
Tinggal di Rumah Ubi bersama Nadjib Hamid memberi pelajaran hidup yang tak ternilai. Inilah salah satu kenangan tentang sosok Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur yang wafat 9 April 2021 lalu.
Oleh Faza Fajrulfatkhi Mohammad. Dia pernah merasakan hidup di Rumah Ubi saat masih kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Tulisan yang diambil dari buku Nadjib Hamid: Mengabdi tanpa Batas (Umsida Pers, September, 2021) ini diturunkan Tagar.co untuk mengenang empat tahun meninggalnya tokoh inspiratif itu.
Tagar.co – Tinggal di Rumah Ubi, sebutan rumah di Jalan Ubi VI/27 A Surabaya, sebenarnya tak terbayangkan dalam hidup saya. Semua itu bermula saat kami sekeluarga bersilaturahmi Lebaran ke rumah Pak Nadjib Hamid. Di tengah kehangatan obrolan, tiba-tiba saya ditawari Pak Nadjib dan Bu Luluk Humaidah untuk tinggal di rumahnya.
Ketika itu status kami, saya dan kakak-adik, ditanya satu per satu. Saat tahu saya kuliah di Universitas Surabaya (Ubaya) Jalan Tenggilis Mejoyo Surabaya dan harus cari kos-kosan—karena rumah saya berada di Desa Sidojangkung, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, yang berjarak 38 kilometer dari kampus—maka Bu Nadjib langsung memberi tawaran, “Loh kalau begitu tinggal di sini saja!”
Mendapat tawaran itu, ayah saya, Mohammad Nurfatoni, yang sudah lama kenal Pak Nadjib, menjawab terima kasih dan akan merundingkan di rumah. Tawaran itu sangat masuk akal, karena jarak antara Rumah Ubi dengan Ubaya hanya sekitar 6 kilometer, seperenam jarak Menganti-Tenggilis Mejoyo. Singkat cerita, ayah dan ibu saya, Siti Rondiyah, menerima tawaran itu. Artinya saya diperkenankan tinggal di rumah Ubi. Hal itu kemudian kami sampaikan ke keluarga Pak Nadjib.
Setelah itu saya resmi menjadi keluarga Rumah Ubi selama dua tahun. Mulai kuliah di Ubaya tahun 2017 hingga 2019. Di sana saya tinggal bersama lima teman yang sudah terlebih dahulu ada, yaitu mbak-mbak yang juga kuliah atau kerja di Surabaya. Mereka adalah Amaliyah, Saila El-Adzkiya’, Chissya el-Laudza, Indah Tri Lestari, dan Titik Suyani. Ada dua mbak yang sudah bekerja yaitu Amaliyah dan Saila El-adzkiya’, lainnya masih berkuliah.
Di rumah Ubi kami berbagi kamar. Ada yang satu kamar bertiga dan ada yang satu kamar berdua. Sedangkan Mbak Indah Tri Lestari, keponakan Pak Nadjib, tidurnya di kamar bawah. Terkadang dia tidur menemani Mbah Kholifah, ibunda Pak Nadjib, atau Mbah Maskufah, ibunda Bu Luluk, jika keduanya berkunjung ke rumah Ubi.
Walaupun kami di sana memiliki kamar, terkadang ada juga yang memilih untuk tidur di luar, di depan kamar, di ruangan kosong yang berisi rak buku dan TV. Karena suasana di luar lebih dingin dan mudah untuk bangun pagi. Saya sendiri memilih untuk tidur di kamar dengan menyalakan kipas angin bersama salah satu teman kamar yaitu Mbak Laudza.
Kami di sana juga mendapatkan tugas masing-masing. Ada yang bagian mencuci, memasak, menyetrika, menyapu halaman depan, menyiram bunga, menyapu rumah dalam dan mengepel. Semua pasti mendapatkan tugas dan tanggung jawab untuk mengurus rumah. Karena kita semua harus saling bekerja sama dan saling membantu dalam pekerjaan rumah. Tidak hanya tugas inti atau reguler itu, kami juga bergantian membersihkan kamar mandi yang biasa kami gunakan.
Untuk makan kami diajarkan hidup sederhana: makan yang ada dan tidak boleh membuang-buang makanan. Makan tahu tempe, ikan laut, ikan lele, ayam, dan semua makanan yang sudah dimasakkan oleh Bu Luluk yang dibantu oleh mbak-mbak. Setelah makan, kami diharuskan untuk mencuci piring masing-masing. Ketika ada piring atau wajan yang kotor di wastafel diminta kesadarannya untuk membantu mencucinya, agar tidak menumpuk dan menjadi kotor.
Di rumah Ubi kami diajarkan untuk selalu rapi dan bersih. Tidak boleh ada cucian yang menumpuk. Semua pekerjaan harus segera dikerjakan, tanpa menundanya. Kami harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk membersihkan meskipun kami juga memiliki kesibukan kuliah atau pekerjaan.
Tak Boleh Tidur setelah Subuh
Setiap Subuh kami harus salat berjemaah di ruang tamu bersama Pak Nadjib dan Bu Luluk. Terkadang, jika kami masih belum bangun, Pak Nadjib datang untuk membangunkan kami. Sering juga beliau berkata bahwa waktunya salat Subuh sudah tiba. Saya juga sering melihat Pak Nadjib bangun lebih awal sebelum Subuh untuk salat Tahajud di ruang tamu, kemudian membuka laptop.
Setelah salat Subuh kami ngaji tafsir bersama. Setiap anak membacakan satu atau dua ayat dan menerjemahkan artinya per kata. Lalu Pak Nadjib menjelaskan makna dari terjemahan tersebut. Kami juga sempat dilatih untuk bisa berbicara dengan menyampaikan sambutan, ceramah, atau kuliah (kuliah lima menit) bergantian. Satu per satu kami mendapat giliran.
Untuk yang sedang haid juga harus bangun pagi dan tetap mengikuti ngaji tafsir Al-Quran bersama yang lain. Setelah salat Subuh kami tidak dibolehkan tidur kembali. Jadi harus melakukan suatu kegiatan agar tidak mengantuk. Bisa mengerjakan tugas rumah seperti menyapu, mencuci, atau tugas kuliah. Atau mungkin membaca Al-Quran sendiri. Pada intinya kami dibiasakan untuk tidak tidur setelah salat Subuh.
Setelah itu kami melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang bersiap untuk berangkat kuliah atau kerja pagi. Mereka yang di rumah melakukan kegiatan sendiri. Bisa melihat TV, mengerjakan tugas kuliah, membaca buku, atau hanya bersantai dan bermain HP untuk menunggu jam kuliah.
Kami juga bergantian mengantar Bu Luluk berangkat kerja ke TK Aisyiyah 2 di Jalan Gadung Surabaya menggunakan sepeda motor. Begitu juga siapa saja yang sudah berada di rumah Ubi diminta tolong ke TK untuk menjemput Bu Luluk.
Sebelum berangkat kerja, kuliah, atau keluar ke mana saja kami harus berpamitan dan bersalaman kepada Pak Nadjib atau Bu Luluk untuk memberi kabar kepergian itu. Begitu juga memberikan kabar melalui WhatsApp group ketika pulang malam dan tidak bisa ikut mengaji anak-anak di rumah. Sehingga teman-teman dan Bu Luluk mengetahui siapa saja yang bisa mengajar ngaji anak-anak di Rumah Ubi.
Bu Luluk juga sering kali meminta kami untuk membawa bekal dari rumah, supaya tidak mengeluarkan uang untuk membeli makan siang di luar. Terkadang kami juga membungkus nasi dalam sebuah tempat makan untuk dibawa ke kampus.
Mengajar Ngaji Anak Tetangga
Sepulang kuliah di sore atau siang hari, biasanya saya tidur atau beristirahat mandi dan bersiap salat Magrib berjemaah. Kami berjemaah dengan anak-anak kampung yang ngaji di Rumah Ubi, juga dengan Bu Luluk, mbak-mbak, dan Pak Nadjib jika memang sudah di rumah.
Setelah salat Magrib berjamaah, saya mengajar anak-anak mengaji Tilawati atau Al-Quran. Mulai dari usia empat tahun hingga usia 12 tahun, laki-laki maupun perempuan. Kegiatan ini biasanya berlangsung hingga waktu shalat Isya.
Malamnya kami bebas melakukan kegiatan masing-masing. Biasanya saya mengerjakan tugas kuliah dan belajar. Terkadang jika di hari libur kami meminta izin kepada Pak Nadjib dan Bu Luluk untuk pergi keluar bersama dengan mbak-mbak, sekadar makan di luar dan quality time bersama se-Rumah Ubi, supaya lebih dekat satu sama lain. Atau kadang kami hanya makan bersama di rumah sambil menonton televisi.
Pak Nadjib juga terkadang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk ikut kegiatan-kegiatan di luar seperti mengisi pengajian atau pentas seni di beberapa kota. Jadi setelah Subuh biasanya Pak Nadjib menanyakan siapa saja yang memiliki waktu luang dan ingin ikut mendampingi kegiatan di luar.
Tujuannya agar kami bisa mengikuti secara langsung, sehingga bisa ikut merasakan dan memiliki pengalaman selama kegiatan itu. Bahkan kami juga sering mendampingi Bu Luluk dan Pak Nadjib menjual buku di berbagai event.
Pengalaman Unik
Kebersamaan kami berlima di sana tidak berjalan lama. Seiring berjalannya waktu ada mbak yang menikah dan keluar dari rumah Ubi lalu diganti dengan teman lainnya. Tahun 2018 misalnya, Mbak Amaliyah dan Mbak Saila El-Adzkiya’ menikah. Keduanya diganti oleh Elvira Nur Adelia dan Ratna Aprilia, sehingga kami bergantian teman kamar dan tugas.
Saya sendiri tidak bisa tinggal di rumah Ubi lebih lama, hanya sampai semester V. Saya tidak bisa menjadi lulusan yang seperti Mbak Amaliyah dan Mbak Saila El-Adzkiya’ yang menemukan pendamping hidupnya sebelum meninggalkan rumah Ubi. Saya memutuskan kembali ke rumah dan menjalankan kuliah dengan perjalanan dari Menganti ke Ubaya. Perjalanan yang cukup jauh dan membutuhkan waktu kurang lebih selama satu jam.
Keputusan kembali ke rumah ini saya ambil, karena ingin mengisi waktu lebih lama bersama dengan orangtua, keluarga, dan kucing. Karena saat SMP dan SMA sudah mondok sehingga waktu bersama keluarga memang terasa kurang rasanya.
Nah, dalam pergantian penghuni itu, biasanya kami yang lebih tua atau sudah bekerja, biasanya diberi tugas untuk membantu Bu Luluk memasak di dapur. Tujuannya mengajarkan kami agar bisa memasak untuk persiapan kehidupan rumah tangga nanti. Untuk yang masih baru diberikan tugas yang tidak terlalu berat sehingga memiliki waktu yang cukup untuk bisa membagi tugas kuliah dan rumah, supaya lebih mudah untuk beradaptasi dengan kehidupan tersebut.
Pengalaman hidup di bulan Ramadan di rumah Ubi juga sangat berkesan. Di bulan suci itu, kami juga diajarkan untuk saling peduli pada tetangga. Biasanya kegiatan ini diwujudkan dengan membagikan kurma dan makanan kotak ke tetangga. Kegiatan ini selalu dilakukan oleh Pak Nadjib dan Bu Luluk setiap tahun. Kami membantu untuk membungkus dan mengantarkannya.
Ada lagi peristiwa yang semakin membuat saya kagum pada Pak Nadjib dan Bu Luluk. Suatu saat ada beberapa ibu-ibu Aisyiyah dari Lamongan yang datang ke rumah Ubi bersama dengan enam lansia. Keenam lansia tersebut, lima wanita dan satu pria, merupakan pasien yang akan menjalani operasi katarak di RSUD Dr Soetomo Surabaya.
Ceritanya, operasi katarak itu harus ditunda sehari karena suatu hal. Karena itu mereka membutuhkan tempat bermalam. Maka Pak Nadjib dan Bu Luluk yang mendapat informasi itu langsung menawarkan bantuan untuk menampung mereka bermalam satu hari di rumah Ubi. Sungguh ini sebuah amal yang patut diteladani.
Yang lucu, salah satu anggota Aisyiyah tersebut, dengan agak ragu, menyapa saya. Sepertinya dia mengenal saya. Tapi mungkin tak menyangka saya berada di sini. Demikian juga saya, sebenarnya pernah melihat wajahnya.
Tapi gak ngeh. Ternyata dia adalah mbah (jauh) saya yang rumahnya di Desa Keduyung, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Namanya Masyuroh. Kalau Lebaran biasanya diajak ayah berkunjung ke rumahnya. Saat sudah ngeh dan sadar itulah kami sedikit berbincang: menanyakan kabar keluarga dan perkuliahan saya.
Pada intinya Pak Nadjib telah memberikan banyak sekali pelajaran berharga dalam kehidupan. Mulai dari mengajarkan untuk sederhana atau low profile, sabar, saling berbagi, saling menyayangi dan menyemangati, saling membantu, mandiri, dan menjadi pribadi tangguh.
Semua pelajaran itu menjadi kenangan manis Chissya el-Laudza yang menuliskan pesan di dinding, “Bahagia, belajar, dan romantis selama tinggal di rumah Ubi.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












