
Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pemahaman tentang nilai-nilai yang baik, serta memberikan bekal kepada anak bagaimana memilih lingkungan pertama yang positif secara mandiri.
Oleh Musrifatul Jannah, S.Psi.; guru Bimbingan Konseling (BK) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik
Tagar.co – Seringkali kita mendengar istilah atau ungkapan yang menyebutkan, “Dengan siapa kita berteman, di situlah diri kita terbentuk.”
Artinya karakter kita, kebiasaan kita dan cara pandang kita terhadap sesuatu ditentukan oleh dengan siapa kita berinteraksi dalam kesehariannya. Hal ini bukan hanya istilah semata, akan tetapi memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Urie Bronfenbenner seorang tokoh psikologi perkembangan menyebutkan bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya terutama lingkungan terdekatnya yakni mikrosistem yang memberikan pengaruh yang paling berdampak. Seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, maupun lingkungan sekolah.
Bahkan, lingkungan sekitar yang tidak memberikan dampak secara langsung kepada manusia pun juga memiliki peran dalam pembentukan karakter dirinya. Seperti, perbedaan zaman yang memberikan karakter yang khas dalam generasi X, millenial maupun alpha.
Sehingga penting bagi individu untuk menyeleksi siapa saja yang layak masuk dalam lingkungan terdekat kita khususnya bagi remaja.
Karena dalam tahapan perkembangan manusia, fase remaja merupakan fase pembentukan identitas diri. Nilai-nilai yang berkembang dalam lingkungan sosial, secara tidak langsung akan membentuk identitas diri mereka. Jika baik maka akan terbentuk identitas yang baik, jika tidak maka sebaliknya.
Dalam hal ini peran orang tua sangatlah dibutuhkan dalam membantu untuk menentukan dengan siapa anak kita berinteraksi.
Dimulai dari menentukan lokasi di mana tempat kita tinggal, di mana tempat dia menempuh pendidikan, dan dengan siapakah dia berteman. Apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai baik yang ditanamkan di dalam keluarga ataukah tidak.
Peran orang tua tentu saja tidak sebatas mengarahkan, akan tetapi memberikan teladan tentang membangun pola interaksi sosial yang sehat bagi anak.
Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka, memberikan pemahaman tentang nilai-nilai yang baik, serta memberikan bekal kepada anak bagaimana memilih lingkungan pertama yang positif secara mandiri.
Sehingga anak tidak hanya bergantung pada kontrol eksternal, tetapi juga memiliki kesadaran internal dalam menentukan hubungan sosialnya. (#)
Penyunting Ichwan Arif.












