
Pelatihan barista diharapkan menumbuhkan UMKM yang mampu berdaya saing di industri kreatif, sekaligus memperkuat pilar ekonomi organisasi.
Tagar.co – Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sepanjang, Sidoarjo melalui Majelis Ekonomi, Ketenagakerjaan, dan HumHAM menggelar pelatihan barista.
Pelatihan bekerja sama dengan UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Surabaya selama 23 hari. Berlangsung mulai 15 April hingga 22 Mei 2026. Peserta diharapkan memiliki keahlian yang mumpuni.
Pelatihan barista berlangsung di Aula Siti Walidah PCA Sepanjang diikuti oleh 16 peserta. Terdiri kader ibu-ibu Aisyiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), perwakilan ranting se-Kecamatan Taman.
Wakil Ketua Koordinator Bidang Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan dan Humham PCA Sepanjang, Diana, menjelaskan, pelatihan barista ini merupakan kali ketiga. Telah mendapatkan kepercayaan program Mobile Training Unit (MTU) dari BLK Surabaya.
Sebelumnya kerja sama ini telah sukses melahirkan kemandirian ekonomi melalui pelatihan roti, kue, dan tata rias muslim.
“Harapan kami, setiap pelatihan memberikan bekal nyata agar peserta mandiri secara ekonomi. Sebagai bukti, alumni pelatihan roti kini telah mengelola Katering Bu Eka yang melayani kebutuhan konsumsi internal PCA Sepanjang. Begitu juga dengan tim tata rias yang kini sudah mampu menangani berbagai event seperti wisuda dan perlombaan,” ujar Diana, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan kegiatan ini juga menjadi sarana dakwah. Dengan merangkul masyarakat luas yang belum mengenal Muhammadiyah-Aisyiyah, mereka dapat merasakan langsung manfaat organisasi dan diharapkan dapat berkontribusi sebagai kader di masa depan.
“Melalui pelatihan barista ini, PCA Sepanjang berharap akan tumbuh UMKM baru di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah yang mampu berdaya saing di industri kreatif, sekaligus memperkuat pilar ekonomi organisasi,” ungkapnya.

Racikan Pas
Dalam dunia kopi spesialis (specialty coffee), presisi adalah kunci utama di balik secangkir minuman yang sempurna.
Instruktur Pelatihan Barista, Eka Wahyu, menuturkan, meracik kopi dengan mesin espresso bukan sekadar menyeduh, melainkan sebuah proses teknis yang menggabungkan ketelitian alat, kualitas bahan, dan kemahiran tangan.
Menurut Eka, langkah pertama yang krusial dimulai dari persiapan alat dan bahan yang higienis serta lengkap. Barista diwajibkan menggunakan apron dan hand glove sebelum menyentuh komponen mesin seperti grinder, portafilter, hingga alat distribusi seperti WDT (Weiss Distribution Technique).
Proses dimulai dengan menimbang biji kopi arabica seberat 18 gram secara akurat menggunakan timbangan (scale). Setelah digiling, bubuk kopi dimasukkan ke dalam portafilter dan diratakan menggunakan WDT untuk memecah gumpalan, disusul dengan penggunaan distributor tamper dan proses tamping yang solid.
“Sebelum memasang portafilter ke mesin, pastikan untuk melakukan flushing terlebih dahulu,” tegas Eka.
Hal ini bertujuan untuk memastikan suhu kepala grup (group head) stabil dan bersih dari sisa kopi sebelumnya.
Suhu air memegang peran vital dalam menentukan profil rasa. Meskipun setiap mesin memiliki standar operasional (SOP) pabrik yang berbeda, Eka menekankan suhu ideal rata-rata berada di rentang 90°C hingga 98°C.
Untuk menu populer seperti Coffee Latte, komposisi standar yang disarankan terdiri dari, 1 Shot Espresso sebagai dasar. 175 – 235 ml Steam Milk (menyesuaikan ukuran gelas).
Microfoam halus yang kemudian dibentuk menjadi latte art oleh tangan kreatif barista.
Selain teknik, pemahaman akan bahan baku juga menjadi fokus pelatihan. Di Indonesia, barista setidaknya harus mengenal empat jenis kopi utama yaitu arabica, robusta, excelsa, dan liberika. Setiap jenis memiliki karakteristik unik yang akan bereaksi berbeda terhadap suhu dan tekanan mesin espresso.
Eka Wahyu menutup panduannya dengan mengingatkan pentingnya kebersihan alat paska penggunaan. “Jangan lupa flushing setelah digunakan dan buang ampas kopi ke dalam knock box agar mesin tetap awet dan rasa kopi selanjutnya tidak terkontaminasi,” tegasnya.
Program ini disambut antusias oleh para peserta yang datang dengan latar belakang berbeda. Tia Aulia, salah satu peserta yang sebelumnya sempat bekerja di kafe, mengaku mendapatkan banyak ilmu teknis baru yang lebih mendalam dari instruktur BLK.
“Rencana saya ke depan, insyaallah ingin membuka usaha sendiri agar bisa menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang belum bekerja,” tutur Tia.
Senada disampaikan Achmad Fatich Mubarok mengaku memulai pelatihan ini benar-benar dari nol. “Awalnya saya hanya tahu cara membuat kopi biasa, ternyata di sini ilmunya sangat banyak. Selain dapat ilmu, saya senang karena dapat banyak teman untuk berbagi pengalaman. Semoga ilmu ini bisa menjadi jalan rezeki bagi kami semua,” pungkasnya. (#)
Jurnalis M. Kholid Penyunting Sugeng Purwanto












