Feature

Pelukan setelah Teguran: Hikmah Mendidik dengan Hati

62
×

Pelukan setelah Teguran: Hikmah Mendidik dengan Hati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI/Mohammad Nurfatoni

Dalam mendidik, teguran memang perlu. Namun tanpa cinta dan pelukan setelahnya, teguran hanya meninggalkan luka, bukan pelajaran.

Oleh Rizka Silvia, S.Pd.I, seorang pendidik

Tagar.co – Sebagai seorang pendidik, saya tidak hanya menyaksikan anak-anak belajar membaca, berhitung, atau menulis. Saya menyaksikan mereka tumbuh.

Saya melihat mereka tertawa, kadang menangis, dan sering kali berusaha memahami dunia yang masih terasa luas dan misterius bagi mereka.

Yang paling menyentuh hati saya adalah kesadaran bahwa anak-anak tidak menuntut kita, baik sebagai orang tua maupun guru, untuk sempurna. Mereka hanya ingin dimengerti dan didekati.

Sayangnya, dalam proses mendidik, banyak di antara kita yang terburu-buru ingin membentuk anak menjadi sosok sempurna. Kita menuntut mereka disiplin, mandiri, bertanggung jawab, dan berprestasi.

Semua itu mulia, tetapi jalan yang kita tempuh sering kali terlalu keras. Kita menegur tanpa memberi ruang untuk bertanya. Kita mengoreksi tanpa mendengarkan alasan. Kita menghukum tanpa memahami luka.

Padahal, Islam bukan hanya tentang benar dan salah. Islam juga mengajarkan bagaimana cara menyampaikan kebenaran, dan bagaimana merangkul setelah menegur.

Baca Juga:  Parenting TK Aisyiyah Ketangi: Menanam Nilai-Nilai Zakat, Infak, dan Wakaf sejak Usia Dini

Rasulullah Saw., teladan agung dalam pendidikan, tidak dikenal karena suara kerasnya. Beliau tidak mengubah umat dengan bentakan, tetapi dengan rahmah (kasih sayang). Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (H.R. Muslim)

Jika kasih sayang menjadi syarat turunnya rahmat, bagaimana mungkin kita berharap anak-anak tumbuh dengan iman dan akhlak jika yang mereka terima hanyalah kemarahan dan ketegasan tanpa kehangatan?

Anak-anak bukan batu yang bisa dibentuk dengan palu. Mereka ibarat tanah subur yang harus disirami dengan kesabaran, nasihat yang baik, dan pelukan hangat setelah teguran. Bahkan Allah ﷻ memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berkata lemah lembut kepada Fir’aun, seorang tiran yang mengaku sebagai tuhan:

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)

Jika kepada Fir’aun saja Allah memerintahkan kata-kata lembut, bagaimana dengan anak-anak kita yang ilmunya belum sempurna, hatinya belum teguh, dan masih mencari arah hidup?

Baca Juga:  Pertanyaan Polos Anak Ini Hidupkan Suasana Talk Show Parenting

Tentu saja, menegur tetap perlu. Namun teguran itu harus dibingkai dengan cinta, disampaikan dengan niat mendidik, bukan melukai. Yang paling penting, setelah menegur—peluklah mereka. Pelukan itu bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan pemahaman, penerimaan, dan harapan.

Saya menyampaikan ini bukan hanya sebagai kepala sekolah, tetapi sebagai seorang hamba yang juga sedang belajar menjadi pendidik yang diridai Allah. Dalam perjalanan mendidik, kita akan lelah, kecewa, bahkan putus asa.

Tetapi yakinlah, anak-anak tidak membutuhkan kita untuk selalu sempurna. Mereka hanya butuh melihat ketulusan, kejujuran, dan kemauan kita untuk terus berbenah.

Mari kita ubah cara pandang mendidik: bukan tentang menunjukkan siapa yang salah, tetapi tentang menuntun menuju kebenaran. Mendidik bukan tentang menghakimi, tetapi menemani. Sebagaimana nasihat Imam Ibn Qayyim rahimahullah:

“Dasar pendidikan adalah kasih sayang. Jika hilang kasih sayang, maka pendidikan hanya akan menjadi hukuman.”

Kita, para guru dan orang tua, harus menjadi sumber ketenangan di tengah tekanan hidup anak-anak. Jadikan teguran sebagai pintu perbaikan, dan pelukan sebagai jembatan hati. Sebab, pada akhirnya, bukan kesempurnaan kita yang akan mereka kenang, melainkan cara kita mencintai mereka saat mereka paling membutuhkan dukungan.

Baca Juga:  Branding Sekolah di Era Digital: Saatnya Aktif Bercerita di Medsos

Semoga Allah menjadikan kita guru dan orang tua yang sabar, penuh hikmah, dan dicintai karena kelembutan kita dalam mendidik. Barakallahufikum. (#)

Teras Jiwa, Agustus 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni