan saya, Bu.”
Kasminten menahan air mata. “Saya juga minta maaf.”
Tangis tipis pecah bersamaan. Tanpa direncanakan, tangan mereka saling meraih.
Bu Saudah tersenyum lega. “Masyaallah… begini lebih indah, bukan?”
Rupiah mengangguk. “Rasanya berat sekali selama ini. Padahal rumah kita cuma dipisah jalan sempit.”
Kasminten tersenyum kecil. “Dan anak-anak jadi korban.”
Dari kejauhan, dua sosok kecil berlari mendekat. Reno dan Sandy ternyata ikut ke musala bersama ayah masing-masing.
“Mama… boleh main bola hari ini?” tanya Sandy polos.
Rupiah dan Kasminten saling pandang. Kali ini bukan dengan canggung, melainkan dengan kehangatan.
“Boleh,” jawab mereka hampir bersamaan.
“Serius?” Reno berbinar.
“Iya. Tapi jangan lupa, Reno kan puasa. Jam 05.30 sudah pulang, ya, dan nanti sore ikut tadarus di musala,” tambah Rupiah.
Sandy langsung menarik tangan Reno. “Ayo ke taman!”
Bola plastik yang lama terdiam kembali ditendang. Tawa mereka mengisi pagi Ramadan.
Rupiah memandang Kasminten. “Terima kasih sudah mau memulai.”
“Justru terima kasih sudah berani minta maaf duluan.”
Bu Saudah menimpali, “Inilah berkah Ramadan. Bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan gengsi.”
Mereka tertawa kecil.
Sejak pagi itu, Griya Melati terasa berbeda. Sapaan kembali terdengar. Pintu-pintu terbuka. Undangan buka puasa bersama mulai disusun. Reno dan Sandy kembali menjadi sahabat tanpa beban.
Ramadan hari ketiga menjadi titik balik.
Kadang yang membuat jarak bukan tembok tinggi, melainkan ego yang tak mau direndahkan. Padahal, memulai kata maaf hanya butuh satu langkah kecil—dan keberanian untuk ikhlas.
Silaturahmi bukan hanya memperpanjang umur dan melapangkan rezeki, tetapi juga menyelamatkan hati anak-anak dari luka yang tak mereka mengerti.
Di Musala Al Ikhlas pagi itu, dua ibu belajar bahwa berdampingan dalam satu saf bukan kebetulan. Itu adalah panggilan untuk berdamai.
Dan di taman kecil perumahan, bola yang kembali bergulir menjadi saksi bahwa ketika orang tua memperbaiki hubungan, anak-anaklah yang pertama merasakan berkahnya.
Ramadan selalu memberi kesempatan kedua.
Tinggal kita, mau atau tidak, membuka pintu hati selebar-lebarnya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












