Feature

Santriwati PPI AMF Ciptakan Bloomy Ice Cream dari Daun Kelor untuk Cegah Stunting

50
×

Santriwati PPI AMF Ciptakan Bloomy Ice Cream dari Daun Kelor untuk Cegah Stunting

Sebarkan artikel ini
Khairunnisa Aqila Nurrahima (kiri) dan Rivqa Raswa Qanita, dua santriwati Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Kabupaten Malang, Jawa Timur, berhasil membuktikannya lewat produk inovatif bernama Bloomy Organic Ice Cream. (Tagar.co/Istimewa)

Dua santriwati Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang berhasil mengubah daun kelor menjadi es krim sehat bernama Bloomy. Rasanya segar, tampilannya menarik, dan diyakini ampuh mencegah stunting.

Tagar.co – Siapa sangka daun kelor yang identik dengan sayur bening sederhana bisa berubah menjadi camilan segar yang disukai semua umur?

Dua santriwati Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Kabupaten Malang, Jawa Timur, berhasil membuktikannya lewat produk inovatif bernama Bloomy Organic Ice Cream—es krim berbahan dasar daun kelor dan susu murni.

Ide dari Ketidaksukaan

Gagasan ini lahir dari pengalaman pribadi Khairunnisa Aqila Nurrahima. Santriwati SMA Abdul Malik Fadjar ini mengaku kurang suka dengan olahan kelor dalam bentuk kuah sayur.

Baca juga: Dari Es Krim Pakcoi hingga Nuget Daun Kelor, SDMM Tampilkan Inovasi Kuliner Sehat

“Di situ saya mikir bagaimana menyajikan daun kelor dalam bentuk yang menarik dan bisa diterima semua umur. Kemudian interpretasi kami jatuh ke es krim,” ujarnya saat ditemui di pesantrennya, Karangploso, Kabupaten Malang, Senin (15/9/2025).

Ia tidak sendirian. Bersama rekannya, Rivqa Raswa Qanita, Khair meracik formula es krim sehat ini dengan harapan bisa menjadi solusi gizi sekaligus menu camilan kekinian.

Kaya Gizi, Ramah Lingkungan

Daun kelor bukan bahan sembarangan. Penelitian menunjukkan kelor kaya akan protein, kalsium, kalium, magnesium, vitamin A dan C, hingga antioksidan. Bahkan, kelor diyakini mampu memperlancar ASI, menguatkan tulang, dan mencegah stunting.

Kelor juga mudah dijumpai di sekitar lingkungan mereka. Apalagi, Pemerintah Kabupaten Malang tengah mendorong program Miracle (Moringa Against Malnutrition and Climate Change) yang menargetkan 26 ribu pohon kelor tumbuh di pekarangan warga.

Bagi Khair, hal ini semakin menguatkan keyakinannya bahwa kelor layak diolah dalam bentuk baru yang lebih ramah bagi anak-anak.

Resep tanpa Pewarna Buatan

Dalam proses pembuatannya, Khair dan Rivqa menggunakan bubuk daun kelor, susu murni, kuning telur, tepung maizena, gula aren, dan kacang panggang. Semua bahan diolah tanpa tambahan pewarna buatan.

“Warna hijaunya alami dari daun kelor, mirip seperti matcha,” jelas Khair.

Namun, perjalanan membuat es krim ini tidak selalu mulus. Mereka sempat kesulitan memilih daun segar dan mengeringkannya dengan tepat. Ditambah lagi, waktu pembuatan bisa memakan 4–5 hari.

Meski begitu, hasilnya dianggap sepadan: tekstur lembut, rasa manis seimbang, dan aroma khas kelor yang tidak menyengat.

Penampilan yang Menarik

Es krim karya santriwati ini dikemas sederhana dalam cup plastik transparan berlabel Bloomy Ice Cream. Warna hijau alami berpadu dengan taburan kacang sangrai di permukaan, menghadirkan tampilan yang menggugah selera.

Saat difoto di halaman pesantren, cup es krim itu tampak segar kontras dengan latar bunga warna-warni. Kesannya, bukan sekadar camilan sehat, tetapi juga produk yang bisa dipasarkan lebih luas.

Disiapkan untuk Ajang Santripreneur

Inovasi ini tidak berhenti di meja percobaan. Bloomy Organic Ice Cream disiapkan untuk kompetisi Santripreneur One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur. Pembina tim, Rachmadanti Chairatul Nisa, berharap langkah ini melatih santri agar kreatif memanfaatkan bahan lokal bernilai tinggi.

Dukungan Pesantren

Kepala SMP-SMA Abdul Malik Fadjar, Pahri, sudah lebih dulu mencicipinya. Ia mengaku terkesan dengan rasa dan penyajian es krim tersebut. “Enak sekali. Tinggal dikembangkan lagi kemasannya biar lebih menarik,” ungkapnya.

Menurutnya, es krim punya pasar besar di Indonesia. Karena itu, ia berkomitmen mendukung inovasi santri, bukan hanya sekadar ide unik, tetapi juga berpotensi sebagai produk ekonomi pesantren. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni